Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menggencarkan operasi modifikasi cuaca (OMC) atau hujan buatan hingga dua kali dalam sepekan. Langkah ini dilakukan menyusul prediksi puncak El Nino, yang diperkirakan berlangsung hingga akhir September atau awal Oktober 2026.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan keputusan tersebut diambil setelah menerima laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta yang berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG.
"Dari data yang ada, puncak El Nino itu akan panjang, mungkin salah satu yang terpanjang dibandingkan tahun 2023. Puncaknya kurang lebih nanti akhir September atau minggu pertama-kedua Oktober baru akan ada hujan," kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (5/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pramono mengakui tantangan terbesar dalam pelaksanaan OMC adalah minimnya awan yang bisa dimodifikasi. Meski begitu, ia menyebut hujan yang turun pada Selasa (4/8) malam menjadi keberuntungan.
"Problemnya adalah ada kemungkinan awan itu kecil. Tetapi saya sudah memerintahkan dan kita sudah mempersiapkan. Kalau tadi malam itu termasuk rezeki anak saleh, nggak ada awan tapi bisa dimodifikasi," ujarnya.
Karena itu, Pramono telah menyetujui pelaksanaan OMC secara rutin setiap pekan. "Jadi intinya tadi saya sudah memberikan persetujuan untuk kalau bisa setiap minggu itu satu-dua kali dibuat hujan buatan atau modifikasi cuaca. Karena ini akan berlangsung lama," lanjutnya.
Selain menggencarkan OMC, Pemprov DKI juga menyiapkan sejumlah langkah mitigasi menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan. Menurutnya, terdapat dua fokus utama yang menjadi perhatian pemerintah daerah, yakni menjaga ketersediaan air bersih dan mengantisipasi kebakaran.
Ia mengatakan pemerintah kota di seluruh wilayah Jakarta akan mengampanyekan gerakan 'Jaga Jakarta' yang berfokus pada pencegahan kebakaran dan kesiapsiagaan menghadapi kekeringan.
"Maka pemerintah DKI Jakarta, wali kota akan campaign tentang Jaga Jakarta dalam dua hal. Satu kebakaran, yang satu adalah penyediaan air bersih pasti mengalami hambatan," tuturnya.
Pramono juga meminta setiap rukun warga (RW) mulai mempersiapkan alat pemadam api ringan (APAR) untuk mengantisipasi meningkatnya risiko kebakaran selama musim kemarau.
"Saya minta untuk setiap RW persiapan APAR dipersiapkan dari sekarang karena ini pasti cepat atau lambat, karena suasananya kering dan juga kemungkinan untuk terjadi ISPA," imbuhnya.
(bel/maa)


















































