Makhluk Bawah Tanah Ini Menyelimuti Bumi, Penentu Nasib Manusia

15 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Di bawah tanah, di dalam akar hampir semua tumbuhan yang tumbuh di permukaan bumi, hidup makhluk mungil yang tak kasat mata tetapi memegang peran besar bagi kelangsungan hidup manusia.

Berdasarkan penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, dan dilaporkan oleh The Guardian, jaringan jamur mikoriza arbuskular menyelimuti hampir seluruh daratan di Bumi dan menjadi penentu utama nasib iklim serta ketahanan pangan manusia.

Jamur mikoriza arbuskular telah hidup bersimbiosis dengan tumbuhan selama lebih dari 450 juta tahun. Jamur menembus sel-sel akar tanaman, membentuk jaringan halus yang menjalar jauh ke dalam tanah kemudian berfungsi seperti perpanjangan akar. Sebagai gantinya, tanaman memberikan karbohidrat hasil fotosintesis sebagai sumber energi bagi jamur.

Dalam proses ini, jamur menyerap air dan unsur hara seperti fosfor dan nitrogen dari dalam tanah, lalu menyalurkannya kembali ke tanaman-membantu tumbuhan tumbuh lebih besar, lebih kuat, dan lebih tahan terhadap kekeringan maupun serangan penyakit.

Penelitian yang dilaporkan oleh The Guardian berupaya memetakan penyebaran jamur ini. Hasilnya menunjukkan bahwa jaringan jamur ini tersebar luas di seluruh benua, mulai dari hutan hujan tropis, padang rumput, hingga lahan pertanian.

Para peneliti menegaskan bahwa keberadaan mereka bukan sekadar pendukung kehidupan tumbuhan, melainkan fondasi utama ekosistem daratan. Tanpa jaringan bawah tanah ini, struktur tanah akan rusak, pasokan nutrisi terputus, dan ribuan jenis tumbuhan-termasuk tanaman pangan utama manusia seperti padi, jagung, dan gandum-akan sulit bertahan hidup.

Lebih jauh lagi, makhluk mikroskopis ini memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan iklim bumi. Jaringan jamur ini mampu mengikat karbon dari udara dan menyimpannya di dalam tanah dalam jumlah yang sangat besar. Data penelitian menunjukkan bahwa jutaan ton karbon yang seharusnya menumpuk di atmosfer dan memperparah pemanasan global justru tersimpan di dalam tanah berkat aktivitas jamur ini.

Mereka berfungsi sebagai penyerap karbon alami terbesar yang dimiliki bumi. Sayangnya, fungsinya ini sering kali terabaikan dalam upaya-upaya penanganan perubahan iklim.

Tim penulis penelitian berasal dari organisasi bernama SPUN yaitu jaringan ilmuwan yang fokus dalam perlindungan jaringan jamur bawah tanah di Bumi. Berdasarkan perhitungan mereka, panjang jaringan jamur di Bumi melampaui 110.000 triliun kilometer atau berkali-kali lipat dari jarak Bumi dengan Matahari.

"Dalam satu sendok teh tanah, jaringan mycorrhizal bisa mencapai 10 meter." kata Justin Stewart, salah satu peneliti penulis studi tersebut.

Penelitian yang sama mengungkapkan dampak aktivitas manusia terhadap jaringan jamur di seluruh dunia. Di lahan yang telah digarap manusia, jaringan jamur ditemukan 47,3 persen lebih sedikit dibanding yang ada di ekosistem liar.

"Pertanian skala besar mengancam jaringan jamur. Dampak paling besar adalah aktivitas membajak tanah yang 'mencabut' jejaring jamur ini," kata Stewart.

Artinya, jaringan kehidupan ini kini terancam. Aktivitas manusia seperti penggunaan pupuk kimia berlebihan, penebangan hutan, pertanian intensif, dan perubahan guna lahan telah merusak populasi jamur ini secara luas. Ketika jaringan ini rusak, tanah menjadi kurang subur, kemampuan menahan air berkurang, dan karbon yang tersimpan kembali terlepas ke udara. Hal ini menciptakan lingkaran setan yang memperburuk perubahan iklim sekaligus mengancam ketahanan pangan dunia.

(dem/dem)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |