Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah pejabat Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah melayangkan "peringatan tidak langsung" kepada Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Langkah darurat ini diambil setelah adanya kekhawatiran besar bahwa Israel sedang merencanakan "operasi pembunuhan terhadap kedua negosiator ulung" tersebut untuk menggagalkan diplomasi damai.
Menurut laporan New York Times, sebagaimana dikutip Times of Israel, Jumat (3/7/2026), ancaman pembunuhan ini mencuat dalam beberapa pekan setelah kesepakatan gencatan senjata 8 April. Gencatan senjata meski rapuh, sejauh ini menghentikan perang antara AS-Israel melawan Iran
"Washington khawatir jika Israel benar-benar menghabisi Araghchi dan Ghalibaf, seluruh proses meja perundingan yang sedang berjalan akan hancur berantakan dan memicu pertempuran bersenjata baru yang jauh lebih masif," ujar seorang sumber.
Ghalibaf sendiri dilaporkan baru saja lolos dari maut setelah pesawat yang ditumpanginya terpaksa melakukan pendaratan darurat di Mashhad, wilayah timur laut Iran. Insiden ini terjadi saat ia dalam perjalanan pulang dari Islamabad, Pakistan, usai menggelar dialog intensif dengan Wakil Presiden AS JD Vance pada 12 April.
Pasukan keamanan Iran dilaporkan mendeteksi ada dua jet tempur Israel yang nekat menerobos wilayah udara mereka melalui rute Irak. Keduanya diindikasikan hendak menyergap pesawat sang ketua parlemen.
Akibat situasi darurat tersebut, Ghalibaf dan seluruh delegasi Iran terpaksa dievakuasi. Ia harus menempuh jalur darat selama delapan jam demi bisa kembali ke ibu kota Teheran.
Mengingat risikonya yang sangat fatal bagi stabilitas global, otoritas AS sampai harus meminta bantuan dari para pejabat di beberapa negara sekutu kawasan Timur Tengah untuk meneruskan pesan peringatan rahasia ini langsung ke Teheran. Langkah preventif ini diambil karena sejak awal perang pecah pada 28 Februari, militer Israel terus secara sistematis menargetkan dan membunuh jajaran kepemimpinan senior Iran, termasuk kepala keamanan nasional Ali Larijani dan mantan menteri luar negeri Kamal Kharazi, yang sebenarnya merupakan figur potensial untuk bernegosiasi dengan AS.
Sebelumnya pada bulan Maret, saat pertempuran masih berlangsung sengit, pemerintah Pakistan telah melakukan intervensi diplomatik dengan mendesak Washington agar menekan Israel untuk menghapus nama Araghchi dan Ghalibaf dari daftar target pembunuhan mereka. Mengingat tingginya risiko keamanan, delegasi Iran bahkan sempat meminta jaminan internasional serta pengawalan ketat dari jet-jet tempur angkatan udara Pakistan saat mendarat di Islamabad untuk memastikan keselamatan mereka dari buruan intelijen Israel.
"AS meminta Israel untuk mundur," ungkap seorang pejabat Pakistan kepada Reuters, seraya menjelaskan bahwa Islamabad telah memperingatkan pihak Washington jika kedua tokoh tersebut sampai tewas, maka tidak akan ada lagi orang yang tersisa di Teheran untuk diajak bicara mengenai negosiasi gencatan senjata.
(tps/sef/luc)
Addsource on Google


















































