Hormuz Membara! Asia Siapkan Perisai Krisis Energi, China Paling Kuat

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik Iran yang memicu penutupan praktis Selat Hormuz mulai mengguncang pasar energi dan ekonomi Asia. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global yang biasanya melewati jalur tersebut kini terhambat, memicu lonjakan harga energi dan tekanan pada pasar keuangan di kawasan Indo-Pasifik.

Melansir The Diplomat, dampaknya langsung terasa di pasar saham Asia yang berguguran sejak awal pekan. Harga minyak mentah Brent bahkan menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Namun, dampak krisis energi ini tidak merata di seluruh Asia. Empat negara besar, yakni China, India, Jepang, dan Korea Selatan, menyumbang permintaan sekitar 69% dari minyak mentah yang biasanya melintas di Selat Hormuz dengan tetapi kemampuan mereka menghadapi guncangan pasokan sangat berbeda.

China dinilai berada pada posisi relatif lebih kuat. Negara tersebut memiliki sekitar 1,2 miliar barel cadangan minyak mentah di darat, yang cukup untuk menutupi sekitar 108 hari impor dengan kapasitas kilang saat ini. Selain itu, minyak dan gas hanya menyumbang sekitar 4% dari produksi listrik China, jauh lebih kecil dibandingkan 40%-50% di banyak negara Asia lainnya.

Di sisi lain, Jepang dan Korea Selatan menghadapi risiko yang lebih besar. Jepang memperoleh lebih dari 90% minyak mentahnya dari Timur Tengah, dengan sekitar 70% melewati Selat Hormuz. Korea Selatan juga membeli sekitar 70% minyaknya dari kawasan yang sama. Walaupun kedua negara memiliki cadangan minyak strategis lebih dari 200 hari, pasokan LNG menjadi titik rawan.

Persediaan LNG Korea Selatan di terminal impor hanya cukup untuk sekitar sembilan hari konsumsi, sementara Jepang diperkirakan memiliki cadangan dua hingga empat minggu. Karena LNG tidak memiliki cadangan strategis global seperti minyak, gangguan distribusi dapat memicu krisis energi lebih cepat.

Pemerintah Korea Selatan pun mengumumkan pembatasan harga bahan bakar untuk pertama kalinya dalam hampir 30 tahun serta menyiapkan dana stabilisasi sebesar 100 triliun won (sekitar Rp1.154 triliun). Jepang juga mulai mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak strategis guna menstabilkan pasokan domestik.

Negara-negara Asia Tenggara juga terdampak, meski tingkatnya berbeda. Singapura dan Thailand sangat bergantung pada LNG dari Qatar, masing-masing sekitar 42% dari total impor. Thailand bahkan menghentikan ekspor minyak mentah sejak awal Maret. Sementara itu, Filipina yang hampir seluruh minyaknya berasal dari Timur Tengah menerapkan kebijakan penghematan energi di sektor pemerintah.

Di tengah gejolak ini, Rusia justru berpotensi menjadi pihak yang diuntungkan. Minyak Rusia yang dikirim melalui jalur Baltik, Laut Hitam, dan Pasifik tidak melewati Selat Hormuz. Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak menyatakan Moskow "siap meningkatkan pasokan" minyak ke China dan India, yang kini menghadapi gangguan pasokan dari Teluk Persia.

Lonjakan harga minyak juga meningkatkan pendapatan energi Rusia, yang sebelumnya sempat turun dalam empat tahun terakhir. Pendapatan tambahan tersebut dinilai dapat membantu Moskow membiayai perang di Ukraina.

Meski demikian, beberapa pejabat menilai krisis ini tidak akan berlangsung terlalu lama. Menteri Energi AS Chris Wright memperkirakan gangguan di Selat Hormuz hanya akan berlangsung "beberapa minggu, tentu bukan beberapa bulan."

(tfa/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |