Megawati Terima Dubes Jerman, Bahas Timur Tengah dan Peringatan KAA ke-71

4 hours ago 5

Jakarta -

Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menerima Duta Besar Jerman untuk Indonesia Ralf Beste. Pertemuan tersebut membahas situasi geopolitik saat ini.

Pertemuan digelar di kediaman Megawati, Menteng, Jakarta, Jumat (17/4/2026). Dalam pertemuan, Megawati didampingi Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah, dan Direktur Eksekutif Megawati Institute Hilmar Farid.

"Ibu Megawati dan Dubes Ralf Beste membahas geopolitik termasuk situasi saat ini di Timur Tengah dan tentang Konferensi Asia Afrika (KAA Bandung) yang besok akan diperingati ke-71 tahun," kata Hasto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertemuan berlangsung kurang lebih satu jam. Saat disambut Megawati, Dubes Jerman mengaku baru berkunjung ke Bandung dan melihat Museum KAA.

"Saya berkeliling untuk lebih mengenal Indonesia. Saya baru saja ke Bandung dan mengunjungi Museum KAA," kata Dubes Ralf.

Hasto mengatakan Dubes Jerman kagum dengan peran Sukarno dalam menggerakkan kebangkitan negara di wilayah Asia dan Afrika.

"Tergores sejarah kepeloporan Bung Karno dalam KAA tersebut. Menurut Dubes Jerman, pemikiran dan spirit KAA masih relevan," kata Hasto.

Mendengar pengakuan Dubes Jerman, Megawati lantas menceritakan pengalamannya mendampingi Soekarno menjadi delegasi termuda saat usia 14 tahun di KTT Gerakan Nonblok di Beograd, Yugoslavia, pada 1961. Megawati mengenang momen duduk bersama tokoh bangsa, seperti Jawaharlal Nehru (India) dan Gamal Abdel Nasser (Mesir).

"Saat itu mereka saya panggil uncle (paman)," kata Megawati sambil tersenyum.

Dalam konferensi tersebut, Bung Karno meminta bertemu dengan para pemimpin dunia dan membuat catatan khusus mengenai hal-hal yang disampaikan.

Basarah mengatakan Megawati memberikan sejumlah buku teks pidato Bung Karno di KAA. Selain itu, juga buku teks pidato saat Bung Karno berbicara di Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan judul To Build The World A New serta buku Lahirnya Pancasila.

Lebih lanjut, pertemuan tersebut juga membahas isu terkini. Megawati, kata Basarah, menyampaikan pentingnya mengantisipasi terjadinya krisis global. Dalam pertemuan itu, Megawati juga menceritakan krisis ekonomi saat 1997 hingga berhasil menyelesaikannya saat menjadi presiden.

"Ibu Megawati memaparkan bagaimana pemerintahannya saat itu berhasil menstabilkan nilai tukar rupiah, membayar utang luar negeri Indonesia, dan berhasil menyelesaikan krisis," sebut Basarah.

"Ibu Megawati juga menceritakan pengalamannya yang tidak mudah menyelesaikan krisis multidimensi ketika menjadi Presiden kelima RI dan mampu menyelesaikan berbagai persoalan di BPPN hingga melunasi pinjaman ke IMF. Mengapa itu disampaikan? Karena perang terhadap Iran dan dampak pemblokiran Selat Hormuz menjadikan dunia dihadapkan pada krisis yang harus diantisipasi," lanjut Basarah mengutip Megawati.

Lihat juga Video: Dubes Arab Saudi Sambangi Megawati di Menteng, Bahas Apa?

(amw/gbr)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |