Jakarta, CNBC Indonesia - Prediksi munculnya fenomena El Nino pada 2026 membuat ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Hingga akhir Maret 2026, sekitar 7% Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau dan jumlahnya diprediksi terus meningkat pada beberapa bulan kedepan.
Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Fiqri Ardiansyah, mengatakan El Nino memiliki korelasi kuat dengan meningkatnya risiko karhutla karena membuat kondisi vegetasi dan hutan menjadi lebih kering.
Namun demikian, menurutnya faktor utama pemicu kebakaran tetap berasal dari aktivitas manusia, terutama penggunaan api dalam pembukaan lahan yang tidak terkendali.
"Jadi, kaitannya bukan kemudian dengan pengelolaan lahan, tetapi dengan adanya penggunaan api yang sembarangan dalam mengelola lahan," kata Fiqri dalam pernyataan, dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (8/5/2026).
Ia menyoroti praktik pembukaan lahan dengan metode bakar atau slash and burn yang masih banyak dilakukan masyarakat karena dianggap cepat dan murah.
Masalahnya praktik tersebut kerap tidak diikuti langkah pengamanan seperti pembuatan sekat bakar untuk mencegah api merembet ke area lain.
"Yang kemudian tidak diperhatikan umumnya oleh masyarakat itu tidak membuat sekat bakar atau tidak mengisolasi bahan bakar di area tersebut, jadi apinya malah menyebar ke mana-mana," ujar Fiqri.
Menurut Fiqri, persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan kondisi cuaca ekstrem, tetapi juga lemahnya tata kelola kehutanan dan minimnya sinergi antara pengelola kawasan hutan, perusahaan, dan masyarakat sekitar hutan.
Ia mengingatkan, tanpa perbaikan tata kelola yang signifikan, Indonesia berpotensi kembali mengalami kebakaran besar seperti pada 2015 lalu.
Risiko disebut semakin tinggi di kawasan lahan gambut yang mudah terbakar hingga ke lapisan bawah tanah dan sulit dipadamkan.
"Terburuk adalah kondisi kebakaran kembali seperti tahun 2015, karena deforestasinya cukup tinggi. Akibatnya nanti akan terjadi kabut asap lagi dalam jangka waktu yang lama dan itu berdampak pada aktivitas sosial, aktivitas ekonomi, aktivitas penerbangan, serta kesehatan masyarakat," katanya.
Di sisi lain, Fiqri menilai pemerintah mulai memperkuat langkah mitigasi melalui sistem peringatan dini (early warning system) berbasis prediksi BMKG. Namun, ia menekankan peringatan dini harus diikuti langkah konkret di lapangan, termasuk pembatasan penggunaan api untuk membuka lahan dan mendorong metode tanpa bakar.
Selain itu, patroli rutin, pemantauan kondisi lahan gambut, hingga edukasi kepada masyarakat di sekitar kawasan hutan dinilai perlu diperkuat untuk menekan risiko karhutla selama periode kemarau kering akibat El Nino.
"Di tengah peningkatan potensi El Nino, penguatan tata kelola kehutanan berbasis kolaborasi dan pencegahan menjadi kunci utama untuk menekan risiko karhutla di Indonesia," pungkasnya.
(fab/fab)
Addsource on Google


















































