Amerika Malah Bikin Yuan China Makin Perkasa, Trump Salah Strategi?

3 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

25 April 2026 16:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat (AS) masih menjadi mata uang paling dominan di dunia. Namun, perang AS-Iran, sanksi, dan ketidakpastian geopolitik mulai membuat banyak negara dan perusahaan mencari pilihan lain agar tidak terlalu bergantung pada dolar.

Salah satu mata uang yang mulai mendapat perhatian adalah yuan China. Dilasir dari The Economist, ambisi Presiden China Xi Jinping untuk menjadikan yuan sebagai mata uang yang lebih kuat kini mendapat momentum baru. Yuan memang masih jauh dari posisi dolar AS, tetapi penggunaannya dalam transaksi lintas negara mulai menunjukkan peningkatan.

Di Hong Kong, gambaran kecil soal meluasnya penggunaan yuan bisa terlihat dari Tasty Congee & Noodle Wantun Shop. Restoran ini menyajikan bubur nasi hangat dengan taburan daun bawang untuk warga lokal, pengunjung dari China daratan, hingga turis asing yang sudah akrab dengan rasanya.

Pembayaran di restoran tersebut bisa dilakukan dengan dolar Hong Kong maupun yuan, mata uang China daratan.

Bahkan, restoran bubur itu juga menerima e-CNY, yakni mata uang digital yang diterbitkan bank sentral China.

Meski demikian, sang maître d' mengaku belum pernah melihat ada pelanggan yang benar-benar menggunakannya. Saat ini, lebih dari 5.000 pedagang di Hong Kong sudah menerima bentuk uang digital baru tersebut.

Yuan China Makin Sering Dipakai

Para pemimpin China kini tampak lebih optimistis terhadap prospek yuan di luar wilayah China daratan.

Selama bertahun-tahun, Beijing memang berusaha mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat (AS) dalam transaksi internasional. Namun, kemajuannya tidak selalu mulus.

Dalam beberapa tahun terakhir, China membangun jalur pembayaran sendiri, baik konvensional maupun digital.

Tujuannya untuk melewati infrastruktur keuangan global yang selama ini sangat berpusat pada dolar AS. Di saat yang sama, karena permintaan pinjaman di dalam negeri lemah, China juga bisa menawarkan bunga yang lebih rendah kepada pihak luar negeri.

Presiden China Xi Jinping pernah mengatakan bahwa negaranya harus memiliki mata uang yang "kuat".

Yuan memang masih jauh dari posisi itu. Namun, yuan mulai menjadi pilihan yang terasa lebih menenangkan bagi negara dan perusahaan yang resah melihat cara AS mengelola dolar, mata uang yang benar-benar masih paling berkuasa di dunia.

Dalam mengejar ambisi menjadikan yuan lebih besar di dunia internasional, China kadang dinilai terlalu banyak bicara dibandingkan realitasnya, menurut Josh Lipsky dari Atlantic Council, sebuah lembaga think-tank di Washington.

Namun, menurutnya, data terbaru mulai menunjukkan bahwa kenyataan perlahan mengejar retorika tersebut.

Beberapa data terbaik mengenai penggunaan yuan global justru muncul dalam enam hingga tujuh pekan terakhir.

Salah satu yang paling menonjol adalah CIPS atau Cross-Border Interbank Payment System, jalur pembayaran lintas batas alternatif milik China. Aktivitas CIPS melonjak pada Maret, dengan transaksi sekitar 920 miliar yuan atau US$134 miliar per hari, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata harian tahun lalu sebesar 680 miliar yuan.

Pada 2 April, nilai transaksi melalui CIPS bahkan menembus 1,2 triliun yuan.

Penyebab lonjakan ini belum diketahui secara pasti. Aturan baru yang berlaku sejak Februari memang membuat sistem tersebut lebih fleksibel. Namun, waktunya menunjukkan bahwa perang Iran kemungkinan ikut berperan.

Iran sejak lama bersedia menerima pembayaran yuan untuk minyaknya, yang banyak dikirim ke kilang-kilang independen di China atau biasa disebut kilang teapot. Meski volume ekspor minyak mentah Iran turun, nilai setiap barelnya melonjak tajam.

Iran juga kemungkinan menerima yuan sebagai imbalan atas izin kapal melintas di Selat Hormuz. Di kalangan pakar keuangan dan tokoh besar yang hadir dalam pertemuan IMF di Washington bulan ini, terdapat pandangan bahwa sebagian besar uang yang masuk dari pos pungutan Teheran itu berbentuk yuan, bukan kripto, kata Lipsky.

Penggunaan YuanFoto: The Economist

Ada Banyak Alasan Yuan Makin Ramai

Namun, lonjakan aktivitas CIPS begitu besar sehingga pembayaran minyak dan biaya akses kapal saja tidak cukup untuk menjelaskannya.

Transaksi tersebut kemungkinan juga mencakup aliran modal, sebagian berasal dari China, yang keluar dari kawasan Teluk. Selain itu, transaksi itu juga bisa mencerminkan gejolak keuangan yang lebih luas akibat krisis tersebut.

Menurut perbankan China, penjualan dan pembelian antarnegara untuk obligasi, saham, dan investasi portofolio lainnya mencapai US$712 miliar pada Maret. Angka ini 40% lebih tinggi dibandingkan rata-rata bulanan tahun lalu.

Tidak semua investasi dan divestasi tersebut diselesaikan menggunakan mata uang China.

Namun, porsi yuan dalam keseluruhan transaksi internasional China, termasuk perdagangan barang, jasa, dan aset, naik menjadi lebih dari 56% pada Maret, setelah cenderung stagnan sepanjang sebagian besar 2025.

Pembayaran Digital China Makin Dilirik

CIPS bukan satu-satunya jalur pembayaran China yang makin ramai digunakan. Project mBridge, platform yang lebih eksperimental untuk pembayaran antarnegara menggunakan mata uang digital, juga mulai menunjukkan peningkatan aktivitas.

Menurut Karen Ng dari Standard Chartered, mBridge sudah melewati tahap konsep dan mulai menjadi opsi komersial yang layak. Pada November, wakil kepala bank sentral China mengatakan bahwa transaksi setara US$55,5 miliar, yang tersebar dalam 4.047 transaksi, telah melewati jaringan tersebut.

Meski bank sentral Arab Saudi, Thailand, dan Uni Emirat Arab juga menjadi bagian dari proyek ini, lebih dari 95% transaksi dilakukan dalam e-CNY. Transaksi tersebut bisa diselesaikan dengan sangat cepat.

"Sebagian orang mengatakan sepuluh detik, atau tujuh detik," kata Ng dikutip dari The Economist.

Meski mulai tumbuh, CIPS dan mBridge masih jauh lebih kecil dibandingkan platform pembayaran global yang didominasi dolar.

Jaringan CHIPS yang berbasis di AS memproses lebih dari US$2 triliun per hari pada 2025. Sementara itu, SWIFT, jaringan pesan antarbank global, mencakup lebih dari 11.500 institusi. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan CIPS yang memiliki 1.791 institusi.

Namun, sejak bank-bank Rusia dikeluarkan dari SWIFT pada 2022 sebagai sanksi atas invasi ke Ukraina, banyak negara mulai membayangkan bagaimana jika hal serupa terjadi kepada mereka.

Seorang bankir mengatakan, perusahaan kini mulai berpikir bahwa mereka perlu melakukan diversifikasi dan tidak bisa hanya bergantung pada satu platform.

Sebagian perusahaan sebenarnya sudah menyiapkan langkah untuk menggunakan yuan sebelum tahun ini. Krisis Iran kemungkinan menjadi pemicu yang membuat mereka akhirnya benar-benar mengambil langkah tersebut.

Bunga Murah Bikin Yuan Makin Menarik

Sumber kenyamanan lain dari yuan bagi dunia adalah suku bunga yang rendah.

Lemahnya permintaan pinjaman dan belanja di China membuat bank sentralnya harus memangkas suku bunga kebijakan menjadi hanya 1,4%. Angka ini lebih dari dua poin persentase lebih rendah dibandingkan suku bunga sejenis di AS.

Ancaman deflasi yang masih membayangi juga menekan imbal hasil obligasi pemerintah China berjangka lebih panjang.

Perusahaan asing dan pemerintah di berbagai negara mulai memanfaatkan kondisi ini. Sebagian menerbitkan obligasi berdenominasi yuan atau Panda bond di China daratan. Sebagian lain, termasuk perusahaan multinasional China, menerbitkan dim sum bond di Hong Kong.

Pemerintah Indonesia, misalnya, menghimpun dana lebih dari 9 miliar yuan di Hong Kong pada Februari. Bulan ini, Portugal menjadi pemerintah pertama di kawasan euro yang menjual dim sum bond, dengan nilai hampir 2 miliar yuan.

Bukan hanya pemerintah yang tertarik. Menurut Alicia Garcia Herrero dari Natixis, sebuah bank asal Prancis, hedge fund di London dan tempat lain juga membutuhkan mata uang pendanaan baru. Hal ini terjadi ketika yen Jepang mulai terlihat tidak biasa karena menjadi lebih mahal pada tenor yang lebih panjang.

Produsen yang terhubung erat dengan rantai pasok China juga mulai bertanya apakah mereka sebaiknya meminjam dalam mata uang yang banyak digunakan oleh pelanggan dan pemasok mereka.

Hong Kong Bantu Yuan Lebih Mudah Dipakai

Hong Kong Monetary Authority, otoritas yang mengelola patokan dolar Hong Kong terhadap dolar AS dan mengatur perbankan kota tersebut, kini memiliki fasilitas 200 miliar yuan. Fasilitas ini membantu perusahaan asing meminjam mata uang China dengan bunga acuan yang rendah.

Pinjaman itu dapat digunakan untuk pembiayaan perdagangan atau modal kerja hingga satu tahun. Menurut Ng, bank seperti Standard Chartered dapat menyalurkan likuiditas ini ke cabang-cabang mereka jauh di luar Hong Kong.

Inisiatif seperti ini ikut memperbesar peran yuan dalam memperlancar perdagangan global. Bulan lalu, mata uang China menyumbang lebih dari 8% pembiayaan perdagangan global menurut SWIFT. Posisinya berada di urutan kedua, meski masih sangat jauh di bawah dolar AS yang porsinya lebih dari 80%.

China Melihat Kesempatan Besar untuk Yuan

Zhou Xiaochuan, mantan gubernur bank sentral China, sudah sejak 2009 mengkhawatirkan dominasi dolar. Kini, ia menilai China memiliki jendela peluang emas untuk mendorong penggunaan yuan di luar negeri.

Peluang itu muncul karena tarif, sanksi, dan konflik geopolitik yang melibatkan AS. China Merchants Securities, perusahaan investasi asal China, juga melihat adanya peluang historis bagi yuan. Faktor pendorongnya adalah komitmen baru pemerintah, infrastruktur yang lebih baik, dan biaya pinjaman yang rendah.

Namun, seperti diperingatkan Lipsky, kenyataan bisa saja masih jauh di bawah retorika. Meski demikian, yuan tidak harus menggeser atau bahkan menyaingi dolar untuk menjadi pelindung dari dominasi mata uang AS.

Dengan menyediakan alternatif, yuan bisa mengurangi ketajaman dolar sebagai senjata ekonomi. Bagi pihak-pihak yang sulit menerima dominasi dolar, yuan kini mulai menawarkan pilihan lain.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |