Purbaya Tiba-Tiba Bilang RI Sudah Lepas dari Kutukan Pertumbuhan 5%

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan Indonesia telah lepas dari kutukan pertumbuhan ekonomi 5%. Pemerintah kini memilih fokus menjaga defisit fiskal di bawah 3% sembari mengoptimalkan anggaran yang ada untuk mendorong pertumbuhan yang lebih cepat.

Purbaya mengatakan strategi tersebut telah terbukti efektif. Meski sempat diragukan banyak pihak, kebijakan menjaga defisit di bawah 3% justru memberikan ruang bagi pemerintah untuk memanfaatkan anggaran secara lebih optimal.

"Sekarang saya akan fokus di 3% dan mengoptimalkan uang yang ada untuk menjaga pertumbuhan yang lebih cepat. Kemarin kan berhasil tuh walaupun banyak orang menertawain tapi kan berhasil kan di bawah 3% saya bisa memanfaatkan uang," ujar Purbaya saat Konferensi Pers Indonesia Economic Outlook, Jumat (13/2/2026).

Ke depan, pemerintah tidak lagi terpaku pada dorongan belanja besar-besaran, melainkan pada kualitas belanja dan sinkronisasi kebijakan. Fokus utama diarahkan pada penghilangan hambatan struktural yang selama ini menahan laju investasi dan pertumbuhan.

"Sudah lepas dari kutukan pertumbuhan 5% ke depannya akan berfokus dengan memaksimalkan uang yang ada. Saya jadi jaga sinkronisasi sekarang yang penting kita harus bisa optimalkan dengan debottlenecking perbaikan investasi untuk mesin swasta mesin pemerintah mesin pertumbuhan ekonomi swasta mungkin bisa mendukung pertumbuhan ekonomi kita," tuturnya.

Menurut Purbaya, mesin pertumbuhan ekonomi ke depan akan lebih ditopang oleh sektor swasta, dengan pemerintah berperan sebagai fasilitator melalui perbaikan iklim investasi dan koordinasi lintas kebijakan. Sinkronisasi antara mesin pertumbuhan swasta dan pemerintah dinilai krusial agar momentum ekspansi dapat berkelanjutan.

Terkait target pertumbuhan ekonomi yang lebih agresif, seperti 8%, Purbaya menegaskan pemerintah akan tetap berhitung secara cermat sebelum menambah ruang fiskal. Ia menilai, tambahan anggaran belum tentu diperlukan dalam waktu dekat.

"Nanti ke depan kalau mau 8% misalnya kita evaluasi apakah kita perlu uang tambahan atau tidak. Kalau saya sih insting saya tidak karena kita sudah menjalankan investasi yang terbesar di sini dalam waktu tidak terlalu lama jadi saya sudah ada beberapa indikasi seperti ini," pungkasnya.

Ia menambahkan, selama hasil investasi mulai terlihat dan pertumbuhan tetap terjaga, kebijakan fiskal akan tetap dikendalikan secara disiplin. Pemerintah belum melihat kebutuhan untuk melampaui batas defisit 3% terhadap PDB.

Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap pertumbuhan ekonomi dapat terus dipercepat tanpa mengorbankan stabilitas fiskal dalam jangka menengah dan panjang.

(wur)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |