Jakarta, CNBC Indonesia - CEO Meta Platforms, Mark Zuckerberg, menyerukan agar pemerintah Amerika Serikat (AS) memangkas regulasi dan hambatan bagi pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berbasis sumber terbuka (open-source). Langkah ini dinilai krusial agar perusahaan teknologi AS mampu bersaing ketat dengan rival-rivalnya dari China.
Pernyataan tersebut disampaikan bertepatan dengan peluncuran model bobot terbuka (open-weight) terbaru Meta, Muse Glimmer, pada pekan ini. Meta juga memastikan akan merilis lebih banyak model AI serupa dalam waktu dekat.
Berbeda dari model AI raksasa pada umumnya, Muse Glimmer berukuran lebih ringkas. Model ini dirancang khusus untuk menjalankan tugas-tugas otomatis (agentic tasks) langsung di komputer Mac atau PC dengan hanya menggunakan satu kartu grafis (GPU). Langkah ini diambil demi menggaet pasar yang menginginkan sistem AI lokal tanpa harus bergantung pada server awan (cloud).
"Kami memiliki model-model yang jauh lebih besar yang akan segera meluncur," ujar Zuckerberg dalam unggahan video yang melengkapi esai 14 halamannya berjudul "The Future is for Everyone", dikutip dari Reuters, Selasa (11/8/2026).
Dalam esainya, Zuckerberg menegaskan pentingnya mendemokrasikan teknologi AI alih-alih membiarkannya dikuasai oleh segelintir perusahaan raksasa. "Gagasan bahwa AI begitu berbahaya sehingga satu-satunya jalan aman adalah pemusatan kekuasaan secara ekstrem, menurut saya adalah pemikiran yang bermasalah," tegasnya.
Pernyataan Zuckerberg mencerminkan tren industri yang mulai melirik AI berbasis open-weight. Banyak perusahaan global mulai beralih ke model ini akibat membengkaknya biaya langganan AI tertutup, serta maraknya kekhawatiran atas insiden keamanan siber yang sempat melibatkan sistem milik Anthropic, OpenAI, hingga Meta sendiri.
Sistem open-weight umumnya menawarkan biaya operasional yang jauh lebih murah serta fleksibilitas bagi perusahaan untuk memodifikasi kode sumbernya-hal yang tidak bisa dilakukan pada model tertutup (closed model) buatan OpenAI atau Anthropic.
Ancaman dari Dominasi China
Saat ini, startup teknologi asal China tercatat memimpin peta persaingan AI open-weight. Model seperti Kimi K3 milik Moonshot, Qwen3.8-Max buatan Alibaba, hingga V4-Flash dari DeepSeek dilaporkan mampu menandingi performa sistem AI papan atas AS. Sebaliknya, raksasa AS seperti OpenAI, Anthropic, dan Google masih bertahan dengan model tertutup (closed-source)
Padahal, model tertutup membutuhkan biaya yang jauh lebih tinggi ketimbang model terbuka. Alasan ini juga yang memunculkan fenomena ramainya perusahaan AS yang beralih ke model AI asal China dan meninggalkan model AI asal AS.
Pasar merespons positif manuver Meta. Saham Meta (META) mencatatkan kenaikan hampir 3% pada perdagangan pra-pasar hari Senin, meskipun secara year-to-date masih terkoreksi sekitar 10%.
Selain Muse Glimmer, Meta bersiap merilis bobot kode dari Muse Spark 1.2, model paling canggih yang digarap oleh tim superintelijen mereka. Proyek ini menjadi pertaruhan besar Meta untuk merebut kembali tahta dalam perburuan AI global.
Senggol Isu Pusat Data dan Kebijakan AS
Tak hanya meluncurkan model baru, Zuckerberg juga mengumumkan dana hibah senilai US$1 miliar (sekitar Rp17 triliun) untuk mendukung komunitas lokal di sekitar pusat data (data center) Meta. Pembangunan infrastruktur pusat data yang masif kerap memicu penolakan warga lokal dan kini menjadi isu politik hangat di AS.
"Satu kerugian besar AS dibandingkan negara seperti Tiongkok adalah rumitnya membangun infrastruktur di sini," kata Zuckerberg. Tahun ini saja, Meta mengalokasikan anggaran belanja modal (capex) hingga US$145 miliar yang sebagian besar tersedot untuk infrastruktur AI.
Zuckerberg mendesak pemerintah AS untuk merombak kebijakan, terutama mengenai aturan penggunaan data dan metode distillation-teknik melatih model AI kecil menggunakan keluaran dari AI yang lebih besar agar lebih hemat daya komputasi. Menurutnya, batasan ketat yang diterapkan di AS justru memberi celah bagi laboratorium AI luar negeri untuk melesat lebih cepat.
"Kebijakan AS harus mengurangi hambatan-hambatan ini jika ingin model open-source Amerika tetap memimpin pasar," pungkasnya.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]


















































