Jelang Libur Panjang: Prabowo Buka Suara Soal Moody's, Pasar Siaga?

3 hours ago 2
  • Pasar keuangan ditutup beragam IHSG dan rupiah melemah sementara yield SBN melandai.
  • Wall Street lagi-lagi ambruk berjamaah
  • Rilis data inflasi AS dan perubahan rencana produksi batubara menjadi penggerak utama pasar pada hari ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir di zona merah, baik rupiah ataupun pasar saham melemah sementara yield Surat Berharga Negara (SBN) cukup melandai.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan bisa melanjutkan tren penguatan yang sudah terbangun beberapa waktu terakhir. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan kemarin bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan kemarin, Kamis (12/2/2026). IHSG terkoreksi 25,61 poin atau 0,31% ke level 8.265,35.

Sebanyak 294 saham naik, 384 turun, dan 144 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 23,83 triliun, melibatkan 43,26 miliar saham dalam 3,02 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar turun menjadi Rp 15.003 triliun.

Berdasarkan data pasar, Bumi Resources (BUMI) menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar, yakni Rp 4,06 triliun. Saham-saham lain yang juga ramai ditransaksikan kemarin termasuk Petrosea (PTRO), Bank Central Asia (BBCA), Aneka Tambang (ANTM) dan Timah (TINS).

Mengutip Refinitiv, nyaris seluruh sektor berada di zona merah. Infrastruktur memimpin dengan pelemahan 1,32%. Lalu diikuti energi 1,10% dan kesehatan 1,02%.

Sementara itu saham konglomerat yang beberapa hari kebelakang menjadi penggerak IHSG, kemarin menjadi beban utama kinerja indeks acuan saham domestik.

Empat emiten pemberat utama kinerja IHSG kemarin masing-masing adalah Bank Central Asia (BBCA), Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Barito Pacific (BRPT), Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) dan Barito Renewables Energi (BREN).

Lanjut ke nilai tukar rupiah, Rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (12/2/2026), seiring menguatnya dolar di pasar global.

Merujuk data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan di zona merah dengan depresiasi 0,21% ke posisi Rp16.810/US$. Pergerakan ini sekaligus mematahkan tren penguatan rupiah yang terjadi dalam tiga hari perdagangan beruntun sebelumnya.

Sejak pembukaan perdagangan, rupiah sudah tertekan. Rupiah dibuka melemah 0,06% di level Rp16.785/US$ dan tekanan berlanjut hingga penutupan. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak dalam rentang Rp16.785-Rp16.830/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat tipis 0,03% ke level 96,876.

Pelemahan rupiah kemarin terjadi seiring menguatnya dolar AS di pasar global. Penguatan DXY mengindikasikan meningkatnya permintaan terhadap aset berdenominasi dolar, yang pada gilirannya menambah tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dolar AS menguat setelah rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan. Laporan terbaru Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan ekonomi Negeri Paman Sam menambah 130.000 pekerjaan baru atau non-farm payrolls (NFP) pada Januari 2026.

Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan 70.000 pekerjaan, sekaligus lebih tinggi dibanding revisi data Desember yang sebesar 48.000 pekerjaan.

Penambahan tenaga kerja terbesar terjadi di sektor perawatan kesehatan, bantuan sosial, dan konstruksi, sementara sektor keuangan serta pemerintahan justru mencatat pengurangan tenaga kerja.

Sejalan dengan itu, tingkat pengangguran AS juga membaik. Tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,3% pada Januari 2026, lebih rendah dibandingkan Desember yang sebesar 4,4% serta berada di bawah ekspektasi pasar.

Sementara dari sisi obligasi, imbal hasil SBN 10 tahun Indonesia mengalami penurunan 6,408 melandai 0,43% dari hari sebelumnya di level 6,436%. Pergerakan pada hari Kamis (12/2/2026) berada pada level 6.409 - 6.480. 
Imbal hasil yang melandai menandai harga SBN yang tengah menguat karena diburu investor.

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |