Mobil Listrik China Serbu Pasar RI, Respons Bos Toyota Tak Terduga

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan industri otomotif nasional semakin ramai dengan masuknya berbagai merek baru, khususnya dari China di segmen kendaraan listrik. Namun Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) melihat dinamika ini dari sudut pandang yang berbeda.

Alih-alih menganggapnya sebagai ancaman, Toyota justru menempatkan strategi elektrifikasi sebagai bentuk kolaborasi global. Pasalnya, saat ini Toyota baru saja meresmikan kerja sama pembangunan baterai listrik dengan CATL.

"Jangan dibilang berhadapan, lihat aja ini kita kerja sama tiga negara (yaitu) China, Indonesia, Jepang. Demi competitiveness-nya kita gitu loh," ujar Wakil Presiden Direktur TMMIN, Bob Azam saat ditemui di PIK, Jakarta, Senin (20/4/2026).

Selain itu, Toyota juga menekankan bahwa strategi mereka bersifat fleksibel. Berbagai teknologi disiapkan agar dapat menyesuaikan dengan perubahan kebutuhan konsumen.

"Kita sudah menyiapkan teknologi mulai dari hidrogen, BEV, hybrid," ujar Bob.

Pada akhirnya, arah industri tetap ditentukan oleh preferensi pasar. Produsen hanya bisa menyesuaikan strategi agar tetap relevan di tengah perubahan.

"Nggak bisa customer ingin ke kiri kitanya ke kanan, nggak bisa," sebut Bob.

Mobil-mobil baru, termasuk kendaraan listrik buatan China dari perusahaan BYD. REUTERS/Yves Herman/File PhotoFoto: Mobil-mobil baru, termasuk kendaraan listrik buatan China dari perusahaan BYD. REUTERS/Yves Herman/File Photo
Mobil-mobil baru, termasuk kendaraan listrik buatan China dari perusahaan BYD. REUTERS/Yves Herman/File Photo

Toyota menegaskan bahwa arah pengembangan teknologi tidak berdiri sendiri. Hybrid dipilih sebagai langkah strategis karena dinilai mampu menjawab kebutuhan pasar saat ini. Selain itu, teknologi ini juga menjadi jembatan menuju elektrifikasi penuh.

"Hybrid maupun BEV itu kan masalah jumlah sel saja sebenarnya," timpal Presiden Direktur TMMIN, Nandi Julyanto.

Perbedaan utama antara hybrid dan kendaraan listrik murni hanya terletak pada skala baterai. Dengan kata lain, pengembangan hybrid tetap sejalan dengan roadmap elektrifikasi jangka panjang.

"Jumlah sel dan tentu Battery Management System," lanjutnya.

Toyota menilai bahwa penguasaan teknologi baterai menjadi kunci utama dalam persaingan industri otomotif ke depan. Oleh karena itu, pengembangan hybrid bukan langkah mundur, melainkan bagian dari strategi besar.

"Kalau kita sudah bisa membuat hybrid dari sel sampai modul sampai dengan assembling, tentu kita juga bisa membuat untuk BEV," jelas Nandi.

Di tengah masuknya berbagai merek baru, Toyota memilih fokus pada penguatan fondasi industri. Skala pasar menjadi faktor penting sebelum melangkah lebih jauh ke kendaraan listrik murni.

"Cuma sekali lagi itu semua balik ke volume market scale," tegasnya.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa Toyota tidak terburu-buru mengikuti tren tanpa perhitungan. Perusahaan lebih memilih memastikan kesiapan pasar dan ekosistem terlebih dahulu.

"Asal market scale-nya cukup, mencukupi, kita akan lakukan," ujar Nandi.

(fys/wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |