Tanda Kiamat Muncul di Samudra Atlantik, Tampak Sampai Indonesia

5 hours ago 1
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah tren pemanasan global yang membuat hampir seluruh wilayah laut dan daratan makin panas, muncul satu fenomena aneh dan mengkhawatirkan. Sebuah gumpalan air dingin misterius terbentuk di dasar Samudra Atlantik, tepatnya di sebelah tenggara Greenland.

Menurut penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Geophysical Research Letters, gumpalan ini bukan sekadar fenomena kebetulan, melainkan sinyal bahaya bahwa sistem arus laut raksasa yang mengatur iklim dunia sedang melemah secara signifikan.

Apa gumpalan dingin itu?

Selama puluhan tahun, para ilmuwan bingung alasan sebuah wilayah di Samudra Atlantik justru makin dingin saat bagian Bumi lain terus memanas. Awalnya diduga penyebabnya adalah pergeseran pola angin atau pengaruh atmosfer yang membuang panas dari permukaan laut. Namun, analisis data suhu dari tahun 1995 hingga 2024 menunjukkan fakta lain. Ada penurunan suhu hingga kedalaman 1.000 meter di bawah permukaan, jauh lebih dalam daripada sekadar pengaruh angin permukaan.

"Kehilangan panas di permukaan hanya menjelaskan sebagian kecil dari fenomena ini. Data membuktikan penyebab utamanya berasal dari perubahan arus laut, bukan udara," ujar pemimpin penelitian Stefan Rahmstorf dari Institut Dampak Iklim Potsdam, Jerman.

Fenomena ini ternyata menjadi gejala dari kerusakan AMOC (Atlantic Meridional Overturning Circulation) yaitu sistem sirkulasi laut raksasa yang berfungsi seperti "jantung peredaran panas" bumi.

Peran Vital AMOC Bumi

AMOC bekerja dengan cara mengalirkan air hangat dari wilayah tropis menuju Atlantik Utara. Setelah mendingin dan menjadi lebih padat, air tersebut tenggelam ke dasar laut dan mengalir kembali ke arah selatan, mengatur keseimbangan suhu serta pola hujan di seluruh dunia. Tanpa AMOC yang stabil, iklim global akan kacau balau.

Jika arus ini terus melemah hingga runtuh sepenuhnya, dampaknya akan terasa di berbagai penjuru:

  • Eropa: Suhu musim dingin bisa turun drastis menjadi jauh lebih dingin dari normal
  • Pesisir Timur AS: Permukaan air laut naik tajam dan mengancam pemukiman pesisir
  • Wilayah Tropis: Pola hujan berubah total, mengganggu musim tanam dan pasokan pangan

Dampaknya Terasa di Indonesia

Meskipun lokasinya ribuan kilometer jauhnya, pelemahan AMOC memiliki efek berantai yang menjangkau kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Menurut pemodelan iklim terbaru, melemahnya AMOC akan menggeser Zona Konvergensi Antar Tropis (IKCZ), yaitu jalur utama pembawa hujan di khatulistiwa, bergeser ke selatan. Akibatnya Indonesia diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang.

Selain itu, pola curah hujan menjadi tak menentu, meningkatkan risiko gagal panen dan kekeringan di wilayah pertanian utama. Perubahan sirkulasi laut juga memengaruhi Arus Lintas Indonesia (ITF), yang mengatur distribusi suhu dan nutrisi bagi ekosistem laut lokal

"Perubahan iklim di Atlantik bukan masalah lokal. Ia memicu gelombang atmosfer yang merambat ke Samudra Hindia dan Pasifik, mengubah pola angin serta hujan di wilayah kita," jelas Rahmstorf.

Tanda "Kiamat" Perubahan Iklim

Para ilmuwan menegaskan bahwa saat ini AMOC belum runtuh total, tetapi data menunjukkan tren pelemahan yang konsisten sejak pertengahan abad ke-20. Jika emisi gas rumah kaca terus tinggi, model memprediksi risiko keruntuhan bisa meningkat tajam mulai tahun 2055 hingga akhir abad ini.

"Ini bukan berita akhir, tapi peringatan keras. Gumpalan dingin itu adalah tanda bahwa sistem pengatur iklim kita sedang tertekan berat," ujar David Thornalley dari University College London. "Masih ada kesempatan untuk mengurangi emisi dan memperlambat kerusakan ini, tapi kita harus bertindak sekarang."

(dem/dem)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |