Harga Minyak Sudah Tembus US$100/Barel Lagi, Ini Tanggapan ESDM

2 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) angkat suara perihal harga minyak global yang saat ini kembali menembus US$ 100 per barel. Padahal harga minyak dunia sudah sempat merosot ke level US$ 86 per barel.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan bahwa pemerintah terus memantau pergerakan harga minyak global. Hal itu lantaran Indonesia sendiri saat ini masih bergantung pada impor minyak yang menggunakan harga internasional.

"Kita memantau terus itu pergerakan harga. Ini per pagi ini kalau enggak salah, nah ini, US$ 100 ini internasional. Yang crude (minyak mentah) ini US$ 94, yang Brent itu US$ 100,3. Ya kita mantau terus," ungkap Yuliot saat ditemui di Kantor BPH Migas, Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Perlu diketahui, merujuk data Refinitiv, harga minyak Brent pada Kamis pukul 11.31 WIB ada di posisi US$ 110,02 per barel atau melesat 8,7%. Sementara itu, harga WTI ada di US$ 94,21 per barel atau melesat 8%.

Kenaikan harga minyak hari ini memperpanjang lonjakan harga di mana Brent juga melesat 4,7% pada perdagangan Rabu dan WTI meledak 4,6%.

Harga minyak memanas setelah pemerintah Iran memperingatkan dunia agar bersiap menghadapi lonjakan harga minyak hingga US$ 200 per barel, di tengah eskalasi perang yang makin luas dan gangguan serius terhadap jalur distribusi energi internasional.

Peringatan tersebut disampaikan setelah pasukan Iran dilaporkan menyerang kapal-kapal dagang di perairan Teluk pada Rabu (11/3/2026), sementara Badan energi internasional (International Energy Agency/IEA) telah sepakat melepas cadangan minyak strategis hingga 400 juta barel untuk meredam guncangan pasokan energi yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terburuk sejak krisis minyak 1970-an.

Amerika Serikat akan menjadi kontributor terbesar dengan melepas 172 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve mulai pekan depan. Jepang juga menyatakan akan segera melepas sekitar 80 juta barel dari cadangan nasional dan swasta guna membantu menenangkan pasar energi global.

"Bersiaplah harga minyak menjadi US$200 per barel, karena harga minyak bergantung pada keamanan regional, yang telah Anda destabilisasi," kata juru bicara komando militer Iran Ebrahim Zolfaqari dalam pernyataan yang ditujukan kepada Washington, dilansir Reuters.

Pergerakan minyak sejak akhir Februari berlangsung sangat cepat. Pada 27 Februari 2026, Brent masih berada di US$ 72,48 dan WTI US$ 67,02. Dalam waktu kurang dari dua pekan, harga melonjak lebih dari 38%, didorong oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang langsung mengguncang jalur pasokan energi global.

Harga sempat melonjak pada awal pekan ini, sebelum turun sementara. Pada 9 Maret, Brent mencapai US$ 98,96 dan WTI US$ 94,77, kemudian merosot dua hari berikutnya hingga Brent berada di US$ 87,8 pada 10 Maret. Namun situasi kembali memanas ketika konflik militer di kawasan Teluk memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan minyak dunia.

Pada perdagangan Senin pagi (9/3/2026), hingga pukul 09.20 WIB, harga Brent bahkan sempat tercatat di US$ 113,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$ 113,25 per barel. Lonjakan ini memperpanjang reli ekstrem yang telah berlangsung sejak akhir Februari.

Melansir dari Reuters, Iran meningkatkan serangan terhadap kapal dan fasilitas energi di kawasan Timur Tengah. Dua kapal tanker dilaporkan terbakar di perairan Irak setelah dihantam kapal bermuatan bahan peledak yang diduga dikendalikan Iran. Serangan tersebut memicu kebakaran besar di laut dekat Basra dan menghentikan operasi sejumlah pelabuhan minyak.

Ketegangan ini juga merambat ke Selat Hormuz, jalur vital energi global yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Melansir dari Reuters, hingga kini belum ada kepastian bahwa kapal dapat berlayar dengan aman melalui jalur tersebut. Situasi semakin rumit setelah muncul laporan bahwa Iran menempatkan ranjau laut di perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.

(wia)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |