Gambar udara memperlihatkan hamparan pasir yang muncul di permukaan Sungai Vistula dekat Jozefow. Daratan bak pulau-pulau kecil terlihat dan ditumbuhi rumput.
Gambar dari udara memperlihatkan hamparan pasir yang muncul di permukaan Sungai Vistula dekat Jozefow, di pinggiran Warsawa, Polandia, Selasa. Ini terjadi akibat surutnya debit air yang dipicu gelombang panas berkepanjangan. Perlu diketahui, Polandia kini menghadapi ancaman kekeringan yang semakin parah setelah permukaan sejumlah sungai utama mencapai titik terendah dalam sejarah pencatatan. Kondisi tersebut diperburuk oleh gelombang panas baru yang mendorong suhu di wilayah selatan negara itu mendekati 40 derajat Celsius. (REUTERS/Kacper Pempel)
Melansir Reuters Rabu (5/8/2026), ahli hidrologi dari Institut Meteorologi dan Pengelolaan Air (IMGW) di Warsawa, Pawel Staniszewski, mengatakan Polandia berpotensi mengalami kekeringan terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, peringatan kekeringan kini telah diberlakukan di seluruh negeri seiring terus menurunnya debit aliran sungai. Terlihat daratan bak pulau-pulau kecil muncul. (REUTERS/Kacper Pempel)
Salah satu dampak paling nyata terlihat di Sungai San, Kota Stalowa Wola, yang pekan lalu mencatat rekor permukaan air terendah. Kondisi tersebut memaksa pemerintah setempat memberlakukan pembatasan penggunaan air bagi sektor industri. Penurunan debit air juga terjadi di Sungai Vistula, sungai terpanjang di Polandia. (REUTERS/Kacper Pempel)
"Selama 70 tahun hidup saya, saya belum pernah melihat permukaan air serendah ini. Hari ini orang bisa menyeberanginya hanya dengan mengenakan celana pendek, padahal bertahun-tahun yang lalu ketinggian air bisa mencapai leher," kata dalah satu warga, Edward Gazda, pensiunan berusia 70 tahun. "Rumput kini tumbuh di area yang sebelumnya selalu terendam air." (REUTERS/Kacper Pempel)
Staniszewski menjelaskan wilayah selatan Polandia menjadi daerah yang paling terdampak, meski ratusan stasiun pemantauan di seluruh negeri juga mencatat aliran sungai yang sangat rendah. Ia memperingatkan bahwa kondisi tersebut dapat mengganggu sektor pertanian, industri, hingga infrastruktur. Menurutnya, penyebab utama kekeringan bukan hanya suhu udara yang tinggi, melainkan minimnya curah hujan yang berlangsung secara berkepanjangan. (REUTERS/Kacper Pempel)


















































