Fenomena Ribuan Buku Diborong Buat Dimusnahkan Setiap Hari Bikin Geger

2 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri buku fisik menghadapi ancaman di tengah perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI). Perusahaan AI kini memborong buku dalam jumlah besar, bukan untuk dibaca, melainkan diduga untuk menjadi bahan melatih model AI.

Fenomena ini mulai terasa di sejumlah toko buku bekas di Inggris. Barter Books, salah satu toko buku bekas di Northumberland, biasanya menjual sekitar 2.000 hingga 3.000 buku dalam sepekan. Namun, baru-baru ini toko tersebut menerima pesanan dalam jumlah yang sama hanya dalam satu hari dari sebuah perusahaan di Kanada.

Sejumlah toko buku lain di wilayah tersebut juga mengalami lonjakan permintaan serupa. Para pemilik toko memang belum dapat memastikan untuk apa ribuan buku tersebut digunakan. Tapi di satu sisi, perkembangan kasus hukum yang melibatkan perusahaan AI memberikan petunjuk kuat mengenai kemungkinan tujuan pembelian tersebut.

Perusahaan AI dalam beberapa bulan terakhir memang menghadapi tekanan besar dari industri penerbitan dan para penulis terkait penggunaan karya berhak cipta untuk melatih model AI.

Anthropic, misalnya, baru-baru ini mencapai salah satu penyelesaian kasus pelanggaran hak cipta terbesar dalam sejarah. Perusahaan tersebut setuju membayar US$1,5 miliar kepada lebih dari 300.000 penulis yang mengajukan gugatan terhadap perusahaan AI itu dua tahun lalu.

Sementara itu, OpenAI masih mendapat sejumlah gugatan pelanggaran hak cipta dari berbagai pihak, termasuk The New York Times, Encyclopaedia Britannica, komedian Sarah Silverman, hingga sejumlah penulis nonfiksi.

Para penggugat menuduh OpenAI menyalin buku mereka untuk melatih large language model (LLM) dan menyebut perusahaan tersebut telah menikmati keuntungan finansial yang sangat besar dari eksploitasi materi berhak cipta.

Anehnya, kasus Anthropic justru membuka celah bagi perusahaan AI untuk memperoleh materi pelatihan secara legal. Pengadilan memutuskan bahwa perusahaan tidak melanggar hukum ketika melatih AI menggunakan karya berhak cipta selama perusahaan membeli buku yang digunakan tersebut. Hakim lain juga mengambil keputusan serupa dalam kasus Meta pada tahun lalu.

Kondisi ini membuat buku bekas menjadi pilihan yang lebih murah bagi perusahaan AI untuk memperoleh sumber materi dalam jumlah besar. Selain itu, sejumlah penerbit kemungkinan enggan memberikan buku secara langsung kepada perusahaan AI jika mengetahui tujuan penggunaannya.

Kasus Anthropic juga mengungkap keberadaan program internal bernama "Project Panama". Anthropic menyebut proyek tersebut sebagai upaya untuk memindai secara destruktif seluruh buku di dunia.

Dalam salah satu memo yang menjadi bukti persidangan, perusahaan menjelaskan bahwa metode pelatihan tersebut menggunakan nama sandi karena "kami tidak ingin diketahui bahwa kami sedang mengerjakan ini."

Metode yang dimaksud adalah destructive scanning. Dalam proses tersebut, buku fisik dibongkar hingga lembaran-lembarannya terpisah. Setiap halaman kemudian dimasukkan ke mesin pemindai berkecepatan tinggi agar informasinya dapat diproses oleh model AI.

Setelah proses pemindaian selesai, halaman-halaman buku tersebut biasanya dibuang, didaur ulang, atau dihancurkan menjadi bubur kertas.

Anthropic membantah menggunakan buku langka dalam program tersebut. Kepada BBC, perusahaan menyatakan, "Tidak satu pun program akuisisi data kami membeli dan menghancurkan buku langka atau antik."

Namun, Anthropic kemungkinan bukan satu-satunya perusahaan AI yang menggunakan metode tersebut. Perusahaan lain bisa saja menerapkan pemindaian destruktif dengan aturan berbeda.

Buku langka dan antik bahkan berpotensi menjadi sumber data yang sangat berharga bagi AI karena kerap menyimpan informasi yang tidak tersedia dalam buku-buku umum.

Salah satu pengiriman buku baru-baru ini, misalnya, diketahui mencakup setidaknya satu buku langka. Pengiriman tersebut kemudian terlacak menuju fasilitas pelatihan AI milik Amazon di Las Vegas yang melakukan pemindaian destruktif terhadap buku untuk kebutuhan pelatihan AI.

Sebagian besar toko buku bekas juga tidak dapat memastikan siapa pembeli yang memesan buku dalam jumlah besar. Pesanan biasanya masuk melalui marketplace seperti Biblio yang menyamarkan identitas pembeli.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |