Jakarta, CNBC Indonesia - Google memperingatkan bank, pemerintah, dan penyedia teknologi untuk segera meningkatkan sistem keamanan digital. Peringatan ini muncul seiring potensi ancaman dari komputer kuantum yang diperkirakan mampu membobol enkripsi saat ini dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam pernyataan resminya, Google menyebut teknologi komputasi kuantum berpotensi menjadi "ancaman signifikan terhadap standar kriptografi saat ini" sebelum akhir dekade ini. Perusahaan juga menetapkan target ambisius, yakni mendorong migrasi ke kriptografi pasca-kuantum (post-quantum cryptography/PQC) paling lambat 2029.
"Enkripsi yang saat ini digunakan untuk menjaga informasi tetap rahasia dapat dengan mudah dibobol oleh komputer kuantum skala besar dalam beberapa tahun mendatang," tulis Google dalam blog resminya, dikutip Sabtu (28/3/2026).
Perusahaan induk Alphabet itu menegaskan, langkah transisi ke sistem enkripsi baru harus segera dilakukan, terutama untuk layanan otentikasi dan tanda tangan digital yang menjadi tulang punggung keamanan daring.
Google bahkan telah menyesuaikan model ancamannya dengan memprioritaskan migrasi PQC dan merekomendasikan langkah serupa diikuti oleh pelaku industri lain.
"Kami merekomendasikan agar tim teknik lainnya mengikuti langkah ini," tulis perusahaan tersebut.
Selain Google, sejumlah raksasa teknologi seperti Microsoft serta berbagai universitas di Inggris dan Amerika Serikat (AS) juga tengah berlomba mengembangkan komputer kuantum. Teknologi ini memanfaatkan prinsip mekanika kuantum untuk menyelesaikan perhitungan kompleks yang tidak dapat ditangani komputer konvensional.
Meski demikian, pengembangan komputer kuantum masih menghadapi berbagai tantangan teknis. Sistem yang ada saat ini dinilai masih terlalu kecil dan belum cukup kuat untuk memecahkan enkripsi modern secara luas. Dibutuhkan komputer dengan ratusan ribu hingga jutaan qubit stabil agar dapat mencapai kemampuan tersebut.
Leonie Mueck, mantan kepala produk di perusahaan rintisan kuantum Riverlane, mengatakan peringatan Google tidak serta merta berarti ancaman tersebut akan terjadi tepat pada 2029. Namun, ia menegaskan risiko tersebut sudah cukup dekat untuk diantisipasi sejak sekarang.
"Pada dasarnya kita melihat di komunitas intelijen bahwa mungkin selama lebih dari satu dekade mereka telah memikirkan ancaman ini," ujar Mueck.
Ia menambahkan, banyak pihak kini mulai mengantisipasi skenario "simpan sekarang, dekripsi nanti", di mana data yang dienkripsi saat ini bisa saja dibobol di masa depan ketika komputer kuantum telah berkembang lebih matang.
Mueck menekankan pentingnya perlindungan data jangka panjang. "Dokumen dari 10 tahun lalu masih relevan dan tidak boleh jatuh ke tangan yang salah di masa depan. Anda perlu memastikan data rahasia hari ini tetap aman bahkan terhadap komputer kuantum di masa depan," jelasnya.
Sejumlah otoritas juga telah mengeluarkan peringatan serupa. Badan keamanan siber Inggris, National Cyber Security Centre, misalnya, meminta organisasi bersiap menghadapi ancaman peretasan kuantum paling lambat 2035.
(dce)
Addsource on Google


















































