Harga Batu Bara Melemah, India Jadi Biang Kerok?

15 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melemah setelah harga minyak jatuh.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Selasa (4/8//2026) ditutup di posisi US$ 132,35 per ton atay jatuh 1,41%.

Pelemahan ini berbanding terbalik dengan penguatan 0,19% pada Senin.

Harga batu bara melemah, utamanya dipicu anjloknya harga minyak.

Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup turun 5,% ke US$75,77 per barel. Sementara minyak Brent, patokan internasional, merosot 5,26% ke US$79,36 per barel.

Harga juga melemah karena masih belum kencangnya permintaan.

Permintaan impor batu bara India masih lesu di tengah melimpahnya pasokan domestik dan tingginya stok pembangkit listrik. Musim hujan yang menekan konsumsi energi industri juga membuat India belum mampu menjadi motor penggerak harga batu bara global.

Di sisi lain, produksi batu bara dari tambang captive dan komersial India melonjak 9,61% secara tahunan menjadi 14,78 juta ton pada Juli 2026. Kenaikan produksi ini semakin mengurangi ketergantungan India pada impor sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Secara keseluruhan, harga batu bara Asia mulai pulih dari koreksi tajam awal Juli. Namun, penguatan harga saat ini lebih ditopang oleh disiplin pasokan, sementara permintaan masih cenderung lemah, terutama dari India. China tetap menjadi penopang utama stabilitas harga di kawasan.

Sementara itu, harga batu bara termal di pelabuhan-pelabuhan China utara menguat terbatas.

Penguatannya tertahan karena persediaan batu bara yang masih melimpah dan pembeli yang cenderung berhati-hati.

Harga batu bara termal di pelabuhan utama China utara naik ditopang pasokan domestik masih relatif ketat setelah inspeksi keselamatan tambang pascakecelakaan besar di Shanxi.

Meski demikian, kenaikan harga terbatas karena stok batu bara di sejumlah pelabuhan selatan China terus meningkat.

Data Sxcoal menunjukkan stok batu bara di Pelabuhan Fangcheng mencapai 3,83 juta ton per 24 Juli, melonjak 29,3% dibanding bulan sebelumnya dan naik 23,1% secara tahunan.

Stok di Pelabuhan Guangzhou juga naik menjadi 3,39 juta ton, meningkat 6,1% dibanding bulan sebelumnya dan 12,9% dibanding tahun lalu.

Utilitas listrik dan pembeli akhir memilih membeli seperlunya karena kebutuhan musim panas sebagian besar sudah terpenuhi dan mereka menunggu arah harga berikutnya.

(mae/mae)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |