Jakarta -
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf alias Gus Ipul menjelaskan tentang keterlibatan Akademi Militer (Akmil) dalam program Sekolah Rakyat. Katanya, taruna Akmil akan memberikan contoh hidup disiplin layaknya tentara.
"Taruna-taruna Akmil itu bisa memberikan contoh kepada siswa-siswa Sekolah Rakyat yang juga mereka sekolahnya berasrama gitu. Bagaimana bangun pagi, membersihkan eh apa tempat tidur, membersihkan peralatan-peralatan atau perlengkapan-perlengkapan yang mereka punya gitu ya. Bagaimana kemudian mereka memakai sepatu, memakai seragam. Intinya adalah membantu penguatan kedisiplinan," kata Gus Ipul seusai hadiri seminar di Universitas Nasional, Jakarta Selatan, Selasa (30/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gus Ipul mengibaratkan keterlibatan taruna Akmil seperti mahasiswa sedang bertugas Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mereka akan disebar ke sejumlah sekolah.
"Jadi itu pun waktunya hanya lima hari. Ini seperti KKN-nyalah, seperti KKN-nya Akmil gitu semacam itu. Sehingga nanti dibagi di beberapa sekolah," imbuh dia.
Gus Ipul memastikan siswa Sekolah Rakyat tidak diberi pelatihan militer saat taruna Akmil diturunkan. Siswa hanya akan mendapat pengajaran soal kedisiplinan hingga baris berbaris.
"Tidak ada di sana tidak ada (pelatihan militer). Tentu tidak, tidak secara khusus untuk itu. Tetapi kalau untuk baris berbaris, ya. Bagaimana bisa mereka tepat waktu, bersih, ya kemudian mengikuti jadwal, mempersiapkan diri sebelum mengikuti pembelajaran," ungkapnya.
Sebelumnya, Kementerian Sosial (Kemensos) berkolaborasi dengan TNI akan menerjunkan sekitar 1.000 taruna Akademi Militer (Akmil) tingkat I dan II untuk mendampingi siswa di 178 titik Sekolah Rakyat. Program bimbingan keasramaan tersebut akan berlangsung selama lima hari di setiap lokasi, mulai 3 hingga 8 Agustus 2026.
Wakil Menteri Sosial (Wamensos), Agus Jabo Priyono menegaskan bahwa pelibatan para taruna bukan untuk menggantikan peran guru di ruang kelas, melainkan memberikan pendampingan kepada siswa dalam kehidupan berasrama.
"Program ini hanya berlangsung selama lima hari, mulai 3 hingga 8 Agustus. Tujuannya membantu anak-anak yang tinggal di asrama agar lebih mandiri. Mereka akan dibimbing melakukan hal-hal sederhana, seperti merapikan lemari, merapikan tempat tidur, hingga membiasakan kerapian dalam berseragam," ujar Agus Jabo dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, para taruna akan berperan sebagai pembimbing kehidupan asrama sehingga para siswa dapat beradaptasi dengan lingkungan baru secara nyaman, meski harus tinggal jauh dari keluarga.
"Taruna tidak mengajar di kelas seperti guru. Mereka memberikan bimbingan di asrama agar anak-anak Sekolah Rakyat dapat tinggal dengan tenang dan nyaman walaupun tidak tinggal satu rumah dengan keluarganya. Mereka juga memberikan pembinaan agar tidak terjadi segala bentuk kekerasan, termasuk perundungan atau kekerasan dari kakak kelas kepada adik kelas," kata Agus Jabo.
Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan program tersebut memiliki dasar hukum yang jelas, yakni Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrim.
Agus Jabo menambahkan, dipilihnya taruna Akmil didasarkan pada pengalaman mereka dalam menjalani kehidupan berasrama sehingga dinilai mampu membimbing para siswa dengan pendekatan yang tepat.
"Kenapa taruna? Karena mereka yang memahami bagaimana hidup di asrama. Pengalaman itu yang ingin ditularkan kepada anak-anak Sekolah Rakyat agar mereka cepat beradaptasi dan memiliki karakter yang mandiri," ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, setiap titik Sekolah Rakyat akan didampingi lima personel taruna secara intensif. Materi bimbingan meliputi berbagai keterampilan dasar kehidupan sehari-hari, seperti menyetrika seragam, merapikan seprei dan lemari pakaian, menyemir sepatu, hingga membangun kebiasaan hidup mandiri di asrama.
(tsy/azh)















































