Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
19 June 2026 11:25
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 17-18 Juni 2026, BI Rate naik 25 basis poin menjadi 5,75%.
Keputusan ini membuat langkah BI sepanjang satu bulan terakhir terlihat sangat agresif. Sejak RDG Mei 2026, BI sudah mengerek suku bunga acuan sebanyak tiga kali dengan total kenaikan mencapai 100 basis poin.
Pada RDG bulan lalu yang terjadi pada 19-20 Mei 2026, BI lebih dulu menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin dari 4,75% menjadi 5,25%. Kenaikan berlanjut pada RDG mingguan 9 Juni 2026 sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Terbaru, BI kembali menambah kenaikan 25 basis poin pada RDG 17-18 Juni 2026 hingga BI Rate menyentuh 5,75%.
Dengan demikian, BI Rate melonjak dari 4,75% menjadi 5,75% hanya dalam rentang sekitar satu bulan. Langkah ini menunjukkan BI memilih jalur pengetatan cepat di tengah tekanan terhadap rupiah, gejolak pasar keuangan global, serta risiko inflasi akibat harga energi dan ketegangan geopolitik.
Kenaikan sebesar ini juga terbilang jarang dalam sejarah kebijakan moneter Indonesia. Berdasarkan data historis, kenaikan yang lebih besar terakhir terjadi pada 2005, ketika BI Rate naik 125 basis poin dalam waktu sekitar satu bulan, dari 11,00% pada Oktober 2005 menjadi 12,25% pada November 2005.
Artinya, pengetatan BI pada 2026 menjadi salah satu yang paling agresif dalam dua dekade terakhir.
Tidak hanya dari sisi domestik, langkah BI juga membuat Indonesia masuk dalam jajaran negara dengan kenaikan suku bunga paling agresif sepanjang 2026. Indonesia sejajar dengan Rwanda dan Sri Lanka, yang juga menaikkan suku bunga acuannya 100 basis poin bahkan lebih di tahun ini.
BI Sandingi Agresifitas Bank Sentral Rwanda hingga Sri Lanka
Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengambil langkah besar dalam kebijakan suku bunga. Pada 2026, sejumlah bank sentral lain juga memilih jalan agresif karena menghadapi tekanan yang cukup mirip. Mulai dari tekanan inflasi harga serta pelemahan nilai tukar.
Salah satunya adalah Rwanda. Mengutip dari Trading Economics bank sentral Rwanda (National Bank of Rwanda), baru saja menaikkan suku bunga acuannya sebesar 100 basis poin (bps) menjadi 8,25% pada pertemuan Mei 2026. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2009.
Kenaikan itu dilakukan setelah Rwanda sebelumnya juga sudah menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Februari 2026. Sepanjang tahun ini bank sentral Rwanda sudah menaikkan suku bunga nya sebesar 150 bps.
Alasan utamanya adalah inflasi yang kembali melonjak. Tekanan harga di Rwanda semakin kuat setelah konflik di Timur Tengah membuat harga energi dan sejumlah kebutuhan ikut terdorong naik.
Inflasi Rwanda naik menjadi 11,5% pada April 2026, dari 7,7% pada bulan sebelumnya. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2023 dan menjadi pertama kalinya inflasi Rwanda kembali menembus dua digit dalam hampir tiga tahun terakhir.
Bank sentral Rwanda menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk menahan dampak lanjutan dari kenaikan harga. Otoritas moneter disana juga ingin membawa inflasi kembali ke kisaran target 2%-8%.
Selain Rwanda, Sri Lanka juga mengambil langkah besar dalam pengetatan kebijakan moneternya.
Bank Sentral Sri Lanka menaikkan suku bunga acuannya sebesar 100 basis poin menjadi 8,75% pada pertemuan Mei 2026. Ini menjadi kenaikan suku bunga pertama Sri Lanka sejak Maret 2023.
Keputusan tersebut diambil untuk menahan inflasi sekaligus menopang rupee Sri Lanka yang tertekan. Tekanan terhadap mata uang Sri Lanka meningkat seiring lonjakan biaya energi akibat konflik Iran.
Kenaikan suku bunga Sri Lanka juga cukup mengejutkan pasar. Sebelumnya, pelaku pasar hanya memperkirakan kenaikan sekitar 25 basis poin atau sedikit lebih tinggi. Namun, tekanan inflasi yang datang lebih cepat membuat bank sentral memilih langkah yang jauh lebih besar.
Inflasi Sri Lanka naik menjadi 5,4% pada April 2026, dari 2,2% pada Maret 2026. Angka tersebut sudah melewati target bank sentral di level 5%.
Tekanan terbesar datang dari kenaikan tajam harga energi domestik. Harga minyak dunia yang bertahan tinggi membuat beban impor energi Sri Lanka meningkat, sementara nilai tukar rupee juga ikut tertekan.
Rupee Sri Lanka sudah melemah sekitar 8,7% sejak awal Maret 2026. Untuk meredam tekanan, pemerintah setempat bahkan menerapkan penjatahan bahan bakar, menaikkan tarif listrik, hingga membatasi impor.
Jepang Ikut Naikkan Suku Bunga ke Level Tertinggi Sejak 1995
Tidak hanya negara berkembang, bank sentral negara maju seperti Jepang juga ikut mengambil langkah pengetatan pada tahun ini.
Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga jangka pendek sebesar 25 basis poin menjadi 1,0% dalam pertemuan terbaru nya bulan Juni ini. Keputusan tersebut diambil melalui voting 7 banding 1 dan memang sudah sesuai dengan ekspektasi pasar.
Kenaikan ini menjadi perhatian karena membawa suku bunga Jepang ke level tertinggi sejak September 1995. Langkah tersebut juga menandai kenaikan suku bunga pertama BoJ di 2026.
Sebagai catatan, kebijakan BoJ selama bertahun-tahun dikenal sangat longgar karena mempertahankan suku bunga di level sangat rendah, bahkan cukup lama berada di zona negatif. Kondisi itu selama ini dimanfaatkan investor untuk menjalankan strategi carry trade, yakni meminjam dana dari negara bersuku bunga rendah seperti Jepang untuk ditempatkan di aset negara lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Namun, seiring perubahan arah kebijakan moneter BoJ, daya tarik strategi carry trade mulai berkurang. Kenaikan suku bunga Jepang membuat biaya pendanaan menjadi lebih mahal, sehingga investor mulai lebih berhati-hati dalam mengambil posisi berisiko.
Keputusan BoJ diambil untuk mencegah lonjakan harga energi akibat perang Iran merembet lebih luas ke inflasi domestik. Dalam pernyataannya, dewan kebijakan BoJ menilai inflasi inti Jepang berisiko bergerak di atas target 2% jika tekanan harga energi terus berlanjut.
Namun, keputusan tersebut tidak bulat. Anggota dewan Asada Toichiro memilih berbeda pendapat karena menilai risiko pelemahan produksi dan lapangan kerja masih lebih besar dibandingkan risiko kenaikan harga.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google


















































