Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
24 July 2026 20:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Rusia dan Ukraina menjadi titik balik besar bagi pertahanan Jerman. Invasi Rusia pada Februari 2022 memaksa Berlin meninggalkan kebijakan militer yang selama puluhan tahun cenderung berhati-hati.
Setelah Perang Dunia II berakhir, Jerman lebih banyak mengandalkan Amerika Serikat (AS) dan NATO untuk menjaga keamanan negaranya. Anggaran militer ditekan, jumlah tentara terus menyusut, sementara pembelian senjata berjalan lambat akibat birokrasi yang panjang.
Perang Ukraina kemudian memperlihatkan kelemahan tersebut. Jerman menghadapi kekurangan amunisi, kendaraan tempur, sistem pertahanan udara, hingga personel yang siap diterjunkan.
Beberapa hari setelah Rusia menyerang Ukraina, pemerintahan Kanselir Olaf Scholz mengumumkan perubahan kebijakan yang dikenal sebagai Zeitenwende atau titik balik. Jerman saat itu membentuk dana khusus pertahanan sebesar €100 miliar atau sekitar Rp 2. 057.2 triliun (€1= Rp 20.572) untuk memperbarui persenjataan Bundeswehr, sebutan bagi angkatan bersenjata Jerman.
Pergantian pemerintahan tidak menghentikan arah tersebut. Di bawah Kanselir Friedrich Merz, pembangunan kekuatan militer Jerman justru semakin dipercepat.
Anggaran inti pertahanan Jerman direncanakan meningkat dari €82,2 miliar pada 2026 menjadi €109 miliar pada 2027. Jika bantuan untuk Ukraina dan pengeluaran keamanan lainnya ikut dihitung, totalnya mencapai 130,1 miliar euro.
Berlin bahkan menyiapkan sekitar €783,8 miliar untuk kegiatan terkait pertahanan sepanjang 2026-2030. Porsi belanja pertahanan terhadap produk domestik bruto (PDB) ditargetkan meningkat dari 2,8% pada 2026 menjadi 3,5% mulai 2029.
Kenaikan anggaran tersebut melanjutkan lonjakan besar dalam satu dekade terakhir. Pengeluaran militer Jerman meningkat dari €36,1 miliar pada 2016 menjadi €100,7 miliar pada 2025. Secara nominal, kenaikannya mencapai sekitar 179%, sehingga nilainya hampir tiga kali lipat.
Peningkatan paling tajam terjadi setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Hanya dalam tiga tahun, belanja militer Jerman melonjak hampir 89%, dari €53,3 miliar pada 2022 menjadi €100,7 miliar pada 2025.
Namun, Jerman tidak hanya membelanjakan uangnya untuk membeli tank, rudal, dan pesawat tempur. Pemerintah Jerman kini mulai mengincar perusahaan teknologi kecil yang mengembangkan kecerdasan buatan, drone, robot militer, serta sistem tanpa awak.
Langkah terbaru bahkan membawa negara masuk langsung sebagai pemilik perusahaan.
Jerman Mulai Membeli Saham Startup Pertahanan
Pemerintah Jerman akan membentuk kendaraan investasi baru yang memungkinkan negara membeli langsung saham startup dan perusahaan teknologi pertahanan.
Melansir Reuters, kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat industri pertahanan sekaligus mendorong pertumbuhan perusahaan baru.
Pemerintah Jerman belum mengumumkan besaran dana yang akan disiapkan. Namun, instrumen tersebut akan diarahkan kepada startup dan perusahaan berkembang yang membuat produk dengan penggunaan militer yang jelas.
Menurut Financial Times, bank pembangunan milik negara KfW akan ikut berperan dalam investasi tersebut. Pemerintah juga menyiapkan insentif pajak, penyederhanaan perizinan, dan kemudahan bagi perusahaan teknologi untuk memperoleh kontrak pertahanan.
Langkah tersebut didorong oleh dua perkembangan utama. Pertama, perang Ukraina menunjukkan bahwa teknologi militer berubah jauh lebih cepat dibandingkan proses pengadaan senjata konvensional.
Kedua, muncul keraguan mengenai seberapa jauh AS akan terus menjamin keamanan Eropa. Pemerintahan Presiden Donald Trump telah mendorong negara-negara Eropa menanggung biaya pertahanan mereka sendiri dan mulai mengurangi sebagian kehadiran militernya di kawasan.
Jerman kemudian berusaha membangun industri pertahanan yang tidak sepenuhnya bergantung pada perusahaan atau modal asing.
Menteri Ekonomi Jerman Katherina Reiche mengatakan perusahaan rintisan dan perusahaan berkembang memiliki peran yang semakin penting dalam meningkatkan kesiapan pertahanan negara.
Dukungan pemerintah tidak hanya akan diberikan melalui penyertaan modal. Berlin juga dapat membantu perusahaan melalui pesanan produk dalam jumlah besar.
"Dengan memberikan pesanan besar, negara menjamin produksi dan mengamankan kesepakatan bisnis," ujar Reiche, dikutip dari Reuters.
Menurutnya, kontrak pembelian dari pemerintah dapat memberikan kepastian pendapatan yang dibutuhkan startup untuk meningkatkan produksi. Perusahaan tidak selalu harus bergantung pada subsidi atau menunggu pendanaan dari investor swasta.
Kebijakan ini cukup berbeda dibandingkan pendekatan sebelumnya. Selama ini, kontrak pertahanan Jerman lebih banyak mengalir kepada perusahaan besar seperti Rheinmetall, Airbus, Thyssenkrupp Marine Systems, dan Hensoldt.
Kini, sebagian belanja tersebut mulai diarahkan kepada perusahaan yang lebih kecil dan bergerak cepat.
Ukraina Jadi Tempat Pengujian Teknologi Militer
Perang Ukraina menjadi alasan utama mengapa perusahaan rintisan mulai mendapat tempat dalam industri pertahanan Eropa.
Konflik tersebut memperlihatkan bahwa perang modern tidak hanya ditentukan oleh jumlah tank, pesawat tempur, dan kapal perang. Drone murah, kecerdasan buatan, komunikasi digital, robot tanpa awak, serta perangkat lunak pengolah data kini memiliki peran besar di medan pertempuran.
Dua perusahaan Jerman yang banyak disebut adalah Helsing dan ARX Robotics.
Helsing mengembangkan sistem pertahanan berbasis kecerdasan buatan. Teknologinya digunakan untuk mengolah data dari sensor dan membantu tentara mengenali situasi di medan perang dengan lebih cepat.
Sementara itu, ARX Robotics memproduksi kendaraan darat tanpa awak yang dapat digunakan untuk mengangkut peralatan, melakukan pengintaian, serta menjalankan tugas berbahaya tanpa menempatkan tentara secara langsung di garis depan.
Produk kedua perusahaan tersebut telah dipasok untuk penggunaan di Ukraina. Medan perang menjadi tempat pengujian langsung bagi teknologi yang sebelumnya masih berada dalam tahap pengembangan.
Kecepatan menjadi salah satu keunggulan utama startup. Perusahaan kecil dinilai mampu memperbarui perangkat lunak atau mengembangkan perangkat baru dalam hitungan bulan. Proses serupa di perusahaan pertahanan tradisional dapat memakan waktu bertahun-tahun.
Masalahnya, banyak startup Eropa kesulitan memperoleh modal ketika ingin memperbesar produksi.
Pendanaan tahap awal di Jerman relatif tersedia. Namun, ketika membutuhkan dana dalam jumlah besar, perusahaan sering harus mencari investor dari AS.
Investasi modal ventura di Jerman mencapai 7,2 miliar euro pada 2025. Nilainya masih jauh di bawah pasar AS dan Inggris.
Kondisi tersebut membuat pemerintah khawatir teknologi yang dikembangkan di Jerman akhirnya berpindah ke luar negeri. Perusahaan bisa menjual saham kepada investor asing, memindahkan pusat pengembangan, atau memilih membuka fasilitas produksi di AS.
Melalui investasi langsung, Berlin ingin mempertahankan teknologi, tenaga kerja, dan produksi militer tetap berada di dalam negeri.
Pertumbuhan startup Jerman sebetulnya sedang meningkat. Sebanyak 3.053 perusahaan rintisan baru berdiri sepanjang semester I-2026, melonjak 52% dibandingkan semester II-2025.
Jumlah tenaga kerja yang diserap perusahaan rintisan juga meningkat 26% pada 2024 dibandingkan 2020.
Pemerintah akan memperpanjang Future Fund melewati 2030 untuk memperbesar akses pembiayaan. Program tersebut dibentuk pada 2021 untuk mendukung perusahaan teknologi, bioteknologi, dan sektor strategis lainnya.
Meski demikian, keterlibatan negara sebagai pemegang saham tetap memunculkan kekhawatiran. Sejumlah pelaku industri menilai pemerintah sebaiknya berfokus memberikan kontrak dan mempercepat pengadaan daripada masuk terlalu jauh dalam kepemilikan perusahaan.
Mereka khawatir masuknya negara dapat membawa proses birokrasi dan politik ke dalam keputusan bisnis. Pemerintah menilai kepemilikan langsung diperlukan untuk menjaga perusahaan strategis agar tidak berpindah ke luar negeri.
Dari Startup hingga Rudal Tomahawk
Pendanaan startup menjadi bagian dari perubahan pertahanan Jerman dalam skala yang jauh lebih besar.
Berlin tengah membangun kemampuan serangan jarak jauh, pertahanan udara, produksi amunisi, teknologi drone, hingga kekuatan laut.
Pada Juli 2026, Jerman menyepakati pembelian rudal jelajah Tomahawk dan peluncur darat Typhon dari AS. Tomahawk memiliki jangkauan sekitar tiga hingga lima kali lebih jauh dibandingkan rudal Taurus buatan Jerman yang mampu mencapai sekitar 500 kilometer.
Kanselir Merz mengatakan pembelian tersebut diperlukan untuk menutup kekurangan strategis dalam pertahanan Jerman.
Pada saat bersamaan, Lockheed Martin dan Rheinmetall menandatangani kesepakatan untuk memproduksi rudal ATACMS di Jerman. Jika terealisasi, Jerman akan menjadi negara pertama di luar AS yang memproduksi rudal balistik taktis tersebut.
Pabrik Rheinmetall di Unterluess akan menjadi pusat produksi, perakitan, dan distribusi ATACMS bagi anggota NATO serta negara sekutu.
Angkatan Laut Jerman juga mulai mengembangkan senjata laser. Rheinmetall dan MBDA mendapatkan kontrak bernilai ratusan juta euro untuk membuat sistem laser yang ditargetkan beroperasi mulai 2029.
Jerman turut memperdalam kerja sama pertahanan dengan Prancis. Untuk pertama kalinya, pasukan Jerman akan mengikuti latihan nuklir yang dipimpin Prancis.
Langkah tersebut tidak membuat Jerman memiliki senjata nuklir sendiri. Namun, keterlibatan itu menunjukkan Berlin mulai mempersiapkan jalur perlindungan tambahan apabila komitmen keamanan AS terhadap Eropa terus berkurang.
Perjalanan membangun kembali militer Jerman tetap menghadapi banyak hambatan. Proyek enam fregat F126 baru-baru ini dibatalkan akibat keterlambatan dan pembengkakan biaya.
Biaya proyek diperkirakan melonjak dari sekitar 10 miliar euro menjadi lebih dari 18 miliar euro. Padahal, pemerintah telah mengeluarkan sekitar 2,3 miliar euro.
Kasus tersebut memperlihatkan besarnya masalah dalam sistem pengadaan pertahanan Jerman. Dana besar tidak otomatis menghasilkan senjata dengan cepat apabila proses kontrak, pengembangan, dan produksinya masih berjalan lambat.
Kondisi inilah yang membuat pemerintah mulai beralih kepada startup. Perusahaan rintisan dinilai dapat mengembangkan teknologi lebih cepat dan lebih murah, terutama untuk drone, robot, sensor, serta perangkat lunak militer.
Reiche memperkirakan sektor pertahanan dapat menambah pertumbuhan ekonomi Jerman sekitar 0,5% hingga 1% apabila dana yang disiapkan digunakan dengan baik.
Perang Ukraina akhirnya membawa perubahan yang beberapa tahun lalu sulit dibayangkan.
Negara yang selama puluhan tahun membatasi kekuatan militernya kini mengucurkan ratusan miliar euro untuk pertahanan, membeli rudal jarak jauh, memproduksi senjata AS, dan menjadi investor langsung di perusahaan teknologi militer.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google


















































