Ribuan Orang Hadiri Sidang Akbar di China, Investor Global Was-Was

3 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

05 March 2026 03:30

Jakarta, CNBC Indonesia Pemerintah China akan menggelar agenda politik tahunan terbesar yaitu "Two Sessions" (Lianghui), pada 4-12 Maret 2026. Forum politik tahunan China yang bisa menjadi penentu arah kebijakan ekonomi, fiskal, dan industri yang sekaligus memberi sinyal penting bagi pasar global.

Two Sessions adalah dua sidang besar tahunan di China yang hampir selalu menjadi perhatian investor, pelaku usaha, dan pemerintah di banyak negara.

Pada tahun ini, Two Sessions akan dimulai pada 4-12 Maret 2026, dengan sidang Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat China (Chinese People's Political Consultative Conference/CPPCC) dibuka lebih dulu pada Rabu (4/3/2026), lalu disusul sidang Kongres Rakyat Nasional China (National People's Congress/NPC) sehari setelahnya atau pada Kamis (5/3/2026).

NPC sendiri dibentuk pada 1954 dan hanya bersidang sekali dalam setahun. Tahun ini, diperkirakan hampir 3.000 delegasi dari seluruh provinsi, daerah otonom, kota setingkat provinsi, lembaga negara, hingga pejabat militer China akan berkumpul di Beijing untuk menghadiri sidang tersebut.

Meski begitu, tidak semuanya memiliki pengaruh besar. Utama nya akan tertuju pada komite tetap NPC yang beranggotakan 175 orang. Komite tetap itu saat ini dipimpin oleh Zhao Leji, yang juga merupakan anggota Komite Tetap Politbiro Partai Komunis China.

Dari pertemuan inilah pemerintah China biasanya memaparkan target pertumbuhan ekonomi, arah belanja negara, sasaran inflasi, penciptaan lapangan kerja, serta sektor-sektor yang akan diprioritaskan. 

Tahun ini perhatian pasar menjadi lebih besar karena Two Sessions juga menandai awal 15th Five-Year Plan 2026-2030 atau rencana pembangunan lima tahunan China periode 2026-2030.

Artinya, yang dibahas bukan hanya target jangka pendek setahun ini, tetapi juga arah besar ekonomi China untuk lima tahun ke depan.

Two Sessions menjadi agenda politik terbesar China setiap tahun dengan agenda:

Sidang badan penasihat nasional dimulai 4 Maret

Sidang parlemen nasional dibuka sekitar 5 Maret

Pertemuan berlangsung hingga sekitar 10-11 Maret

Periode 2-6 Maret menjadi fase pembukaan dan awal pembahasan agenda strategis negara.

Agenda paling krusial adalah penetapan arah ekonomi China untuk tahun berjalan dan beberapa tahun ke depan. Presiden Xi Jinping menjadi salah satu tokoh yang paling ditunggu kehadirannya di saat event tersebut.

Oleh Karena itu, ada beberapa hal utama yang paling ditunggu pasar dari Two Sessions China kali ini. 

1. Stimulus Fiskal dan Defisit Anggaran Untuk Membaca Arah Pertumbuhan Ekonomi China

Hal pertama yang paling ditunggu adalah seberapa besar keberanian pemerintah China membuka keran stimulus fiskal.

Ini penting karena ekonomi China masih dibayangi beberapa tantangan besar, mulai dari permintaan domestik yang belum kuat, tekanan harga yang rendah, hingga sektor properti yang masih lemah.

Hal ini terlihat pada pertumbuhan ekonomi China yang tumbuh 5% sepanjang 2025. Meski sesuai target pemerintah, tetapi laju pertumbuhan pada kuartal IV-2025 melambat menjadi 4,5% secara tahunan (year-on-year/yoy). Kondisi ini membuat pasar semakin menunggu apakah Beijing akan memberi dukungan fiskal yang lebih besar pada 2026.

Dalam situasi seperti itu, pasar ingin melihat apakah China akan lebih agresif menopang pertumbuhan lewat belanja pemerintah, insentif, dan tambahan penerbitan utang. Selain target pertumbuhan ekonomi, investor juga akan mencermati besar kecilnya defisit anggaran dan seberapa jauh pemerintah bersedia memakai instrumen fiskal untuk menjaga laju ekonomi.

Jika stimulus yang diumumkan tergolong terbatas, pasar bisa menilai pemerintah masih memilih pendekatan konservatif. Sebaliknya, jika ruang fiskal dibuka lebih lebar, itu akan dibaca sebagai sinyal bahwa Beijing merasa ekonomi masih membutuhkan dorongan tambahan.

2. Arah Dukungan ke Konsumsi Domestik

Hal berikutnya yang sangat ditunggu adalah apakah China akan memberi dukungan yang lebih nyata kepada konsumsi rumah tangga. Selama ini, pertumbuhan ekonomi China masih sangat bergantung pada investasi, manufaktur, dan ekspor. Padahal, agar pertumbuhan lebih sehat dan berkelanjutan, banyak analis menilai China perlu memperkuat belanja masyarakat di dalam negeri.

Isu ini menjadi penting karena tanpa daya beli yang membaik, pertumbuhan ekonomi China akan sulit pulih kuat dari dalam negeri.

Karena itu, pasar akan memperhatikan apakah laporan kerja pemerintah tahun ini memuat langkah-langkah yang lebih konkret, misalnya melalui dukungan pendapatan rumah tangga, penguatan jaring pengaman sosial, atau kebijakan yang bisa mengurangi beban masyarakat.

Jadi, yang dilihat bukan hanya apakah konsumsi disebut sebagai prioritas, tetapi apakah Beijing benar-benar menyiapkan kebijakan yang bisa membuat masyarakat lebih berani membelanjakan uangnya. Jika konsumsi domestik tetap lemah, maka ekonomi China akan tetap sangat bergantung pada ekspor dan investasi sebagai penopang utama pertumbuhan.

3. Nasib Sektor Properti dan Utang Daerah

Pasar juga menunggu sinyal baru terkait sektor properti dan utang pemerintah daerah. Ini penting karena properti masih menjadi salah satu sumber tekanan terbesar bagi ekonomi China. Masalah di sektor ini tidak hanya memukul developer properti, tetapi juga rumah tangga, kepercayaan konsumen, pemerintah daerah di China, dan sistem keuangan.

Ketika sektor properti melemah, harga aset ikut tertekan, masyarakat menjadi lebih berhati-hati dalam belanja, dan keuangan pemerintah daerah ikut terjepit karena selama ini banyak bergantung pada penjualan lahan.

Karena itu, kedua pertemuan penting ini akan dicermati untuk melihat apakah ada tambahan dukungan untuk menstabilkan pasar properti dan meringankan tekanan utang daerah.

Memang, banyak analis tidak berharap ada gebrakan yang sangat besar.

Namun arah kebijakan Beijing di dua area ini tetap penting, karena akan menentukan seberapa cepat ekonomi China bisa keluar dari tekanan struktural yang sudah berlangsung cukup lama. Jika sektor properti tetap lemah dan ruang fiskal daerah tetap sempit, maka pemulihan ekonomi China masih cenderung berjalan lebih lambat.

4. Pandangan pada Sektor Teknologi, Kecerdasan Buatan, dan Manufaktur

Salah satu fokus yang paling banyak dinantikan adalah dorongan ke sektor teknologi, termasuk semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), manufaktur maju, dan penguatan rantai pasok strategis. Bagi China, dorongan ke teknologi bukan hanya soal mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga soal daya saing dan ketahanan nasionalnya di tengah tekanan eksternal.

Karena itu, pasar akan melihat seberapa besar porsi perhatian pemerintah terhadap kecerdasan buatan, cip, riset, dan modernisasi industri. Jika fokus ini makin kuat, artinya Beijing ingin memastikan bahwa mesin pertumbuhan masa depannya tidak lagi hanya bertumpu pada properti dan infrastruktur, melainkan pada industri strategis dengan nilai tambah lebih tinggi.

5. Target Inflasi dan Lapangan Kerja

Hal terakhir yang juga penting untuk ditunggu adalah target inflasi dan lapangan kerja. Dua indikator ini memang terlihat teknis, tetapi sebenarnya sangat penting untuk membaca kondisi riil ekonomi China. Inflasi menunjukkan seberapa kuat permintaan di dalam negeri, sedangkan target pekerjaan menunjukkan seberapa besar fokus pemerintah pada kondisi masyarakat.

Data badan pusat statistik China (NBS) menunjukkan inflasi konsumen China (Consumer Price Index/CPI) pada Januari 2026 hanya naik 0,2% secara tahunan, sementara inflasi harga produsen (Producer Price Index/PPI) masih terkontraksi 1,4%. Angka ini memberi sinyal bahwa tekanan harga di China masih lemah dan permintaan domestik belum sepenuhnya pulih.

Jika inflasi terlalu rendah, itu bisa menandakan permintaan domestik masih lemah. Sementara jika penciptaan lapangan kerja belum cukup kuat, itu berarti pemulihan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat.

Dengan demikian, target inflasi dan lapangan kerja akan menjadi petunjuk penting apakah pemerintah China menilai ekonominya sudah cukup stabil, atau justru masih membutuhkan dorongan tambahan pada 2026.

Dampak Bagi Indonesia 

Two Sessions juga penting diperhatikan Indonesia karena China merupakan salah satu mitra dagang terbesar RI.  China masih menjadi pasar ekspor terbesar Indonesia, dengan ekspor yang didominasi antara lain oleh besi dan baja, bahan bakar mineral termasuk batu bara, serta nikel dan barang turunannya.

Oleh Karena itu, arah kebijakan ekonomi China akan sangat berpengaruh terhadap permintaan komoditas utama Indonesia, khusunya batu bara dan nikel.

CNCB INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |