Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
20 July 2026 21:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas dalam beberapa waktu belakangan. Serangan kedua negara terus berlanjut hingga akhir pekan lalu, Minggu (19/7/2026), memperkecil harapan bahwa konflik tersebut akan segera berakhir.
Militer AS kembali menggempur Iran untuk malam kesembilan secara beruntun.
Komando Pusat AS di Timur Tengah (CENTCOM) menyebut serangan terbaru menyasar pusat komando militer, sistem pertahanan udara, lokasi pengawasan pantai, kemampuan maritim, tempat peluncuran rudal dan pesawat nirawak, serta jaringan komunikasi Iran.
Media Iran melaporkan ledakan terdengar di sejumlah kota, termasuk Tabriz, Chabahar, Konarak, Bandar Mahshahr, dan Bandar Imam Khomeini. AS mengatakan serangan tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Iran pun kembali membalas. Sirene peringatan serangan berbunyi di Bahrain pada Senin pagi (20/7/2026) sementara sepanjang akhir pekan lalu Teheran melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Teluk. Iran juga dilaporkan menyerang aset militer AS di Kuwait, sedangkan Kuwait dan Bahrain mencegat sejumlah rudal serta pesawat nirawak Iran.
Pertempuran terbaru juga menambah jumlah korban dari pihak AS. Dua tentara AS tewas dalam serangan Iran di Yordania pada 17 Juli, sedangkan seorang tentara lainnya tewas di Irak sehari kemudian ketika menangani sisa bahan peledak dari pesawat nirawak Iran yang ditembak jatuh.
Serangan yang terus berlanjut membuat Presiden AS Donald Trump menghadapi masalah besar. Ia belum memiliki jalan keluar yang jelas dari perang, sementara dukungan masyarakat AS terhadap konflik tersebut terus merosot.
Mengutip The Economist, kondisi itu bahkan menjadi bahan sindiran di Washington.
Sebuah piala emas bertuliskan "Trofi Partisipasi Perang Iran" dipasang tidak jauh dari monumen Martin Luther King.
Piala buatan kelompok anonim itu menyindir Trump yang dinilai berani membawa AS masuk ke perang, tetapi belum menunjukkan hasil yang jelas maupun jalan untuk keluar.
Maura Flint, seorang pemandu wisata lokal, menilai sindiran tersebut lucu. Namun, situasi sebenarnya jauh dari bahan tertawaan. Menurutnya, Trump tidak memiliki strategi yang jelas untuk mengakhiri perang.
Kekhawatiran serupa dirasakan masyarakat AS. Survei Reuters/Ipsos menunjukkan sekitar empat dari lima warga memperkirakan perang akan berlangsung lama.
Jajak pendapat Economist/YouGov juga mencatat hampir separuh warga AS memperkirakan konflik akan berjalan setidaknya satu tahun. Dukungan bersih terhadap keputusan Trump menyerang Iran kini berada di minus 30%.
Perang Vietnam membutuhkan waktu enam tahun hingga menjadi sangat dibenci oleh masyarakat AS. Sementara itu, perang Iran sudah mencapai tingkat ketidakpopuleran yang sama hanya dalam waktu enam bulan.
Perang Iran Makin Tidak Populer
Larry Sabato dari University of Virginia menilai hal yang paling mengejutkan bukan hanya besarnya penolakan terhadap perang, tetapi juga betapa cepatnya sentimen tersebut muncul.
Menurutnya, perang Iran merupakan konflik paling tidak populer di kalangan masyarakat AS sejak jajak pendapat mulai dilakukan. Penolakan bahkan sudah terlihat sejak hari pertama perang yakni pada 28 Februari 2026.
Semakin lama perang berlangsung, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung. Salah satu biaya politiknya adalah turunnya dukungan terhadap Trump dan Partai Republik menjelang pemilu sela.
Dukungan masyarakat terhadap perang yang dimulai atas pilihan pemerintah biasanya tinggi pada awalnya, kemudian perlahan menurun.
Ketika AS pertama kali menyerang Taliban di Afghanistan pada 2001, misalnya, hampir 90% warga AS mendukung langkah tersebut.
Presiden George W. Bush ketika itu memiliki alasan yang mudah dipahami oleh masyarakat AS. Taliban melindungi kelompok teroris yang menerbangkan pesawat berisi warga sipil ke menera World Trade Center di New York pada 11 September 2001 yang kemudian dikenal sebagai peristiwa 911.
Menurut Gallup, butuh waktu 13 tahun sampai dukungan terhadap invasi Afghanistan turun ke bawah 50%. Pada saat itu, lebih dari 2.000 warga AS telah tewas dan sekitar 20.000 lainnya terluka.
Jumlah korban dari pihak AS dalam perang Iran sejauh ini memang jauh lebih sedikit, yakni 17 orang. Namun, perang tersebut dengan cepat memengaruhi isi dompet masyarakat AS melalui kenaikan harga energi.
Harga Minyak Mulai Membebani Warga AS
Sebelum Trump menyerang Iran, Selat Hormuz masih terbuka. Kini, jalur 20% untuk perdagangan minyak dunia tersebut tidak lagi bisa dilalui secara normal.
Setelah berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi kendali Iran atas selat tersebut, Trump mengklaim aliran minyak justru lebih deras dari sebelumnya berkat kekuatan militer AS.
Namun, data pasar menunjukkan kondisi yang berbeda.
Harga minyak mentah Brent memang sempat bergerak naik dan turun. Akan tetapi, kenaikannya dalam beberapa waktu terakhir mulai menjadi masalah bagi Partai Republik.
Sejak awal Juli, harga Brent telah melonjak dari sekitar US$72 menjadi lebih dari US$90 per barel.
Menurut data Refinitiv hingga pukul 09.45 WIB, harga minyak Brent naik 2,51% ke US$90,31 per barel, dari posisi penutupan Jumat (17/7/2026) sebesar US$88,10 per barel.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 2,25% menjadi US$84,35 per barel, dari sebelumnya US$82,49 per barel.
Harga bensin di AS juga kini mendekati US$4 per galon, naik dari sekitar US$3 sebelum perang dimulai. Kenaikan ini langsung dirasakan oleh masyarakat saat mengisi bahan bakar kendaraan.
Perang Vietnam, yang melibatkan pasukan darat AS dalam jumlah besar, dengan cepat dianggap sebagai masalah paling penting yang dihadapi negara tersebut.
Masyarakat AS belum menempatkan perang Iran sebagai masalah terbesar. Namun, ketika ditanya mengenai isu yang paling mereka khawatirkan, banyak warga menyebut tingginya biaya hidup dan buruknya kepemimpinan.
Karena itu, perang Iran tetap bisa menjadi masalah besar bagi Partai Republik dalam pemilu, meski jumlah korban jiwa warga AS masih relatif terbatas.
Penolakan terbesar datang dari pemilih Partai Demokrat. Tingkat persetujuan bersih mereka terhadap perang berada di minus 84%.
Di kalangan pemilih independen, tingkat persetujuan bersih juga sangat rendah, yakni minus 52%.
Kelompok besar yang masih mendukung perang adalah pendukung Partai Republik dari kubu Make America Great Again atau MAGA. Tingkat persetujuan bersih di kelompok ini masih mencapai 72%.
Namun, dukungan dari basis utama Trump itu juga mulai melemah.
Survei Washington Post/Ipsos menunjukkan untuk pertama kalinya lebih dari separuh pendukung Trump hanya menyatakan "cukup setuju" terhadap cara sang presiden menjalankan pekerjaannya, bukan "sangat setuju".
Perubahan yang lebih tajam terlihat di kalangan pendukung Partai Republik non-MAGA. Tingkat persetujuan bersih mereka terhadap perang anjlok dari positif 26% pada April menjadi minus 25% saat ini.
Biaya Perang Mulai Dipersoalkan
Politikus Partai Demokrat kini mulai menggunakan perang Iran untuk menyerang pemerintahan Trump.
Dalam sidang konfirmasi pada 14 Juli untuk Jules Hurst, calon pejabat pilihan Trump yang akan mengawasi anggaran Pentagon, senator Demokrat menuduh pemerintah mengecilkan biaya sebenarnya dari perang.
Pentagon memperkirakan biaya perang sejauh ini sekitar US$30 miliar. Angka tersebut sebagian besar berasal dari nilai amunisi yang telah digunakan dan pengeluaran bahan bakar.
Namun, Senator Michigan Elissa Slotkin memberikan perkiraan kasar yang nilainya lebih dari enam kali lipat dibandingkan angka Pentagon.
Perhitungannya turut memasukkan biaya perbaikan pangkalan militer AS serta kerugian yang dirasakan konsumen akibat perang.
Slotkin juga mengkritik hubungan bisnis Pentagon dengan sejumlah perusahaan yang memiliki keterkaitan kepentingan dengan putra-putra Trump.
Meski begitu, tidak semua politikus menganggap perang tersebut sebagai kesalahan.
Mike Lawler, anggota Kongres dari Partai Republik yang mewakili daerah pemilihan dengan persaingan ketat di Negara Bagian New York, menilai sebagian kritik Demokrat terhadap perang tidak masuk akal.
Menurutnya, Trump telah mengambil keputusan yang sulit, tetapi perlu dilakukan untuk menghilangkan ancaman program nuklir Iran dan dukungan Teheran terhadap terorisme.
Lawler mengaku tidak mengetahui berapa lama perang akan berlangsung. Namun, ia menilai pemerintah Iran tidak bisa dipercaya dan hanya memahami tekanan militer.
Lawler akan menghadapi Cait Conley, seorang veteran militer dari Partai Demokrat, dalam pemilu November.
Conley melontarkan kritik keras terhadap Trump. Menurutnya, sang presiden telah membawa AS masuk ke dalam konflik tanpa tujuan militer yang jelas dan tanpa strategi untuk keluar.
Model pemilu sela milik The Economist memperkirakan Lawler memiliki peluang 68% kehilangan kursinya pada November.
Model tersebut juga memberikan peluang 82% bagi Partai Demokrat untuk mengambil alih Dewan Perwakilan Rakyat AS. Sementara itu, peluang Demokrat merebut mayoritas Senat diperkirakan sebesar 45%.
Aaron David Miller dari Carnegie Endowment menilai kesulitan Trump untuk keluar dari perang Iran mengingatkannya pada perkataan mantan Presiden AS Lyndon Johnson mengenai Perang Vietnam.
Johnson ketika itu menggambarkan dirinya seperti seorang penumpang yang menumpang kendaraan di tengah hujan es di jalan raya Texas.
"Saya tidak bisa berlari. Saya tidak bisa bersembunyi. Saya juga tidak bisa menghentikannya," ujarnya.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google


















































