Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Iran vs Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali menguji ketangguhan Iron Dome.
Iron Dom atau "kubah besi" diciptakan Israel untuk melindungi diri serangan rudal musuhnya.
Sistem pertahanan udara Iron Dome, yang dikembangkan oleh Israel untuk menangkal serangan roket jarak pendek, semakin menarik perhatian global.
Keberhasilan sistem ini dalam melindungi wilayah sipil dari ancaman udara telah membuat banyak negara mempertimbangkan, bahkan membeli teknologi ini sebagai bagian dari strategi pertahanan nasional mereka.
Sistem Iron Dome ini dikembangkan setelah perang yang dikenal sebagai "Perang Musim Panas" pada 2006 antara Israel dan Hezbollah. Kelompok bersenjata yang berbasis di Lebanon tersebut menembakkan hampir 4.000 roket ke Israel, menyebabkan kerusakan besar. Iron Dome telah mencegat lebih dari 1.500 target antara 2011 hingga April 2016.
Foto: Sistem pertahanan udara Iron Dome Israel mencegat roket yang diluncurkan dari Kota Gaza, pada 10 Mei 2023. (AFP via Getty Images/MAHMUD HAMS)
Sistem pertahanan udara Iron Dome Israel mencegat roket yang diluncurkan dari Kota Gaza, pada 10 Mei 2023. Tentara Israel dan militan Gaza saling tembak lintas batas pada 10 Mei, dengan 22 warga Palestina tewas selama dua hari di tengah eskalasi kekerasan terburuk yang melanda kota tersebut. wilayah pesisir dalam beberapa bulan. (MAHMUD HAMS/AFP via Getty Images)
Sistem pertahanan rudal Iron Dome, atau "Kippat Barzel" dalam bahasa Ibrani, secara luas dianggap sebagai salah satu alat terpenting dalam persenjataan pertahanan Israel. "Kubah besi" dirancang untuk melindungi warga Israel dari serangan udara dengan meluncurkan rudal berpemandu untuk mencegat roket yang masuk dan ancaman jarak pendek lainnya. Sistem pertahanan bergerak yang dapat beroperasi dalam segala cuaca ini telah sepenuhnya beroperasi sejak Maret 2011. Kementerian Pertahanan Israel menyatakan bahwa sistem ini telah mengalami beberapa kali peningkatan dan "berhasil mencegah tak terhitung jumlahnya roket agar tidak menghantam komunitas-komunitas Israel." Iron Dome dikembangkan di Israel oleh perusahaan milik negara Rafael Advanced Defense Systems dengan dukungan dari Amerika Serikat - dan Washington terus memberikan pendanaan untuk sistem ini. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan bahwa Iron Dome merupakan gabungan dari beberapa komponen: teknologinya sendiri, mesin yang digunakan untuk mencegat roket yang masuk, para prajurit yang mengoperasikan sistem, serta komandan yang mengawasi jaringannya. Bagaimana cara kerjanya? Dalam praktiknya, Iron Dome menggunakan radar untuk melacak roket yang masuk dan menentukan apakah lintasan rudal tersebut mengancam area yang dilindungi, seperti lokasi strategis atau pusat populasi.
Foto: AFP
Cara kerja Iron Dome
Jika roket tersebut memang menimbulkan ancaman, pusat komando dan kendali akan merespons dengan meluncurkan rudal Tamir untuk mencegatnya. Namun, sistem ini tidak diatur untuk menembak di luar area yang dilindungi, dan roket yang tidak membahayakan manusia atau bangunan biasanya diabaikan dan dibiarkan jatuh. Sebuah laporan Congressional Research Service (CRS) tahun 2023 menggambarkan Iron Dome sebagai sistem bergerak anti-roket, anti-mortir, dan anti-artileri yang dapat mencegat peluncuran dari jarak 4 hingga 70 kilometer. Diperkirakan setidaknya ada 10 baterai yang ditempatkan di seluruh negeri, masing-masing dirancang untuk melindungi area berpenduduk seluas sekitar 155 km². Setiap baterai dilengkapi dengan 3 hingga 4 peluncur dan setiap peluncur memuat hingga 20 rudal Tamir. Center for Strategic International Studies (CSIS), lembaga kajian Amerika Serikat, memperkirakan bahwa satu baterai Iron Dome menelan biaya lebih dari US$ 100 juta untuk diproduksi atau sekitar Rp 1,68 triliun.
Sebagian besar dana ini disahkan oleh Kongres AS, di mana mayoritas bipartisan secara konsisten mendukung pendanaan untuk Iron Dome Israel. Kelemahan Iron Dome Namun, Iron Dome juga memiliki kelemahan. Para analis memperingatkan bahwa sistem pertahanan ini dapat mengalami tantangan ketika harus merespons tembakan roket dalam jumlah besar. Center for European Policy Analysis (CEPA), lembaga kajian AS, menyatakan pada Juni 2021 bahwa sistem ini berpotensi rentan terhadap serangan "saturasi" - serangan yang dirancang untuk membanjiri perisai Iron Dome dengan serangan rudal secara bersamaan dari berbagai arah. Terlepas dari sukses para pejuang Hamas tahun lalu dan Iran pekan lalu, faktanya, sistem pertahanan Iron Dome tak hanya dimiliki Israel. Iron Dome merujuk pada perisai rudal yang dirancang untuk mencegat roket jarak pendek, serta peluru dan mortir, pada jarak antara 4 km dan 70 km dari peluncur rudal. Selain Israel, Negara Mana Saja yang Memiliki Iron Dome? Sejumlah negara telah membeli teknologi serupa untuk pertahanan wilayahnya. Sejak Iron Dome sukses beroperasi pada 2011, sejumlah negara lain di Eropa dan Asia telah membeli atau mempertimbangkan pembelian komponen radar atau seluruh Iron Dome untuk melindungi wilayahnya. Tingginya permintaan terhadap Iron Dome tak lepas dari situasi global yang penuh ancaman. Di sisi lain, Israel dianggap terbukti mampu menghadirkan teknologi keamanan mumpuni.
Sejak 2011, Amerika Serikat telah memberikan dana miliaran dolar kepada Israel untuk baterai Iron Dome, rudal pencegat, biaya produksi bersama, dan pemeliharaan umum sejak sistem ini mulai beroperasi.
Sejumlah negara telah membeli teknologi serupa untuk pertahanan wilayahnya. Sejak Iron Dome sukses beroperasi pada 2011, sejumlah negara lain di Eropa dan Asia telah membeli atau mempertimbangkan pembelian komponen radar atau seluruh Iron Dome untuk melindungi wilayahnya. Tingginya permintaan terhadap Iron Dome tak lepas dari situasi global yang penuh ancaman. Di sisi lain, Israel dianggap terbukti mampu menghadirkan teknologi keamanan mumpuni.
Negara Azerbaijan juga diketahui telah membeli sistem ini sejak 2016, menjadikannya negara pertama yang memiliki Iron Dome secara resmi di luar Israel. Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk menyeimbangkan kekuatan regional, terutama setelah tetangganya, Armenia, memperoleh rudal Iskander. Singapura, meskipun tidak pernah mengonfirmasi secara terbuka, diduga kuat telah memiliki dan mengoperasikan sistem ini sejak pertengahan 2010-an. Negara ini dikenal sebagai salah satu pelanggan strategis pertahanan Israel dan telah berinvestasi dalam berbagai sistem pertahanan canggih. Pieter Wezeman, peneliti senior di Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), mengatakan banyak negara membutuhkan sistem pertahanan yang dapat memberikan tingkat pertahanan terhadap rudal peluncuran darat, pesawat udara tanpa awak, dan pesawat tempur yang semakin canggih. Hal ini dipicu adanya perang berkepanjangan di Timur Tengah hingga kini, ketegangan dan penembakan sesekali di Semenanjung Korea, penggunaan rudal terhadap target di Arab Saudi oleh Houthi, dan penggunaan besar-besaran rudal terhadap Ukraina oleh Rusia. "Israel berada di garis depan dalam teknologi semacam ini dan telah menemukan sejumlah pembeli di seluruh dunia, baru-baru ini termasuk Maroko dan mungkin Uni Emirat Arab, untuk sistem pertahanan udara dan rudalnya," kata Pieter.
Sistem ini ditargetkan mulai beroperasi dalam waktu tiga tahun ke depan, dengan pendanaan awal sebesar US$25 miliar atau sekitar Rp410 triliun dan potensi total biaya mencapai US$175 miliar atau sekitar Rp2870 triliun. Trump menyatakan bahwa sistem ini akan menggabungkan teknologi pertahanan yang ada dengan inovasi terbaru dalam strategi pertahanan berlapis. Golden Dome direncanakan akan mencakup komponen berbasis satelit untuk mendeteksi dan melacak rudal yang masuk, serta sistem pencegat yang mampu menghancurkan ancaman dari udara maupun luar angkasa. Proyek ini akan dipimpin oleh Jenderal Michael Guetlein dari Angkatan Luar Angkasa AS, dengan dukungan dari perusahaan-perusahaan teknologi seperti SpaceX, Palantir, dan Anduril. Trump menargetkan sistem ini akan beroperasi penuh pada akhir masa jabatannya.
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, Mei 2025, telah mengumumkan rencana ambisius untuk membangun sistem pertahanan rudal bernama "Golden Dome," yang terinspirasi dari sistem Iron Dome milik Israel.
(mae/mae)
Addsource on Google


















































