Dedolarisasi dan Relevansi Bank Bulion bagi Indonesia

9 hours ago 2

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Ketika harga emas menembus rekor tertinggi dan bank-bank sentral dunia terus menambah cadangan emasnya, banyak pihak segera mengaitkannya dengan satu narasi besar: dedolarisasi. Narasi tersebut tidak sepenuhnya keliru. Namun data terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan bahwa realitas global jauh lebih kompleks daripada sekadar "dunia meninggalkan dolar Amerika Serikat".

Data Currency Composition of Official Foreign Exchange Reserves (COFER) IMF menunjukkan bahwa dolar AS masih menguasai sekitar 57-58 persen cadangan devisa global. Angka ini memang lebih rendah dibandingkan awal 2000-an yang pernah melampaui 70 persen, tetapi tetap jauh di atas euro, yen Jepang, poundsterling Inggris, maupun yuan China.

Temuan IMF tersebut mengandung pesan penting. Dunia belum memasuki era pascadolar. Yang sedang terjadi adalah proses diversifikasi cadangan internasional secara bertahap untuk mengurangi konsentrasi risiko terhadap satu mata uang dominan. Dalam konteks inilah emas kembali memperoleh relevansi strategis.

Ketika Teori Bertemu Realitas Global
Dalam kajian ekonomi politik internasional, dominasi dolar sering dijelaskan melalui Hegemonic Stability Theory. Teori yang dikembangkan oleh para pemikir seperti Charles Kindleberger dan Robert Gilpin menjelaskan bahwa stabilitas sistem ekonomi global memerlukan satu kekuatan dominan yang menyediakan mata uang internasional, likuiditas, dan infrastruktur keuangan dunia.

Selama lebih dari tujuh dekade, Amerika Serikat menjalankan fungsi tersebut. Kedalaman pasar obligasi pemerintah AS, likuiditas pasar keuangan, kekuatan institusi, supremasi hukum, dan jaringan perdagangan global menjadikan dolar sulit digantikan.

Sejarawan ekonomi dan pakar sistem moneter internasional, berulang kali menegaskan bahwa mata uang internasional tidak digantikan secara tiba-tiba. Transisi biasanya berlangsung sangat panjang karena dipengaruhi oleh jaringan perdagangan, kedalaman pasar keuangan, kepercayaan institusional, serta efek jaringan (network effects).

Karena itu, meskipun berbagai negara mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar, belum ada mata uang tunggal yang mampu menggantikannya sebagai jangkar sistem keuangan global.

BRICS dan Batas-Batas Dedolarisasi
Kelompok negara BRICS yang kini mencakup Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, serta sejumlah anggota baru seperti Mesir, Uni Emirat Arab, Ethiopia, Iran, dan Indonesia sering dipandang sebagai salah satu motor utama upaya diversifikasi sistem moneter internasional dan pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS.

Berbagai inisiatif penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan lintas negara, penguatan New Development Bank, hingga pembahasan sistem pembayaran alternatif menjadi bukti adanya keinginan mengurangi dominasi dolar. Namun hingga saat ini, tidak satu pun negara BRICS memiliki kombinasi kedalaman pasar keuangan, konvertibilitas mata uang, kualitas institusi, dan tingkat kepercayaan global yang mampu menyaingi dolar AS.

Yuan China memang semakin banyak digunakan dalam perdagangan internasional, tetapi pangsanya dalam cadangan devisa global masih relatif kecil. Sementara itu, rupee India, real Brasil, maupun rand Afrika Selatan belum memiliki karakteristik sebagai mata uang cadangan global.

Akibatnya, yang terjadi bukan perpindahan besar-besaran dari dolar menuju yuan atau mata uang BRICS lainnya. Sebaliknya, bank-bank sentral memilih melakukan diversifikasi ke berbagai aset, termasuk emas. Di sinilah emas muncul sebagai "aset netral" dalam lanskap geopolitik yang semakin terfragmentasi.

Emas Kembali Menjadi Aset Strategis
Tidak seperti mata uang fiat, emas tidak memiliki counterparty risk. Nilainya tidak bergantung pada kondisi fiskal suatu negara, tidak dapat dicetak melalui kebijakan moneter, dan tidak terkait dengan kepentingan geopolitik tertentu. Karakteristik tersebut menjadikan emas kembali memperoleh posisi penting dalam strategi pengelolaan cadangan internasional.

Data World Gold Council menunjukkan pembelian emas oleh bank sentral dunia sejak 2022 secara konsisten melampaui 1.000 ton per tahun tertinggi dalam sejarah modern. Total cadangan emas bank sentral global kini telah melampaui 36.000 ton.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa emas tidak sedang menggantikan dolar, melainkan melengkapi sistem yang masih didominasi dolar dengan lapisan ketahanan tambahan. Dengan kata lain, emas menjadi instrumen diversifikasi strategis.

Indonesia: Raksasa Emas yang Sedang Bangun
Perubahan lanskap global tersebut menghadirkan peluang besar bagi Indonesia. Sebagai salah satu produsen emas terbesar dunia, Indonesia menghasilkan sekitar 160 ton emas per tahun dan memiliki cadangan mineral yang sangat besar. Tambang Grasberg di Papua bahkan termasuk salah satu tambang emas terbesar di dunia.

Di sisi lain, masyarakat Indonesia memiliki budaya kepemilikan emas yang kuat. Selama puluhan tahun emas menjadi instrumen penyimpan nilai lintas generasi. Akibatnya, terdapat akumulasi emas rumah tangga dalam jumlah besar yang sebagian besar masih berada di luar sistem keuangan formal.

Fenomena ini melahirkan apa yang dapat disebut sebagai idle gold economy aset bernilai tinggi yang menyimpan kekayaan tetapi belum dimobilisasi secara optimal untuk mendukung pembiayaan produktif.

Pada saat yang sama, Bank Indonesia juga terus meningkatkan kepemilikan emas sebagai bagian dari diversifikasi cadangan internasional. Cadangan emas BI telah meningkat menjadi sekitar 87 ton pada awal 2026. Dalam konteks tersebut, implementasi POJK Nomor 17 Tahun 2024 tentang Kegiatan Usaha Bulion dan lahirnya bank bulion nasional merupakan langkah yang sangat strategis.

Dari Safe Haven Menuju Productive Gold
Esensi bank bulion bukanlah menjual lebih banyak emas kepada masyarakat. Tujuan utamanya adalah mentransformasikan emas yang selama ini tersimpan pasif menjadi aset produktif yang terhubung dengan sistem keuangan.

Melalui simpanan emas, pembiayaan berbasis emas, perdagangan bulion, penitipan, hingga berbagai layanan lainnya, emas dapat menjadi bagian dari mekanisme intermediasi yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Transformasi tersebut mulai terlihat. Hingga pertengahan 2026, emas yang dikelola Pegadaian telah mencapai sekitar 145 ton. Sementara itu, Bank Syariah Indonesia mulai membangun ekosistem sharia bullion banking yang berpotensi memperkuat integrasi emas dengan industri keuangan syariah nasional.

Dalam jangka panjang, pengembangan ekosistem bulion membuka peluang lahirnya instrumen baru seperti gold lending, gold repo, pasar pinjam-meminjam emas, hingga instrumen lindung nilai berbasis emas yang dapat memperdalam pasar keuangan domestik.

Kedaulatan Finansial di Era Baru
Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari data terbaru yang diungkap IMF bukanlah bahwa dolar sedang runtuh. Justru sebaliknya. Dominasi dolar masih sangat kuat. Namun dunia semakin menyadari bahwa ketahanan finansial tidak boleh bergantung pada satu mata uang, satu pasar, atau satu pusat keuangan global.

Karena itu, negara-negara membangun strategi diversifikasi melalui emas, mata uang lokal, sistem pembayaran alternatif, serta penguatan pasar keuangan domestik.
Bagi Indonesia, bank bulion harus dipandang dalam kerangka yang lebih besar daripada sekadar inovasi produk jasa keuangan.

Ia merupakan bagian dari strategi nasional untuk memperdalam pasar keuangan, memperluas sumber pembiayaan domestik, meningkatkan ketahanan sistem keuangan, dan memperkuat kedaulatan finansial di tengah perubahan arsitektur ekonomi global.

Sebagaimana hilirisasi meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral, monetisasi emas melalui bank bulion berpotensi menjadi bentuk baru hilirisasi finansial mengubah kekayaan alam dan tabungan masyarakat menjadi modal produktif yang bekerja bagi pembangunan nasional.

Di era ketika dunia bergerak dari dedolarisasi menuju diversifikasi strategis, emas tidak lagi sekadar safe haven. Ia dapat menjadi salah satu fondasi baru kedaulatan finansial Indonesia.


(miq/miq)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |