Terima Ketua Parlemen Korsel, Puan Bahas Kerja Sama Budaya-Pendidikan

1 week ago 9

Jakarta -

Ketua DPR RI Puan Maharani bertemu dengan Ketua Majelis Nasional Republik Korea Woo Won-Shik di Gedung DPR, Jakarta, hari ini. Dalam pertemuan ini, Puan membahas isu kerja sama ekonomi dan geopolitik, serta menyinggung popularitas budaya Korea di Indonesia.

Menurutnya, kerja sama sosial budaya RI-Korsel semakin merekatkan hubungan kedua negara sekaligus mendukung upaya formal yang dilakukan eksekutif dan legislatif.

"Melalui interaksi budaya, hubungan antar masyarakat tumbuh secara alami, memperkuat saling pengertian, dan membangun ikatan emosional," kata Puan dalam keterangan tertulis, tertulis, Kamis (22/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Puan juga berbicara soal kesamaan nilai sosial Indonesia dan Korea, seperti semangat gotong royong di Indonesia yang sama dengan sangbusangjo di Korea.

"Semangat kerja bersama 'gotong royong' di Indonesia dan 'sangbusangjo' di Korea merupakan fondasi penting bagi eratnya hubungan antar masyarakat dan kolaborasi lintas komunitas," imbuhnya.

Apresiasi Penghargaan bagi Pekerja Migran Indonesia

Dalam pertemuan ini, Puan mengapresiasi atas penghargaan bagi Pekerja Migran Indonesia, Sugianto, dari Pemerintah Korea Selatan.

Dalam sambutannya, Puan juga mengapresiasi atas penghargaan yang diberikan Korea Selatan ke Pekerja Migran Indonesia (PMI), Sugianto (31). PMI asal Indramayu itu bekerja sebagai nelayan di negeri ginseng tersebut.

Sugianto mendapat penghargaan atas aksinya menyelamatkan para lanjut usia (lansia) dari kebakaran hutan yang mengancam permukiman penduduk di Desa Uiseong, Yeongdeok, Gyeongsang Utara, pada Maret 2025.

Warga setempat pun memuji aksi Sugianto yang berlari bolak balik untuk mengevakuasi lansia saat kebakaran hutan mendekati permukiman. Ia disebut sebagai 'pahlawan tersembunyi' di tengah krisis kebakaran hutan hebat di Korsel.

Penghargaan untuk Sugianto diserahkan langsung oleh Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung di Seoul pada Jumat (2/1). Ia juga memberikan Visa F-2 untuk Sugianto, yakni visa residensi jangka panjang untuk orang warga negara asing yang ingin menetap di Korea Selatan.

Pemerintah Korea Selatan juga memberikan izin tinggal untuk periode yang lebih lama dari visa pekerja, dan membuka jalan untuk status penduduk tetap (F-5) untuk Sugianto.

"Yang Mulia, izinkan saya juga menyampaikan apresiasi atas penghargaan yang diberikan Presiden Republik Korea kepada Bapak Sugianto, seorang Warga Negara Indonesia atas aksi kemanusiaannya membantu warga lanjut usia yang terdampak musibah kebakaran hutan di Korea Selatan," ungkap Puan.

"Tindakan tersebut mencerminkan kepedulian, keberanian, dan semangat gotong royong yang menjadi nilai luhur masyarakat Indonesia dan diapresiasi oleh masyarakat Korea," lanjutnya.

Menanggapi pernyataan Puan, Ketua Parlemen Korsel Woo Won-Shik terharu dan hormat atas aksi kepahlawanan Sugianto.

Soroti Kerja Sama Pendidikan RI-Korsel

Pada kesempatan ini, Puan juga membahas kerja sama di bidang pendidikan RI-Korsel. Menurutnya, kerja sama ini perlu terus didorong, khususnya dalam hal penguatan beasiswa dua arah, riset bersama, serta pertukaran dosen dan mahasiswa.

"Kami juga memandang penguatan program bahasa, baik Bahasa Indonesia di Korea maupun Bahasa Korea di Indonesia, sebagai sarana melahirkan duta budaya dan memperluas pemahaman lintas generasi," tutur Puan.

Sejalan dengan kerja sama budaya, Puan juga mendorong peningkatan program kepemudaan, jejaring kreatif, dan kolaborasi lintas komunitas untuk memperkuat fondasi hubungan kedua negara.

"Kami meyakini bahwa pariwisata dan ekonomi kreatif semakin relevan bagi hubungan antar masyarakat kedua negara. Saya yakin kampanye pariwisata bersama dan peningkatan konektivitas akan sangat bermanfaat dalam hal ini," jelasnya.

Usai bilateral meeting, Puan mengajak Ketua Majelis Nasional Republik Korea, Woo Won-Shik beserta rombongan untuk menikmati jamuan makan siang. Setelahnya, Woo Won-Shik juga diajak melakukan tour building di Gedung DPR.

Puan menjelaskan Gedung Kura-Kura yang menjadi tempat pertemuan dibangun pada tahun 1960-an sebagai bagian dari penyelenggaraan Conference of the New Emerging Forces (CONEFO).

"Gedung ini sebuah gagasan strategis Presiden pertama Indonesia, Presiden Soekarno, yang kebetulan juga adalah kakek saya," papar Puan.

Puan mengatakan sejak awal Gedung Kura-Kura DPR dirancang sebagai simbol aspirasi negara-negara berkembang untuk memiliki suara dan peran yang setara dalam tatanan global.

"Hingga hari ini, semangat tersebut tetap kami jaga dalam pelaksanaan fungsi parlemen dan diplomasi Indonesia," tegas Puan.

Di akhir pertemuan, Puan mengapresiasi kepada Ketua Parlemen Korea Selatan atas kunjungannya ke Gedung DPR.

"Terima kasih atas kunjungan Yang Mulia ke DPR RI, dan atas dialog yang hangat dan produktif pada hari ini. Gamsahabnida!" pungkasnya.

Sebagai informasi, pada pertemuan tersebut, Puan turut didampingi oleh Wakil Ketua Komisi XI DPR, Dolfie Othniel Frederic Palit, Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris, Anggota Komisi XII DPR Shanty Alda Nathalia, serta sejumlah anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR seperti Gilang Dhielafararez, Stevano Rizki Adranacus, dan Pinka Hapsari.

(akd/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |