Destry Ungkap 4 PR Besar Bank Sentral di Era AI-Fragmentasi Global

18 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengingatkan bahwa bank sentral di seluruh dunia menghadapi tantangan yang semakin kompleks akibat fragmentasi geoekonomi, percepatan transformasi digital, hingga meningkatnya risiko sistemik.

Menurut Destry, kondisi tersebut membuat pendekatan kebijakan yang selama ini berjalan secara sektoral tidak lagi memadai. Bank sentral kini dituntut mengintegrasikan berbagai instrumen kebijakan, mulai dari kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar keuangan, hingga koordinasi dengan kebijakan fiskal.

Pesan itu disampaikan Destry saat membuka Konferensi Internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-20 dan Call for Papers di Bali pada 31 Juli 2026. Tahun ini, konferensi mengusung tema "Central Banking at the Crossroads of Geoeconomic Fragmentation, Digital Transformation, and Systemic Risks".

Destry menegaskan, untuk menjawab tantangan tersebut, riset bank sentral harus diarahkan pada sejumlah agenda prioritas yang relevan dengan perubahan lanskap ekonomi dan keuangan global.

Adapun, prioritas pertama adalah memperkuat pemahaman mengenai transmisi kebijakan moneter di tengah meningkatnya fragmentasi geoekonomi yang memengaruhi perdagangan, investasi, dan arus modal global.

Kedua, memperdalam kajian mengenai perkembangan keuangan digital dan implikasinya terhadap kebijakan bank sentral. Kajian tersebut mencakup sistem pembayaran digital, kecerdasan artifisial (AI), teknologi finansial (fintech), aset kripto, hingga mata uang digital.

Selanjutnya, BI juga menilai penting untuk mengembangkan pengukuran risiko sistemik dan pengawasan makrofinansial yang mampu mengantisipasi berbagai risiko baru, mulai dari ancaman siber, perubahan iklim, tekanan likuiditas, hingga risiko lintas negara.

Adapun agenda keempat adalah memperkuat kredibilitas kelembagaan dan komunikasi kebijakan guna menjaga kepercayaan publik terhadap otoritas moneter.

"Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem riset yang berkualitas dan relevan bagi kebijakan guna mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policymaking) di tengah perubahan lanskap ekonomi dan keuangan global," tegas Destry.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyoroti pentingnya koordinasi kebijakan di tengah ketidakpastian global yang semakin tinggi.

Menurut Juda, otoritas ekonomi menghadapi tantangan yang dikenal sebagai trilema kebijakan, yakni menjaga stabilitas nilai tukar, mobilitas arus modal, dan independensi kebijakan moneter secara bersamaan.

Karena itu, ia menekankan bahwa kebijakan moneter tidak dapat bekerja sendiri. Stabilitas ekonomi memerlukan dukungan kebijakan fiskal, kebijakan makroprudensial, serta pengelolaan likuiditas yang saling melengkapi.

Juda menilai koordinasi yang kuat antarotoritas menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Konferensi BMEB tahun ini juga menyoroti berbagai isu strategis yang tengah menjadi perhatian bank sentral dan pembuat kebijakan di seluruh dunia.

Dalam sesi terkait fragmentasi geoekonomi, para akademisi menyoroti semakin besarnya pengaruh guncangan global terhadap kebijakan moneter, perdagangan, dan investasi. Kondisi tersebut dinilai menuntut penguatan koordinasi kebijakan, penggunaan analisis berbasis skenario (scenario analysis), serta kerja sama internasional guna menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan investasi.

Sementara itu, pada tema transformasi digital, diskusi berfokus pada pesatnya perkembangan digitalisasi, kecerdasan artifisial (AI), dan inovasi keuangan yang mengubah lanskap sistem pembayaran, uang, dan pasar keuangan global.

Para pembicara juga membahas berbagai bentuk uang digital, mulai dari stablecoins, tokenized deposits, hingga wholesale central bank digital currencies (CBDC). Selain itu, mereka menekankan pentingnya membangun ekosistem keuangan digital yang lebih efisien, saling terhubung (interoperable), dan tangguh (resilient) untuk menghadapi tantangan masa depan.

Konferensi internasional BMEB dihadiri oleh peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, serta berbagai lembaga internasional. Forum tersebut menjadi wadah pertukaran gagasan dan pengalaman dalam merumuskan rekomendasi kebijakan untuk menghadapi dinamika ekonomi global yang semakin kompleks.

Minat terhadap konferensi ini juga tercermin dari tingginya partisipasi dalam Call for Papers BMEB 2026. Bank Indonesia mencatat sebanyak 354 naskah lengkap dari 34 negara masuk dalam proses seleksi.

Melalui forum tersebut, BI berharap kolaborasi antara akademisi dan pembuat kebijakan dapat terus diperkuat guna menghasilkan riset yang relevan dan mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti di tengah perubahan ekonomi dan keuangan global yang berlangsung semakin cepat.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |