Iran-AS Damai atau Tidak, Minyak Murah US$60 Tinggal Kenangan

3 hours ago 5

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

17 June 2026 15:15

Jakarta, CNBC Indonesia- Harga minyak dunia memang turun setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mengumumkan memorandum kesepahaman (MoU) yang membuka jalan bagi penghentian konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun penurunan tersebut belum mengubah pandangan banyak analis energi. Harga minyak diperkirakan tetap bertahan di level tinggi selama beberapa bulan ke depan, bahkan ketika kesepakatan damai akhirnya terealisasi.

Sebagai catatan, pada perdagangan Selasa (16/6/2026), kontrak berjangka Brent turun 5,06% dan ditutup di US$78,96 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 5,82% ke US$76,05 per barel.

Ini merupakan penutupan pertama di bawah US$80 per barel bagi kedua kontrak sejak awal Maret.

Pada perdagangan hari ini, Rabu (17/6/2026) pukul 14.45 WIB, harga minyak brent melandai 0,4% ke US$78,64 per barel sementara minyak WTI melemah 0,7% ke US$ 75,53 per barel.

Melansir The Economist, pasar energi sempat menyambut positif kabar tersebut karena Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global.

Sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan sebagian besar ekspor gas alam cair (LNG) dari kawasan Teluk melewati perairan ini. Setelah pengumuman kesepakatan, harga Brent turun ke bawah US$80 per barel dari posisi di atas US$110 per barel pada Mei lalu.

Masalahnya, berakhirnya konflik tidak otomatis membuat pasokan kembali normal.

Jalur pelayaran yang selama perang dipenuhi risiko keamanan masih membutuhkan proses pemulihan. Ranjau laut harus dibersihkan terlebih duliu, kapal tanker harus kembali masuk ke kawasan Teluk, fasilitas penyimpanan perlu dikosongkan, sementara kilang dan jaringan distribusi harus beroperasi penuh lagi. Seluruh proses tersebut membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Kapal Lalu Lalang di Selat HormuzKapal Lalu Lalang di Selat Hormuz Foto: The Economist

Laporan tersebut menyebutkan bahwa banyak pembeli minyak masih bersikap hati-hati. Aktivitas pemesanan kargo baru belum pulih sepenuhnya karena perusahaan pelayaran dan asuransi masih menghitung risiko yang tersisa.

Beberapa perusahaan memang mulai mencari kapal untuk mengangkut minyak dari kawasan Teluk dalam beberapa hari ke depan, namun sebagian besar operator memilih menunggu kondisi pelayaran yang lebih aman.

Kendala terbesar berada di Selat Hormuz. Jalur pelayaran utama masih harus dibersihkan dari ranjau yang dipasang selama konflik berlangsung. Amerika Serikat telah menempatkan armada penyapu ranjau di kawasan tersebut dan mendapat dukungan dari Inggris serta Prancis.

Walaupun proses pembersihan berlangsung cepat, sejumlah pelaku industri memperkirakan kondisi pelayaran baru benar-benar pulih dalam waktu lebih dari enam minggu.

Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia? Foto: Infografis/Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?/Aristya Rahadian

Pemulihan produksi minyak di kawasan Teluk juga berjalan bertahap.

Sebagian besar lapangan minyak di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dilaporkan tidak mengalami kerusakan berat. Negara-negara produsen memiliki ruang untuk meningkatkan produksi karena sebelumnya memangkas output saat kapasitas penyimpanan mulai penuh. Produksi dari ladang-ladang besar diperkirakan menjadi yang pertama kembali beroperasi.

Sejumlah analis memperkirakan produksi minyak kawasan Teluk baru mencapai sekitar 30%-50% dari level sebelum perang pada pertengahan Juli. Angka tersebut diperkirakan naik menjadi 60%-70% pada pertengahan September. Menjelang akhir tahun, produksi diperkirakan berada di kisaran 80%-90% dari kondisi normal sebelum konflik pecah.

Dengan laju pemulihan seperti itu, dunia masih menghadapi keterbatasan pasokan dalam beberapa bulan mendatang. Morgan Stanley memperkirakan pasar minyak global akan mengalami defisit pasokan sekitar 3,4 juta barel per hari pada kuartal III-2026. Kondisi tersebut membuat persediaan minyak dunia yang sudah berada di level rendah terus terkuras.

Proyeksi Morgan Stanley menempatkan rata-rata harga Brent untuk pengiriman jangka dekat di kisaran US$90 per barel selama Juli hingga September 2026. Pada kuartal terakhir tahun ini, harga diperkirakan berada di sekitar US$80 per barel. Angka tersebut lebih tinggi sekitar US$20 dibandingkan proyeksi bank tersebut pada Februari lalu.

Dari sisi permintaan, pemulihan berpotensi berlangsung lebih cepat dibanding pasokan. China menjadi salah satu faktor yang mendapat perhatian besar. Selama konflik berlangsung, impor minyak negara tersebut turun sekitar 5 juta barel per hari. Ketika jalur perdagangan kembali terbuka dan aktivitas ekonomi membaik, kebutuhan impor berpotensi meningkat kembali dalam waktu relatif singkat.

Risiko lain berasal dari kebijakan baru Iran terhadap Selat Hormuz. Pemerintah Iran telah membentuk otoritas khusus yang mengelola lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut. Sejumlah pejabat Iran memberi sinyal bahwa biaya atau pungutan tertentu dapat diterapkan kepada kapal yang melintas setelah masa transisi berakhir.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |