Cemas! Lembaga Dunia Mulai Pangkas Proyeksi Harga Emas dan Perak

3 hours ago 2

akarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak terus tertekan sepanjang pekan lalu, menguji kesabaran para investor yang sebelumnya menikmati reli spektakuler. Harga emas juga diproyeksi masih sulit menguat.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada hari ini, Senin (22/6/2026) pukul 06.18 WIB ada di posisi US$ 4156,69 atau melandai 0,08%.

Pelemahan ini membuat emas makin sengsara.

Harga emas pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (19/6/2026) ditutup di posisi US$ 4160 per troy ons. Harganya ambles 1,15%.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatifnya di mana harga emas jatuh 3,92% dalam tiga hari beruntun.

Harga penutupan Jumat kemarin juga menjadi yang terendah sejak 10 Juni 2026.

Penguatan dolar Amerika Serikat (AS), meningkatnya peluang kenaikan suku bunga The Fed, serta ketidakpastian prospek perdamaian di Timur Tengah membuat daya tarik aset safe haven memudar. Alhasil, banyak investor mulai meninggalkan logam mulia dan beralih ke instrumen yang dinilai lebih aman.

Harga emas tercatat turun ke sekitar US$4.152 per ons pada 19 Juni 2026, atau sekitar 25% di bawah rekor tertingginya yang mendekati US$5.600 per ons pada Januari. Sementara itu, perak merosot ke kisaran US$64 per ons, anjlok hampir 47% dari puncaknya yang mencapai US$121,62 per ons.

Dua Pandangan Proyeksi Emas

Investor kawakan sekaligus penulis buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, mengaku belum menyerah pada emas dan perak. Ia mengatakan tidak berniat menjual kepemilikannya saat harga turun, melainkan menunggu momentum yang tepat untuk kembali menambah posisi.

Koreksi tajam ini terjadi setelah reli luar biasa pada 2025, ketika emas melonjak lebih dari 50% dan perak melesat lebih dari dua kali lipat. Saat itu, pembelian besar-besaran oleh bank sentral dan pelemahan dolar AS mendorong investor memburu aset lindung nilai. Namun arah pasar berubah setelah The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin dilakukan guna menekan inflasi.

Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas dan perak yang tidak memberikan imbal hasil. Sejumlah analis juga menilai logam mulia kini bergerak lebih mirip aset berisiko dibanding aset pelindung nilai, sehingga rentan mengalami tekanan ketika sentimen pasar global memburuk.

Berbeda dengan Kiyosaki, Goldman Sachs memangkas target harga logam mulia tersebut sebesar US$500 per troy ons. Bank investasi asal AS itu kini memperkirakan harga emas akan berada di level US$4.900 per ons pada akhir 2026, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar US$5.400 per ons.

Revisi ini dilakukan setelah peluang kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) meningkat tajam. Dalam pertemuan pertamanya sebagai Ketua The Fed, Kevin Warsh mengisyaratkan sikap yang lebih agresif untuk menekan inflasi, sehingga pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 87%, naik dari 61% sebelumnya.

Goldman menilai emas masih memiliki prospek positif dalam jangka menengah, tetapi risiko penurunan dalam waktu dekat semakin besar.

Sejak mencetak rekor hampir US$5.600 per ons pada awal tahun, harga emas kini telah turun sekitar 27% ke kisaran US$4.100 per ons. Bahkan, logam mulia tersebut mencatat tiga bulan berturut-turut mengalami pelemahan.

Analis Goldman Sachs Lina Thomas dan Daan Struyven mengatakan kenaikan suku bunga akan menjadi ancaman besar bagi emas karena logam ini tidak memberikan imbal hasil.

Jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga, Goldman memperingatkan harga emas bisa kembali turun hingga US$4.400 per ons pada akhir tahun.

Selain itu, Goldman juga memperkirakan arus dana ke ETF berbasis emas akan melambat seiring ekspektasi bahwa pemangkasan suku bunga The Fed baru terjadi pada pertengahan hingga akhir 2027. Kondisi ini berpotensi mengurangi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai dan memperpanjang tekanan harga dalam beberapa bulan ke depan.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |