Netanyahu Siap Bentuk "Aliansi Heksagon" Demi Lawan Poros Sunni-Syiah

7 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendorong pembentukan aliansi regional baru yang ia sebut sebagai "aliansi heksagon", dengan menyebut sejumlah negara seperti India, Yunani, dan Siprus sebagai bagian dari gagasan tersebut.

Melansir Al Jazeera, aliansi ini diklaim akan menghimpun negara-negara dengan kepentingan dan pandangan keamanan yang sama untuk menghadapi apa yang disebut Netanyahu sebagai "poros radikal" di Timur Tengah.

Dalam pernyataannya pada Minggu (22/2/2026), Netanyahu mengatakan aliansi itu dirancang untuk melawan dua kutub yang ia nilai mengancam stabilitas kawasan, yakni poros Syiah radikal dan poros Sunni radikal. Selain Israel, ia menyebut India, Yunani, dan Siprus, serta sejumlah negara Arab, Afrika, dan Asia lain yang tidak dirinci.

"Dalam visi yang saya lihat di hadapan saya, kita akan menciptakan seluruh sistem, pada dasarnya sebuah 'heksagon' aliansi di sekitar atau di dalam Timur Tengah," ujar Netanyahu.

Meski demikian, hingga kini belum ada negara yang secara terbuka menyatakan dukungan resmi terhadap rencana tersebut. Sejumlah analis menilai gagasan itu sulit diwujudkan dalam bentuk aliansi formal dan lebih bersifat narasi politik.

Pernyataan Netanyahu muncul menjelang rencana kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Israel. Modi sebelumnya menegaskan bahwa India menghargai hubungan persahabatan dengan Israel yang dibangun atas dasar kepercayaan, inovasi, dan kerja sama teknologi.

Namun, para pengamat menilai India cenderung bersikap pragmatis dan kecil kemungkinan terikat dalam aliansi berbasis poros ideologis, sejalan dengan tradisi kebijakan luar negeri nonblok New Delhi.

Sementara itu, Israel dalam beberapa tahun terakhir juga memperkuat kerja sama dengan Yunani dan Siprus, terutama di bidang energi dan pertahanan.

Pada 2025, Yunani menyetujui pembelian 36 sistem artileri roket PULS dari Israel senilai sekitar US$760 juta (sekitar Rp12 triliun). Kedua negara juga membahas paket pertahanan lanjutan yang diperkirakan mencapai US$3,5 miliar (sekitar Rp55 triliun).

Namun, baik Yunani maupun Siprus merupakan anggota International Criminal Court (ICC), yang telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu terkait dugaan kejahatan perang di Gaza. Kondisi ini dinilai menjadi hambatan politik dan hukum bagi pembentukan aliansi yang lebih erat.

Profesor madya studi keamanan di King's College London, Andreas Krieg, menilai konsep "heksagon" lebih mencerminkan upaya pencitraan ketimbang kerangka aliansi nyata.

"Ini bukan aliansi seperti NATO, melainkan lebih sebagai cara mengemas hubungan dan kemitraan yang sudah ada agar terlihat sebagai blok strategis baru," ujarnya.

Pengamat juga menilai inisiatif ini tidak lepas dari tekanan politik domestik yang dihadapi Netanyahu, mulai dari polemik reformasi peradilan hingga proses hukum atas sejumlah kasus korupsi. Menjelang pemilihan umum, gagasan aliansi dinilai menjadi upaya untuk menunjukkan bahwa Israel tidak sepenuhnya terisolasi secara diplomatik.

Analis politik independen Israel, Ori Goldberg, menyebut memburuknya citra Israel akibat konflik berkepanjangan membuat rencana aliansi besar semacam ini sulit menarik dukungan nyata.

"Dalam kondisi seperti ini, aliansi 'heksagon' lebih tampak sebagai dunia fantasi ketimbang rencana yang benar-benar bisa diwujudkan," katanya.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |