Daftar 10 Mata Uang Terlemah di Tengah Perang Iran, Ada Rupiah?

2 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

26 March 2026 15:55

Jakarta, CNBC Indonesia - Menjelang genap satu bulan perang Amerika Serikat (AS) bersama Israel melawan Iran yang meletus pada akhir Februari lalu, banyak mata uang dunia masih berada dalam tekanan.

Konflik ini mendorong investor memburu dolar AS sebagai aset aman, sehingga banyak mata uang tertekan dalam sebulan terakhir. Perang tersebut pecah pada 28 Februari 2026 dan sejak itu gejolak energi serta sentimen risk-off ikut menekan pasar keuangan global.

Sejalan dengan kondisi tersebut, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia juga menguat cukup besar sekitar 2%. DXY bahkan sempat menembus level 100, meski kini kembali bergerak di kisaran 99,5.

Berdasarkan data Refinitiv yang dihimpun CNBC Indonesia, berikut 10 mata uang dengan performa terburuk terhadap dolar AS pada periode dari level penutupan Jumat (27/2/2026) atau sehari sebelum perang hingga penutupan terakhir Rabu (25/3/2026).

Mata uang dengan performa paling buruk melawan dolar AS dalam sebulan terakhir adalah bolívar Venezuela.

Bolivar tercatat harus mengalami pelemahan yang cukup tajam dengan terdepresiasi 11,1% terhadap dolar AS hingga ditutup di level VES 465,43/US$ pada Rabu (25/3/2026).

Tekanan terhadap bolívar tampaknya tidak hanya dipengaruhi sentimen perang Timur Tengah, tetapi juga gejolak domestik Venezuela yang masih membayangi setelah operasi AS yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada 3 Januari 2026. Peristiwa itu menambah ketidakpastian politik dan ekonomi di negara tersebut, sehingga tekanan pada bolívar menjadi semakin besar.

Di bawahnya ada pound Mesir yang turun 9,6% ke level EGP 52,48/US$, disusul loti Lesotho yang melemah 6,6% ke posisi LSL 16,95/US$.

Menariknya, dari daftar 10 mata uang dengan performa terlemah tersebut, ada satu wakil dari Asia Tenggara, yakni baht Thailand, yang menempati posisi ke-10. Mata uang Negeri Gajah Putih itu tercatat melemah 4,8% ke level THB 32,50/US$.

Tekanan terhadap baht tidak lepas dari besarnya dampak perang terhadap sektor pariwisata Thailand, yang selama ini menjadi salah satu penopang utama ekonominya.

Konflik di Timur Tengah telah memicu pembatalan lebih dari 1.000 penerbangan ke Thailand sejak perang dimulai, sementara kenaikan harga avtur juga mendorong tarif tiket pesawat lebih tinggi. Kondisi ini membuat wisatawan lebih berhati-hati untuk bepergian dan menekan prospek sektor wisata Thailand.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |