Komisi X DPR rapat dengan sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) membahas skema penerimaan mahasiswa baru. Pihak Universitas Diponegoro (Undip) cerita fenomena mahasiswa dari daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T yang sulit lulus dari universitas.
Hal ini disampaikan oleh Wakil Rektor (Warek) II Bidang Sumber Daya UNDIP Semarang, Prof. Heru Susanto. Heru awalnya bicara bahwa semua kampus pada umumnya selalu menerima mahasiswa dari daerah 3T yang dikategorikan sebagai Afirmasi Pendidikan Tinggi untuk Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (ADik 3T).
"Kalau terkait penerimaan mahasiswa baru hampir semuanya sama untuk PTNBH, selalu ada penerimaan skala nasional, kemudian penerimaan secara otonom oleh perguruan tinggi masing-masing, yang berbeda tentu masing-masing perguruan tinggi memiliki ciri khas. Kami hampir sama menurut saya, PTNBH paling tidak setiap tahun terima ADik namanya, jadi afirmasi dari 3T itu banyak," kata Heru saat pemaparan di ruang rapat Komisi X DPR, kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Heru menegaskan pihaknya juga setuju untuk mengakomodasi para mahasiswa 3T terlepas dari fakta bahwa mereka terkadang kurang dalam pendidikan. Dia memastikan universitas tetap membuka diri terhadap mereka.
"Kalau tadi yang jadi pertanyaan garis bawahnya adalah bagaimana kalau penerimaan hanya berbasis kompetisi 'murni', keberpihakan pada teman-teman dari 3T, teman-teman dari yang memang secara kompetisi, suka tidak suka, diakui atau tidak diakui, memang kurang, tapi mereka adalah sama dengan kita, maka kita harus berpihak, itu kita setuju, tentu teman-teman PTN semua lakukan itu," ucap dia.
Namun, Heru mengaku kesulitan mengelola para mahasiswa 3T tersebut. Ia cerita kesulitan dalam membuat mereka lulus dari universitas.
"Tapi yang lebih penting tidak hanya menerima itu, tapi mengelola mereka, karena, tapi mohon maaf betul, kadang kita terima 100 (mahasiswa), bu, yang keluar (lulus) itu nggak ada 50 (mahasiswa), 50-nya ke mana? Nggak lulus, 'hilang' di semester II, dikontak nggak, 'hilang' di mana?" ujar dia.
Heru menyebut para mahasiswa 3T itu memang punya perilaku yang berbeda dengan mahasiswa lainnya. Karena itu, menurutnya lebih penting saat ini untuk mengelola mereka daripada terus menerima masuk ke universitas.
"Karena memang ada deviasi (perilaku menyimpang) pada saat masuk mereka dengan rata-rata mahasiswa ini, maka sebenarnya pengelolaan juga menjadi penting, tidak hanya kewajiban kita memasukkan ke perguruan tinggi, tapi juga mengelola mereka," jelasnya.
Heru juga menyebut mahasiswa 3T punya perasaan minder selama menjalani perkuliahan. Sehingga, hal tersebut yang terkadang menyulitkan dalam mengelola mereka.
"Mereka tuh punya perasaan minder ketika dengan teman-temannya 'Oh orang Jawa ternyata pinter-pinter, saya sendiri merasa nggak mampu', maka itu pengelolaan juga penting selain memasukkan sendiri. Jadi memasukkan mereka memberi afirmasi kepada mereka itu tidak selesaikan suatu persoalan secara komprehensif," tutur dia.
Saksikan Live DetikSore:
(maa/rfs)
















































