Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah kembali menembus US$ 100 per barel pada Kamis (12/3/2026) di tengah memanasnya Selat Hormuz.
Merujuk Refinitiv, harga minyak brent pada Kamis pukul 11.31 WIB ada di posisi US$ 110,02 per barel atau melesat 8,7%. Sementara itu, harga WTI ada di US$ 94,21 per barel atau melesat 8%. Kenaikan harga minyak hari ini memperpanjang lonjakan harga di mana brent juga melesat 4,7% pada perdagangan Rabu dan WTI meledak 4,6%.
Harga minyak memanas setelah pemerintah Iran memperingatkan dunia agar bersiap menghadapi lonjakan harga minyak hingga US$200 per barel, di tengah eskalasi perang yang makin luas dan gangguan serius terhadap jalur distribusi energi internasional.
Peringatan tersebut disampaikan setelah pasukan Iran dilaporkan menyerang kapal-kapal dagang di perairan Teluk pada Rabu (11/3/2026), sementara Badan energi internasional (International Energy Agency/IEA) telah sepakat melepas cadangan minyak strategis hingga 400 juta barel untuk meredam guncangan pasokan energi yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terburuk sejak krisis minyak 1970-an. "Bersiaplah harga minyak menjadi US$200 per barel, karena harga minyak bergantung pada keamanan regional, yang telah Anda destabilisasi," kata juru bicara komando militer Iran Ebrahim Zolfaqari dalam pernyataan yang ditujukan kepada Washington, dilansir Reuters. Situasi di Selat Hormuz Makin Memanas
Perahu-perahu Iran yang sarat bahan peledak diduga menyerang dua kapal tanker bahan bakar di perairan Irak pada Rabu, menyebabkan keduanya terbakar dan menewaskan satu awak kapal.
Serangan ini terjadi setelah proyektil menghantam empat kapal lain di perairan Teluk, menurut otoritas pelabuhan serta perusahaan keamanan maritim dan manajemen risiko.
Serangan terbaru terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Amerika Serikat dan Eropa ini menandai eskalasi konflik antara Iran dan pasukan AS-Israel, sehingga jumlah kapal yang terkena serangan di kawasan tersebut sejak pertempuran dimulai menjadi setidaknya 16 kapal.
Aktivitas pelayaran di Teluk dan di sepanjang Selat Hormuz yang sempit, jalur yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia, hampir terhenti sejak Amerika Serikat dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Kondisi ini mendorong harga minyak global melonjak ke level tertinggi sejak 2022.
Korps Garda Revolusi Iran sebelumnya menyatakan bahwa jika serangan terhadap Iran terus berlanjut, mereka tidak akan mengizinkan "satu liter pun minyak" dikirim dari Timur Tengah ke Amerika Serikat, Israel, atau mitra mereka.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa Washington akan menyerang Iran dengan lebih keras jika negara itu memblokir ekspor minyak. Ia juga mengatakan perusahaan minyak seharusnya tetap menggunakan Selat Hormuz karena "hampir seluruh angkatan laut Iran sudah hancur."
Kapal yang menjadi target serangan larut malam pada Rabu di Teluk dekat Irak adalah Safesea Vishnu berbendera Marshall Islands dan Zefyros berbendera Malta. Kedua kapal tersebut sebelumnya memuat kargo bahan bakar di Irak, menurut dua pejabat pelabuhan Irak.
Badan pemasaran minyak negara Irak SOMO mengatakan bahwa Safesea Vishnu disewa oleh perusahaan Irak yang memiliki kontrak dengan SOMO, sementara Zefyros memuat produk kondensat dari Basra Gas Company. Keduanya diserang di area ship-to-ship loading di dalam perairan teritorial Irak.
Pelabuhan Minyak Irak Ditutup
Pelabuhan minyak Irak sepenuhnya menghentikan operasi setelah serangan tersebut, sementara pelabuhan komersial masih berfungsi, menurut kantor berita pemerintah Irak yang mengutip kepala General Company for Ports of Iraq (GCPI).
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) mengatakan awak dari salah satu kapal telah dievakuasi dan dilaporkan dalam kondisi selamat.
"Sebuah kapal milik perusahaan pelabuhan Irak menyelamatkan 25 awak dari dua kapal tersebut, dan kebakaran masih terus berlangsung di kedua kapal," tutur Direktur Jenderal GCPI Farhan al-Fartousi mengatakan kepada Reuters.
Tim penyelamat Irak masih terus mencari pelaut lainnya. Seorang pejabat keamanan pelabuhan mengatakan mereka menemukan jenazah seorang awak kapal asing di laut.
Operator komersial Safesea Vishnu adalah Safesea Transport Group, sementara pemilik manfaatnya adalah Safesea Group, menurut data Lloyd's List Intelligence.
Perusahaan-perusahaan yang berbasis di AS tersebut belum segera memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Salah satu sumber keamanan pelabuhan Irak mengatakan Zefyros berbendera Malta dan memberikan daftar nama awak kepada Reuters.
Data Lloyd's List Intelligence menunjukkan operator komersialnya adalah Cygnus Tankers Limited yang berbasis di Inggris, sementara pemilik manfaatnya adalah kelompok perusahaan keluarga George & Vassilis Michael, pemain penting dalam industri pelayaran Yunani.
Cygnus Tankers belum segera menanggapi permintaan komentar. Reuters juga belum dapat segera menghubungi pemilik manfaat kapal tersebut.
Garda Revolusi Iran: Kapal Akan Ditargetkan
Korps Garda Revolusi Iran telah berulang kali memperingatkan bahwa setiap kapal yang melintas di Selat Hormuz akan menjadi target.
Dua proyektil yang asalnya tidak diketahui menghantam kapal curah kering berbendera Thailand Mayuree Naree saat melintasi selat tersebut pada Rabu pagi. Serangan itu memicu kebakaran dan merusak ruang mesin, menurut operator kapal Precious Shipping dalam sebuah pernyataan.
Perusahaan itu menyatakan tiga awak kapal dilaporkan hilang dan diyakini terjebak di ruang mesin."
Precious Shipping mengatakan pihaknya bekerja sama dengan otoritas terkait untuk menyelamatkan ketiga awak tersebut. Sementara 20 awak lainnya telah berhasil dievakuasi dan kini berada di Oman.
Gambar yang dirilis oleh angkatan laut Thailand menunjukkan asap tebal keluar dari bagian belakang kapal.
Garda Revolusi Iran mengatakan dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita Tasnim bahwa kapal tersebut "ditembak oleh jet tempur Iran", yang mengindikasikan keterlibatan langsung Garda Revolusi, setelah sebelumnya lebih sering menggunakan rudal atau drone.
Angkatan Laut AS menolak permintaan hampir setiap hari dari industri pelayaran untuk menyediakan pengawalan militer melalui Selat Hormuz, sejak perang dengan Iran dimulai. Menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut, risiko serangan masih terlalu tinggi untuk saat ini.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae)
Addsource on Google


















































