Jakarta, CNBC Indonesia - Lima negara Eropa menuding Rusia menggunakan racun yang berasal dari katak panah beracun dalam kematian tokoh oposisi Rusia Alexey Navalny, yang meninggal dunia saat ditahan di koloni penjara Arktik pada Februari 2024.
Inggris, Prancis, Jerman, Swedia, dan Belanda dalam pernyataan bersama menyebut hasil analisis sampel dari tubuh Navalny "meyakinkan" mengonfirmasi keberadaan epibatidin, neurotoksin kuat yang secara alami ditemukan pada katak panah beracun di Amerika Selatan dan tidak terdapat secara alami di Rusia.
"Rusia mengklaim bahwa Navalny meninggal karena sebab alami. Tetapi mengingat toksisitas epibatidin dan gejala yang dilaporkan, keracunan sangat mungkin menjadi penyebab kematiannya," demikian bunyi pernyataan bersama kelima negara tersebut, seperti dikutip Al Jazeera, Selasa (17/2/2026).
Navalny wafat pada usia 47 tahun setelah menjalani hukuman penjara atas tuduhan ekstremisme dan perkara lain yang selalu ia bantah. Otoritas Rusia menyatakan ia jatuh sakit usai berjalan-jalan di dalam kompleks penjara dan meninggal karena sebab alami. Moskow secara konsisten menolak tuduhan keterlibatan dalam kematiannya.
Pemerintah Inggris menilai dugaan penggunaan epibatidin menunjukkan "pola perilaku yang mengkhawatirkan". Inggris sebelumnya juga melakukan penyelidikan publik atas kasus peracunan mantan agen ganda Rusia Sergei Skripal pada 2018, yang menyimpulkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin kemungkinan besar memerintahkan penggunaan agen saraf Novichok.
Dalam pernyataan tersebut, lima negara Eropa menegaskan temuan terbaru ini menyoroti perlunya Rusia dimintai pertanggungjawaban atas "pelanggaran berulang Konvensi Senjata Kimia dan, dalam hal ini, Konvensi Senjata Biologi dan Racun".
Apa itu racun katak panah?
Epibatidin adalah neurotoksin yang dihasilkan oleh katak panah beracun, amfibi kecil berwarna cerah yang hidup di hutan hujan Amerika Selatan. Racun ini bekerja pada sistem saraf dengan cara yang mirip agen saraf, memicu gangguan pernapasan, kejang, perlambatan detak jantung, hingga kematian.
Para ilmuwan Eropa menyebut zat tersebut juga dapat diproduksi secara sintetis di laboratorium. Hal ini memunculkan dugaan bahwa epibatidin yang terdeteksi pada tubuh Navalny bukan berasal dari sumber alami, melainkan hasil rekayasa.
Tanggapan Rusia dan Reaksi keluarga
Pemerintah Rusia menolak tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai "propaganda Barat". Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan Moskow akan memberikan komentar setelah hasil tes dan formula zat diungkapkan.
"Sampai saat itu, semua pernyataan tersebut hanyalah propaganda yang bertujuan mengalihkan perhatian dari isu-isu penting Barat," kata Zakharova, dikutip kantor berita negara TASS.
Sementara itu, istri Navalny, Yulia Navalnaya, menyatakan temuan tersebut menguatkan keyakinannya sejak awal.
"Saya yakin sejak hari pertama bahwa suami saya telah diracuni, tetapi sekarang ada bukti... Saya berterima kasih kepada negara-negara Eropa atas kerja teliti yang mereka lakukan selama dua tahun dan atas pengungkapan kebenaran," ujarnya saat menghadiri Konferensi Keamanan Munich.
Navalny dikenal luas sebagai pengkritik keras Kremlin dan tokoh utama gerakan antikorupsi Rusia. Kematiannya pada 16 Februari 2024 memicu kecaman internasional dan kembali meningkatkan tekanan terhadap Moskow terkait dugaan penggunaan senjata kimia terhadap lawan politik.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

















































