Di Depan Cendekiawan, Ketua DPD RI Soroti Kecanggihan AI Lampaui Profesor

3 hours ago 1

Jakarta -

Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamuddin menyoroti kondisi dunia saat ini yang disebut sudah berubah dahsyat. Ia menyinggung penggunaan artificial intelligence (AI) yang sudah makin canggih.

Hal itu disampaikan Sultan dalam acara Silaturahmi Kebangsaan dan Halalbihalal Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Hotel Millennium Sirih, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (17/4/2026). Selain Sultan, acara ini dihadiri oleh Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung hingga Ketua Umum ICMI Arif Satria.

"Bagi kami, bagi saya tentu sebagai orang muda, ICMI di tengah-tengah situasi geopolitik yang memang belum tahu kita ujungnya kita harapkan berperan sebagai ibarat menara air. Menentukan temperatur, kemudian diharapkan menjadi pendingin atau meneduhkanlah situasi yang jujur, tiap hari kita amati terus, baik situasi global maupun tentu ada pengaruhnya ke nasional," kata Sultan dalam sambutannya di lokasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sultan berharap ICMI ke depannya bisa terus mencetak generasi yang proaktif mengawal demokrasi. Ia ingin demokrasi di RI makin hari bertambah baik dan terkontrol.

"Saya tadi mau merespons ada tiga kata yang tadi saya betul-betul relate dengan apa yang sekarang kami gagas. Tadi ada Prof Satria tadi sampaikan hati yang bersih, lalu kemudian saya underline lagi tadi green, ada green skill, lalu di bagian akhir tadi kalau nggak salah ada inovasi," ucapnya.

Ia lantas menyampaikan pemikiran jika kondisi dunia saat ini sudah berubah dahsyat. Sultan menyoroti mesin atau robot yang semakin hari kekuatannya mendominasi.

"Bapak Ibu sekalian, saya ingat ada beberapa kalimat kami dulu pada saat kita kumpul di Bali. Saya masih ingat, saya menyambung tadi apa yang disampaikan sama Prof. Saya sebagai orang muda, kadang-kadang merenung, berpikir, berkontemplasi. Bahkan ini dunianya berubahnya dahsyat sekali, luar biasa sekali," kata Sultan.

"Bayangkan, saya waktu itu sampaikan apa yang tersisa hari ini? Tadi Prof sampaikan kan sekarang kekuatan fisik kita, kemudian seluruh tenaga kita sudah digantikan betul sama mesin, sama robot," tambahnya.

Ia menyinggung kecanggihan AI yang kini mulai melampaui kemampuan manusia. Sultan menyebutkan sistem ini bahkan bisa lebih cepat dari pekerjaan profesor hingga doktor.

"Lalu yang kedua, semua ilmu pengetahuan, semua analisis, hipotesa, semua ada di AI. Digantikan diambil alih oleh AI. Lebih cepat AI pasti, lebih cepat AI dibandingkan dengan para profesor doktor, saya pastikan itu," ujarnya.

Ia mengatakan kini hanya dengan satu klik masyarakat bisa mengetahui informasi secara detail. Kendati demikian, Sultan menyadari masih ada yang menjadi pembeda antara AI dengan manusia, yaitu hati.

"Just one click, satu klik, itu keluar semua apa yang diinginkan. Mulai pasal kalau itu undang-undang, pengetahuan apapun, sampai kepada saintifik yang betul-betul detail, itu just one click, betul. Jadi kadang-kadang kita baru mikir, dia udah keluar," ujar Sultan.

"Nah makanya saya sampaikan, satu yang mungkin, satu yang hampir pasti tidak bisa digantikan. Yang tadi beliau sampaikan. Hati yang bersih, itu nggak bisa diganti dengan chip," sebutnya.

Sultan pun mengingatkan soal hati manusia yang mesti dijaga sampai kapan pun. Menurutnya kelebihan tersebut tak akan bisa digantikan oleh AI sekali pun.

"Tapi kalau fisik, kalau tenaga, kekuatan otot, itu sudah di-take over semua sama robot, di-take over semua sama mesin. Lalu ilmu pengetahuan, di-take over semua sama AI. Bahkan AI one step ahead satu langkah lebih maju dibandingkan pikiran kita. Hati nurani itu yang saya yakin membedakan dan itu juga yang kami yakini tidak bisa di-take over, tidak bisa digantikan sama AI," imbuhnya.

(dwr/fca)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |