POLLING CNBC INDONESIA
Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
21 April 2026 16:05
Jakarta, CNBC Indonesia - Menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI), pelaku pasar memperkirakan bank sentral masih akan menahan suku bunga acuannya pada pertemuan kali ini.
Bank Indonesia dijadwalkan menggelar RDG April pada hari ini, Selasa (21/4/2026), dengan hasil keputusan yang akan diumumkan besok, Rabu (22/4/2026).
Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 14 lembaga/institusi menunjukkan hasil yang kompak. Seluruh responden memproyeksikan BI akan kembali mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada pertemuan RDG kali ini.
Pada RDG BI terakhir di Maret 2026, BI kembali memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%. Keputusan tersebut menjadi kali keenam BI menahan suku bunga acuannya secara berturut-turut. Jika kembali dipertahankan pada RDG April ini, maka langkah tersebut akan menjadi kali ketujuh secara beruntun.
Dalam pernyataan resminya pada Maret lalu, BI menegaskan keputusan tersebut diarahkan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah, sekaligus menjaga pencapaian sasaran inflasi.
Sementara itu, pada RDG kali ini BI juga diperkirakan masih akan memilih menahan suku bunga seiring fokus menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.
Nilai tukar rupiah saat ini masih menghadapi tekanan dari dolar Amerika Serikat (AS), sejalan dengan penguatan indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia.
Di tengah masih adanya ketidakpastian akibat tensi geopolitik di Timur Tengah antara AS dan Iran, investor cenderung kembali memburu aset safe haven seperti dolar AS. Kondisi ini pada akhirnya mempersempit ruang gerak mata uang lain, termasuk rupiah, yang cenderung melemah.
Nilai tukar rupiah kini telah menembus level psikologisnya di Rp17.000/US$. Bahkan, pada penutupan perdagangan Jumat (17/4/2026), rupiah juga sempat menyentuh level terlemah sepanjang masa di Rp17.180/US$, atau makin dekat ke level psikologis baru Rp17.200/US$.
Rupiah ambruk korban dari ketidakpastian di Timur Tengah yang disulut kebijakan perang Donald Trump yang berkali-kali mengubah pernyataan soal perang.
Secara month to date hingga Selasa (21/4/2026) per pukul 14.10, rupiah telah melemah 0,85% ke level Rp17.143/US$. Sementara jika ditarik sejak awal tahun atau secara year to date, rupiah telah terdepresiasi 2,79% terhadap dolar AS.
Hal ini sejalan dengan pandangan Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, yang memperkirakan BI masih akan menahan suku bunga acuannya pada April 2026.
Menurut dia, tekanan berkelanjutan terhadap rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global dan memanasnya tensi geopolitik menjadi alasan utama BI belum memiliki ruang yang cukup aman untuk melonggarkan kebijakan.
"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada April 2026. Hal ini disebabkan oleh tekanan yang masih berlanjut terhadap rupiah akibat ketidakpastian pasar keuangan global dan dampak meningkatnya tensi geopolitik, yakni perang Iran, Israel, dan AS," ujar Juniman kepada CNBC Indonesia.
Juniman menambahkan, BI saat ini juga masih harus mencermati tekanan inflasi domestik yang tetap ada, di tengah harga minyak dunia yang masih tinggi.
"Selain itu, tekanan inflasi domestik yang masih relatif tinggi pada Maret, yakni 3,48% secara tahunan, serta kenaikan harga minyak dunia juga membuat BI mempertimbangkan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuannya. Saat ini, BI lebih fokus pada stabilitas sektor keuangan domestik dibandingkan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi," lanjut Juniman.
Pandangan serupa juga disampaikan Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede. Menurut dia, skenario dasar paling kuat untuk RDG April kali ini adalah BI mempertahankan BI Rate di level 4,75%, bukan menaikkan dan juga belum menurunkannya.
"Menurut saya, untuk RDG April ini skenario dasar yang paling kuat adalah Bank Indonesia menahan BI Rate di 4,75%, bukan menaikkan dan juga belum menurunkannya," ujar Josua kepada CNBC Indonesia.
Menurutnya, arah ini sejalan dengan dua hal. Pertama, pada RDG Maret 2026 Bank Indonesia sudah menegaskan keputusan mempertahankan BI Rate 4,75% ditujukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak kondisi global akibat perang Timur Tengah sekaligus menjaga sasaran inflasi 2026-2027.
Kedua, Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan BI Rate untuk menopang stabilitas rupiah.
Meski demikian, Josua menilai peluang penurunan BI Rate pada tahun ini tetap masih ada, walaupun sangat terbatas dan kemungkinan baru terbuka pada akhir tahun.
"Jadi, pemicu utama penurunan BI Rate bukan terutama karena pertumbuhan domestik lemah, melainkan karena tekanan eksternal yang mereda," ujar Josua.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google


















































