Bos Tak Mau Dengar Masukan Karyawan, Perusahaan Akhirnya Bangkrut

8 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebelum industri fotografi berkembang pesat dan praktis lewat gawai di genggaman tangan seperti sekarang, dunia berutang budi pada sosok George Eastman. Dialah sang maestro di balik terciptanya kamera modern yang menjadi blueprint sejarah fotografi dunia melalui merek legendaris: Kodak.

Pasca-penemuannya pada 1888 silam, Kodak langsung menjelma menjadi raksasa yang mendominasi pasar global. Namun sayangnya, kejayaan selama lebih dari satu abad itu harus runtuh secara tragis. Tragisnya, kebangkrutan Kodak dipicu oleh alasan yang klasik: ego para petinggi yang takut akan perubahan dan gagal membaca arah angin zaman.

Berawal dari Hobi Mahal

Jauh sebelum era digital, aktivitas memotret adalah hal yang sangat merepotkan. Kamera zaman dulu memiliki ukuran jumbo-kira-kira sebesar oven microwave. Tak hanya itu, seorang fotografer harus rela memikul tripod berat, plat kaca, hingga membawa berbagai zat kimia cair yang rumit ke mana-mana.

Keribetan inilah yang dialami George Eastman saat tengah berlibur ke Dominika pada 1878. Sebagai pencinta fotografi, ia harus merogoh kocek hingga ratusan dolar AS hanya untuk membawa perlengkapan dokumentasi.

Mengutip buku George Eastman: A Biography (2006) karya Elizabeth Brayer, Eastman yang sadar hobinya terlalu mahal dan menguras kantong akhirnya memutar otak. Momentum datang saat ia membaca sebuah jurnal ilmiah mengenai formula kimia baru untuk menangkap visual.

Selama tiga tahun penuh, Eastman melakukan eksperimen tanpa lelah. Setelah melewati ratusan kegagalan, ia akhirnya berhasil menciptakan teknologi 'pelat kering' (dry plate). Inovasi ini menjadi game changer karena membuat fotografer tidak perlu lagi membawa zat kimia cair yang merepotkan.

Teknologi inilah yang dipatenkan Eastman hingga akhirnya ia nekat mendirikan Eastman Dry Plate Company pada 1881. Tujuh tahun berselang, berkolaborasi dengan William Hall Walker, lahirlah kamera analog legendaris bernama Kodak.

Kehadiran Kodak membuat fotografi menjadi demokratis. Mengambil gambar tidak lagi menjadi monopoli para profesional, melainkan bisa dilakukan oleh siapa saja secara instan. Nama Kodak pun melesat ke langit, bahkan menjadi pelopor yang mengenalkan dunia pada foto berwarna.

Petaka 'Ego' Petinggi Perusahaan

Namun, roda berputar. Kodak yang dahulu lahir dari rahim inovasi justru perlahan mati karena membunuh inovasi itu sendiri.

Petaka bermula pada dekade 1970-an. Seorang insinyur muda Kodak bernama Steve Sasson berhasil menciptakan teknologi masa depan: kamera digital. Sebuah teknologi yang kini menjadi standar utama seluruh dunia.

Berdasarkan laporan World Economic Forum (WE Forum), penemuan Sasson ini seharusnya bisa menjadi tiket emas bagi Kodak untuk mendominasi pasar global berabad-abad ke depan. Sayangnya, para bos di jajaran manajemen puncak justru berpikiran kolot. Mereka terbuai oleh arus kas jumbo dari bisnis film analog dan kertas foto.

"Itu bagus, tapi jangan kasih tahu ke siapapun," ujar Sasson menirukan respons dingin sang bos kala itu, seperti dikutip dari The New York Times.

Para petinggi beralasan bahwa kamera digital buatan Sasson masih memiliki banyak kelemahan; prosesnya lambat, resolusinya rendah, dan ukurannya masih besar. Namun alasan utamanya sebenarnya adalah ketakutan: mereka khawatir kamera digital akan membunuh core business Kodak sebagai penguasa kamera analog dan roll film.

Alhasil, proyek kamera digital tersebut dipetieskan. Manajemen memilih menutup mata dari masa depan demi mengamankan keuntungan jangka pendek.

Keputusan itu terbukti menjadi blunder terbesar sepanjang sejarah korporasi dunia. Memasuki era 2000-an, industri fotografi bergerak secepat kilat. Kamera digital yang dahulu diremehkan para bos Kodak, justru diadopsi massal oleh para pesaing yang bergerak lebih lincah.

Kodak kehilangan momentum berharga (start). Ketika mereka sadar dan mencoba mengejar ketertinggalan, semuanya sudah terlambat. Pasar analog habis tergerus, sementara pasar digital sudah dikuasai pemain lain.

Akibat salah langkah dan telat beradaptasi, kinerja keuangan perusahaan terus berdarah-darah. Hingga akhirnya, pada tahun 2013, sang raksasa kamera itu resmi dinyatakan pailit dan menggulung tikar. Sebuah pelajaran mahal tentang bagaimana sebuah imperium bisnis bisa runtuh hanya karena enggan mendengarkan ide dari bawahannya sendiri.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |