IHSG-Rupiah Hari Ini Bertarung Melawan "Panasnya" Ekonomi Amerika

4 hours ago 1
  • Pasar keuangan Tanah Air mulai bernapas lega, IHSG rebound hingga rupiah menguat setelah empat hari melemah
  • Wall Street lagi-lagi berbeda arah di tengah aksi jual saham teknologi
  • Pasar hari ini akan mencermati respons lanjutan terhadap data ekonomi AS, sampai pada kenaikan bunga penjaminan LPS, serta jadwal rencana penerbitan Panda Bond.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia mulai berbalik arah pada perdagangan Kamis kemarin (25/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rebound tajam dan rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun kembali dijual investor.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan mampu bergerak positif pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (26/6/2026). Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Investor saham di Tanah Air bernapas lega pada perdagangan Kamis kemarin. Setelah sehari sebelumnya IHSG anjlok 3,56%, indeks berhasil berbalik menguat tajam dengan seluruh sektor berada di zona hijau.

IHSG sempat dibuka di zona merah sebelum akhirnya melaju kencang dan naik 1,96% ke level 5.999,04 pada penutupan perdagangan sesi kedua.

Penguatan IHSG juga tercermin dari pergerakan mayoritas saham. Tercatat sebanyak 537 saham menguat, 135 saham melemah, dan 141 saham bergerak stagnan.

Meski menguat signifikan, nilai transaksi tidak terlalu ramai, yakni sebesar Rp13,65 triliun. Volume perdagangan mencapai 22,58 miliar saham dalam 1,70 juta kali transaksi.

Kapitalisasi pasar masih berada di bawah Rp11.000 triliun, tepatnya sebesar Rp10.542 triliun. Namun demikian, investor asing masih kembali mencatatkan aksi jual di seluruh pasar dengan total mencapai Rp299 miliar. 

Berdasarkan data Refinitiv, penguatan IHSG berlangsung secara luas karena seluruh sektor berada di zona hijau. Sektor teknologi menjadi yang paling kencang dengan kenaikan 3,56%, disusul sektor konsumer primer yang naik 3,08%, serta sektor industri yang menguat 1,76%.

Dari sisi kontributor indeks, saham-saham berkapitalisasi besar menjadi motor utama penguatan. PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 19,73 poin terhadap IHSG.

Selanjutnya, PT Astra International Tbk (ASII) menyumbang 11,17 poin, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) 9,37 poin, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 6,27 poin, dan PT Merdeka Copper and Gold Tbk (MDKA) 4,72 poin.

Dukungan juga datang dari saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).

Penguatan IHSG menjadi sinyal technical rebound setelah tekanan besar pada perdagangan sebelumnya. Namun, pelaku pasar masih akan mencermati apakah penguatan ini berlanjut atau hanya menjadi pemulihan sementara setelah aksi jual tajam.

Beralih pasar valuta asing, nilai tukar rupiah juga berhasil membalikkan posisi terhadap dolar AS dan ditutup menguat pada perdagangan Kamis.

Melansir data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup di posisi Rp17.915/US$ atau menguat tipis 0,06%. Penguatan ini menjadi kabar positif setelah dalam empat perdagangan sebelumnya rupiah konsisten mengakhiri perdagangan di zona merah.

Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah sempat dibuka melemah pada pagi hari. Namun, seiring berjalannya waktu, mata uang Garuda berhasil membalikkan keadaan hingga akhirnya ditutup menguat.

Rupiah bergerak di rentang Rp17.910-Rp17.970/US$ sepanjang perdagangan.

Rupiah berhasil menguat di tengah posisi dolar AS yang masih cukup dominan di pasar global. Meski indeks dolar AS (DXY) melemah tipis pada sore hari, posisinya masih berada di level tinggi.

Dolar AS sebelumnya sempat menembus level tertinggi dalam 13 bulan terakhir. Pada Rabu (24/6/2026), DXY menyentuh level 101,8 seiring ekspektasi pasar terhadap ekonomi AS yang masih kuat dan potensi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.

Kuatnya dolar AS membuat ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, cenderung terbatas. Namun, pelemahan tipis DXY pada sore hari memberi ruang bagi rupiah untuk berbalik menguat setelah empat hari beruntun tertekan.

Dari pasar obligasi, yield SBN tenor 10 tahun melonjak 0,21% ke level 7,182% pada perdagangan Kamis kemarin. Kenaikan yield menunjukkan harga SBN sedang turun. Kondisi ini biasanya mencerminkan adanya tekanan jual di pasar obligasi, karena imbal hasil dan harga obligasi bergerak berlawanan arah.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |