Krisis Senyap di Hormuz: Ribuan Pelaut Asia Terjebak di Tengah Perang

3 hours ago 2

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

06 May 2026 15:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini turut membuat ribuan pelaut sipil terjebak di zona konflik tanpa perlindungan memadai.

Di tengah eskalasi perang dan ancaman di jalur pelayaran strategis, para pekerja maritim justru menghadapi risiko keselamatan yang kian meningkat.Sebagai tulang punggung perdagangan global, mereka juga bukan aktor dalam konflik.

Namun naasnya, para pelaut ini menjadi pihak yang paling terdampak.

Terjebak di Zona Perang, Ribuan Pelaut Tak Bisa Pulang

Sekitar 20.000 pelaut masih tertahan di kawasan Teluk, termasuk di Persian Gulf, di tengah ancaman rudal dan konflik bersenjata. Banyak di antara mereka telah berulang kali mencoba keluar melalui Selat Hormuz, namun terhalang situasi keamanan yang tidak kondusif.

Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (4/5/2026). (REUTERS/Stringer)Foto: Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (4/5/2026). (REUTERS/Stringer)

Upaya evakuasi juga menghadapi berbagai kendala. Meski International Transport Workers' Federation telah memberikan hak bagi pelaut untuk menolak penugasan di zona konflik, mereka tidak dapat meninggalkan kapal sebelum pengganti tersedia.

Namun di situasi ini, tidak ada yang mau menukarkan nasibnya dengan para pelaut yang terjebak. Ditambah lagi masalah seperti keterbatasan tiket penerbangan dan sulitnya akses visa, semakin memperpanjang masa keterjebakan mereka.

Tulang Punggung Perdagangan Dunia yang Terabaikan

Sebagian besar pelaut berasal dari negara-negara Asia seperti Philippines, Indonesia, dan India. Mereka memainkan peran krusial dalam mengangkut sekitar 85% volume perdagangan global, mulai dari energi hingga bahan pangan.

Namun di balik kontribusi besar tersebut, para pelaut justru minim perlindungan ketika konflik terjadi. Serangan di berbagai jalur strategis dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa jalur pelayaran global kini semakin rentan terhadap eskalasi militer.

Profesi Berisiko yang Tidak Lagi Menjanjikan

Meski kontribusi pelaut besar terhadap perdagangan global dan ekonomi secara keseluruhan, mereka kini menghadapi variasi risiko yang semakin banyak. Risiko tersebut tidak hanya bersifat insidental, tetapi juga mencerminkan kerentanan yang sudah lama ada dan kini semakin diperparah oleh situasi geopolitik.

Akumulasi risiko ini menegaskan bahwa tanpa perlindungan yang lebih kuat, profesi pelaut yang semakin berbahaya akan berpotensi kehilangan daya tarik. Sehingga memberikan ancaman serius bagi keberlanjutan rantai pasok global.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |