Konsumen Keluhkan Bahaya Galon Tua, 92 Juta Penduduk Terancam BPA

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Komunitas Konsumen Indonesia (KKI), David Tobing menyatakan bahwa peredaran galon guna ulang berusia tua atau disebut "ganula" di pasaran masih tergolong banyak. Terbukti, 92% konsumen melaporkan masih menerima "ganula" yang berpotensi meluruhkan zat kimia berbahaya Bisphenol A (BPA) ke dalam air minum.

Kondisi tersebut dapat mengancam kesehatan lebih dari 92 juta penduduk Indonesia. Berdasarkan sejumlah riset, BPA berpotensi memicu obesitas, diabetes, hingga gangguan reproduksi.

"Berdasarkan data BPS, ada 34% rumah tangga di Indonesia mengonsumsi air minum dari galon. Itu berarti lebih dari 26 juta rumah tangga. Jadi, dari pengaduan tersebut, bisa diperkirakan 92 juta penduduk terancam kesehatannya oleh peluruhan BPA," kata David beberapa waktu lalu, Selasa (12/5/2026).

KKI memperoleh hasil temuan tersebut berdasarkan pemantauan yang telah berlangsung selama tiga tahun. Pada 2024, KKI melakukan survei nasional terhadap 450 responden, kemudian investigasi langsung ke puluhan agen dan toko kelontong di Jabodetabek pada 2025. Sebagai langkah tindak lanjut, KKI membuka Kanal Pengaduan Konsumen sepanjang Maret hingga April 2026.

"Dari 250 pengaduan yang masuk dari tujuh kota besar, mayoritas pelapor memvalidasi bahwa mereka masih mengonsumsi air dari galon yang telah berusia di atas satu tahun atau ganula," terang David.

Di samping itu, KKI juga mendapatkan bukti foto dari konsumen yang memperlihatkan galon produksi tahun 2011. Dengan kata lain, galon tersebut sudah berusia 11 tahun tetapi masih bebas beredar dan digunakan untuk air minum.

"Menariknya, walaupun miris, ada galon yang usianya 11 tahun. Di beberapa daerah sekitar Jakarta, galon-galon itu memang usianya banyak yang 10 tahun atau 5 tahunan ke atas. Galon ini sudah beredar kemana-mana," jelas David.

Bersamaan dengan itu, konsumen turut melaporkan kondisi galon yang diterima sangat memprihatinkan. Dalam konteks ini, terdapat 30% konsumen melaporkan galon sudah dalam keadaan kotor, lusuh, atau kusam, 18% retak, dan 2% penyok.

"Nah, temuan kuncinya apa? Semakin tua usia galon, semakin beragam jenis keluhannya," tegasnya.

Dia melanjutkan, risiko paparan BPA kian diperparah oleh buruknya perlakuan terhadap galon selama proses distribusi. Sebagai contoh, jika melihat di Tol Jagorawi galon-galon kosong yang diangkut dari daerah Bogor, semuanya menggunakan bak terbuka. Galon yang terisi pakai bak terbuka juga.

Padahal, David menyebut, pakar polimer dari Universitas Indonesia sudah menegaskan bahwa paparan sinar matahari, pencucian kasar, dan usia pakai yang terlalu lama adalah pemicu utama peluruhan BPA. Pakar kemudian merekomendasikan batas aman penggunaan galon polikarbonat maksimal 1 tahun atau 40 kali pengisian ulang.

Oleh karena itu, David menyatakan pentingnya aturan pembatasan masa pakai ini. Negara kawasan lain, seperti Uni Eropa, telah mengambil langkah tegas dengan melarang total penggunaan BPA dalam bahan kontak pangan yang akan berlaku efektif per Juli 2026. Larangan ini dikeluarkan menyusul temuan otoritas keamanan pangan Eropa (EFSA) mengenai bahaya paparan kronis BPA.

Namun, di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) masih memperbolehkan penggunaan BPA dan baru mewajibkan pelabelan peringatan BPA dengan masa tenggang hingga 2028.

"Di Eropa, galon BPA itu sudah dilarang per Juli tahun ini. Sayangnya aturan di Indonesia, pelabelan itu baru diwajibkan pada 2028. Selain itu, ada kekosongan regulasi masa pakai," ungkapnya.

(rah/rah)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |