AS-Iran Boleh Berdamai, tapi Dunia Tak Akan Pulih Begitu Saja

5 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Syok pasokan minyak bumi dunia yang dipicu oleh berkecamuknya perang Iran dilaporkan telah mengikis tingkat permintaan minyak mentah global secara masif. Namun, Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa resolusi damai jangka panjang justru berpotensi memicu lonjakan produksi dan menyebabkan banjir pasokan minyak yang berlebihan pada tahun depan.

Dalam laporan pasar minyak bulanan terbaru yang dirilis pada Rabu (17/6/2026), IEA memangkas prospek permintaan tahun 2026 menjadi 1,1 juta barel per hari secara tahunan (year-over-year). Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 700.000 barel per hari dari perkiraan bulan lalu, setelah volume pengiriman sempat anjlok hingga 5 juta barel per hari pada kuartal kedua tahun ini akibat hantaman perang.

Sementara itu, total pasokan minyak global juga dilaporkan merosot ke angka 94,5 juta barel per hari pada bulan Mei atau turun sekitar 600,000 barel per hari secara bulanan. Penurunan ini menyeret kapasitas produksi ke level 13,6 juta barel per hari, yang berada jauh di bawah level normal sebelum perang meletus di Timur Tengah.

Surplus Minyak Signifikan

IEA memperkirakan total pasokan global akan turun sebesar 3,9 juta barel per hari secara tahunan pada 2026 menjadi 102,4 juta barel per hari, sebelum akhirnya bangkit kuat ke level 110,3 juta barel per hari pada tahun depan. Penurunan permintaan saat ini mencerminkan kombinasi tekanan dari tingginya harga bahan bakar di pasar serta kelangkaan produk minyak sulingan di berbagai negara.

Namun, pasokan global diproyeksikan akan melonjak sekitar 8 juta barel per hari menjadi sekitar 110 juta barel per hari pada tahun 2027 mendatang. Lonjakan ini dipastikan akan sangat mendominasi dan jauh melampaui pemulihan moderat dari sisi permintaan minyak dunia yang diperkirakan hanya sebesar 2 juta barel per hari menuju level 105,3 juta barel per hari.

"Pandangan pertama kami terhadap keseimbangan pasar tahun 2027 menunjukkan munculnya surplus pasokan minyak yang sangat signifikan pada tahun depan," tulis perwakilan IEA dalam laporan resminya mengenai potensi banjir minyak mentah di pasar internasional.

Laporan ini dirilis di saat para investor global tengah mencermati dampak nota kesepahaman damai antara AS dan Iran serta rencana pembukaan kembali Selat Hormuz terhadap sektor energi. Harga minyak mentah dunia pun dilaporkan langsung tumbang ke level terendah dalam tiga bulan terakhir menjelang prosesi penandatanganan kesepakatan formal yang akan digelar di Jenewa pada Jumat besok.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh aksi tiga kapal tanker Iran yang membawa hampir 5 juta barel minyak mentah setelah diizinkan lolos melewati blokade laut Angkatan Laut AS. Di pasar berjangka, minyak mentah Brent dilaporkan melemah 0,7% ke level US$78,44 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juli merosot 1,1% ke harga US$75,18 per barel.

"Jika kesepakatan ini bertahan, volume ekspor dan produksi dari wilayah Teluk akan mengalami pemulihan secara bertahap-terutama karena ekspor minyak Iran dapat dilanjutkan sepenuhnya setelah blokade AS dicabut," tambah pihak IEA memproyeksikan arah pasar.

Normalisasi Pasokan Butuh Waktu Berbulan-bulan

Meskipun volume pengiriman melalui Selat Hormuz dilaporkan melonjak dari level terendah Mei sebesar 9,6 juta barel per hari menjadi sekitar 12 juta barel per hari dibantu metode ship-to-ship, IEA mengingatkan proses pemulihan total tidak akan terjadi secara instan. Pihak otoritas menegaskan bahwa pembersihan ranjau laut di sepanjang jalur pelayaran utama serta pemulihan rantai pasok global akan membutuhkan waktu berbulan-bulan.

IEA juga memberikan catatan khusus mengenai kondisi kritis cadangan minyak global yang terus terkuras habis selama masa konflik teror. Stok minyak dunia dilaporkan menyusut drastis sebesar 143 juta barel pada bulan Mei, menyusul penurunan sebesar 74 juta barel pada bulan April, yang berarti cadangan minyak telah menguap sekitar 3,8 juta barel per hari sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.

"Meskipun terjadi penurunan signifikan dalam permintaan minyak mentah dan produk sulingan, ruang penyangga dalam sistem terus terkikis pada kecepatan rekor. Penurunan lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang bahkan dapat membawa stok minyak global ke titik terendah dalam sejarah sebelum keseimbangan pasar bergeser ke arah surplus menjelang akhir tahun," jelas IEA mengenai risiko sebelum pasar berbalik banjir pasokan.

Analis dari PVM Oil Associates Tamas Varga menilai bahwa meskipun terjadi pengurasan cadangan yang sangat dalam, harga minyak saat ini sudah berada sangat dekat dengan level akhir Februari mereka.

"Kepastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz akan langsung memengaruhi proyeksi keseimbangan minyak dunia, di mana pertanyaan utamanya kini adalah seberapa besar volume aliran minyak yang akan mengalir kembali ke pasar internasional," pungkasnya.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |