Hidup Manusia Terancam Berantakan Sampai Bumi Lumpuh Total

17 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - NASA memperingatkan bahwa kita telah meremehkan kekuatan dahsyat badai matahari ekstrem yang hanya terjadi sekali dalam 1.000 tahun. Penelitian terbaru menunjukkan dampaknya bisa jauh lebih buruk bagi teknologi modern dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Laporan ini dipublikasikan di situs Gizmodo pada 19 Juli 2026, berdasarkan studi yang dipimpin oleh Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA dan diterbitkan dalam jurnal Nature.

Selama puluhan tahun, para ilmuwan berasumsi bahwa medan magnet Bumi memiliki batas maksimal dalam menahan energi badai Matahari. Namun, analisis terhadap lebih dari satu juta data pengukuran angin Matahari menunjukkan hal sebaliknya, tidak ada bukti statistik bahwa ada batas atas energi yang bisa diserap oleh lapisan ionosfer kutub Bumi.

Artinya makin kuat ledakan dari Matahari, makin besar pula gangguan yang bisa terjadi di Bumi tanpa ada batas yang dapat diprediksi saat ini.

Kesalahan lama muncul karena sebagian besar pengukuran diambil dari satelit yang berada jauh di depan Bumi (titik Lagrange L1), tempat energi angin Matahari sudah melemah sebelum sampai ke planet kita. Ketika tim peneliti menggunakan data dari satelit yang mengorbit lebih dekat ke Bumi, pola yang terlihat berbeda sepenuhnya.

"Kita biasanya berasumsi bahwa nilai sebenarnya berada di sekitar angka yang terukur. Namun teori probabilitas menunjukkan nilainya cenderung condong ke satu sisi, itulah sebabnya risiko cuaca antariksa tampak diremehkan," ujar Nithin Sivadas, penulis utama studi ini.

Jika badai matahari tingkat "seribu tahun sekali" terjadi, dampaknya bisa sangat merusak. Jaringan listrik terganggu akibat arus listrik yang diinduksi di daratan bisa membebani transformator besar dan memadamkan aliran listrik selama berbulan-bulan di wilayah yang sangat luas.

Lalu, ada gangguan satelit yang terjadi karena atmosfer yang memuai sehingga menambah hambatan bagi satelit di orbit rendah. Satelit bisa kehilangan ketinggian lebih cepat dan berisiko jatuh sebelum waktunya. Perangkat elektronik di dalamnya juga bisa rusak karena radiasi tinggi.

Kemudian, sinyal GPS dan komunikasi bisa meleset hingga hilang sehingga mengganggu penerbangan, pelayaran, hingga sistem perbankan dan internet.

Para peneliti menegaskan temuan ini bukan berarti badai dahsyat semacam itu akan terjadi dalam waktu dekat. Namun, karena masyarakat makin bergantung pada teknologi yang rentan, kita perlu memperbarui perhitungan risiko dan memperkuat infrastruktur sejak dini.

Peristiwa sejenis yang tercatat dalam sejarah adalah Peristiwa Carrington tahun 1859 saat badai Matahari begitu kuat hingga membuat sistem telegraf di Eropa dan Amerika Serikat lumpuh total, serta cahaya aurora terlihat hingga ke selatan seperti Kuba dan Hawaii. Jika hal serupa terjadi sekarang dengan kekuatan yang ternyata lebih besar dari dugaan, kerugiannya bisa mencapai ribuan triliun rupiah.

(dem/dem)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |