Manufaktur RI Bisa Bahaya, Kemenperin Gandeng Pengusaha Lakukan Ini

5 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkap adanya gangguan pasokan bahan baku petrokimia dari kawasan Timur Tengah di tengah meningkatnya tensi geopolitik global. Kondisi ini mulai dirasakan oleh pelaku industri dalam negeri dan pemerintah telah mengidentifikasi adanya hambatan dalam rantai pasok tersebut.

"Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun oleh Kemenperin, saat ini pasokan bahan baku petrokimia dari kawasan Timur Tengah memang sedikit tersendat," ujar Staf Khusus Menteri Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief kepada CNBC Indonesia, Senin (30/3/2026).

Merespons kondisi tersebut, pemerintah bersama pelaku industri langsung mengambil langkah cepat untuk menjaga stabilitas rantai pasok di dalam negeri.

"Sebagai langkah antisipasi cepat, Kemenperin bersama pelaku industri petrokimia nasional saat ini sedang aktif bergerak mencari sumber alternatif atau alternative sourcing di luar kawasan Timur Tengah untuk meminimalisir dampak konflik terhadap rantai pasok industri di dalam negeri," ujar Febri.

Di tengah tekanan, pemerintah memahami tantangan berat yang dihadapi manufaktur saat ini dan tetap optimistis terhadap daya tahan sektor manufaktur yang dinilai telah teruji menghadapi berbagai krisis global sebelumnya.

"Sebagaimana ditegaskan oleh Menteri Perindustrian, kita tetap yakin dan optimis atas resiliensi manufaktur kita dalam menghadapi berbagai krisis global. Sektor industri kita telah teruji dalam melewati berbagai krisis global, termasuk pandemi COVID-19, dan kami menjadikan hal tersebut sebagai modal menghadapi krisis yang datang kali ini," kata Febri.

Pemerintah juga menegaskan bahwa momentum krisis ini akan dimanfaatkan untuk memperkuat industri dalam negeri melalui dua hal yakni penguatan struktur industri melalui pendalaman dari hilir ke hulu maupun sebaliknya, serta kemandirian bahan baku melalui penguatan ekosistem rantai pasok dalam negeri. Penguatan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan bahan baku impor dan memperkuat ketahanan industri nasional.

"Fokus kami saat ini adalah melindungi industri agar tetap mendapat akses bahan baku dan energi yang kompetitif sambil terus memperkuat fondasi industri dalam negeri agar lebih tangguh di masa depan," ujar Febri.

Seperti diketahui, industri petrokimia memiliki peran strategis sebagai pemasok bahan baku bagi berbagai sektor manufaktur. Karena itu, gangguan di sektor ini berpotensi menimbulkan efek berantai ke banyak lini industri.

"Produk petrokimia itu digunakan sebagai input bagi industri lain. Jadi kalau sektor ini terganggu, dampaknya bisa membuat aktivitas produksi manufaktur secara keseluruhan melambat," jelas Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti kepada CNBC Indonesia, Senin (30/3/2026).

Merespons kondisi global yang tidak menentu, sejumlah negara seperti Jepang dan Korea Selatan telah lebih dulu mengambil langkah antisipatif dengan mengamankan pasokan melalui pendekatan diplomatik. Menurut Esther, Indonesia juga perlu mempertimbangkan langkah serupa untuk menjaga stabilitas pasokan.

"Saya kira perlu ada upaya negosiasi, apalagi Indonesia memiliki hubungan yang cukup baik dengan Iran. Langkah ini penting mengingat sekitar 70% kebutuhan nafta kita masih bergantung dari Timur Tengah," ujarnya.

Ketergantungan yang besar terhadap satu kawasan menjadi kerentanan tersendiri, terutama jika konflik berlangsung dalam jangka panjang dan mengganggu distribusi.

"Dengan tingkat ketergantungan yang tinggi, gangguan pasokan pasti akan sangat berdampak. Ini yang perlu diantisipasi sejak dini," tambahnya.

Lebih lanjut, ia menilai gangguan produksi di sektor petrokimia akan berimbas langsung terhadap kinerja ekonomi nasional secara keseluruhan.

"Kalau produksi menurun, output juga ikut turun. Itu berarti kontribusi terhadap PDB berkurang, sehingga pertumbuhan ekonomi berpotensi ikut melambat," tegas Esther.

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |