AHY ke Kader Baru: Reputasi Puluhan Tahun Bisa Dihabisi Lawan, Politik Kejam

5 hours ago 6

Jakarta -

Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) resmi menyerahkan 48 kartu tanda anggota (KTA) untuk kader baru. Di hadapan kader, dia membahas saat ini telah masuk era post-truth hingga politik fitnah.

Awalnya, AHY menegaskan bahwa Demokrat mengambil jalan sebagai partai nasionalis dan religius. Menurutnya di era yang serba digital ini, partai wajib karakter agar tidak terpengaruh dengan disinformasi dan misinformasi.

"Kita tidak mudah membedakan ini mana berita benar, mana berita palsu, mana hoax, mana fake news, mana yang memang benar-benar terjadi. Karena memang era ini juga meniscayakan tsunami informasi mengisi ruang-ruang publik," kata AHY kepada kader di Kantor Demokrat, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (9/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sehingga, AHY menyebut fenomena itu sebagai post-truth politics. Menurutnya hal itu dapat memecah belah partai atau kelompok dari berbagai sisi.

"Politik kebohongan, politik fitnah, politik yang juga pada akhirnya memecah belah sesama anak bangsa. Pembunuhan karakter. Habis kita dalam sesaat, reputasi yang kita bangun puluhan tahun bisa dihabisi oleh lawan politik. Kejam politik itu," jelas dia.

AHY menyebut, era post-truth tidak bisa dihindari. Sehingga dia meminta para kader untuk dapat menghadapinya dengan terus melakuka refleksi.

"Saya tidak menakut-nakuti, tapi justru mari kita terus melakukan refleksi. Bahwa ini adalah realitas yang suka tidak suka, bukan hanya harus kita hadapi tapi mari kita terus mencari solusi yang terbaik agar bangsa ini tidak mudah terpecah belah akibat post-truth politics atau politik fitnah tadi," tegasnya.

Selanjutnya dia mewanti-wanti kadernya untuk menghindari politik identitas. Sebab menurutnya, Indonesia merupakan bangsa yang majemuk dengan beragam perbedaan.

"Apa yang disebut sebagai politik identitas? Politik yang mengeksploitasi perbedaan identitas di antara kita sendiri. Padahal Indonesia adalah negara besar, negara yang bisa dikatakan super majemuk, sangat plural. 38 provinsi, 514 kabupaten/kota, 17.000 pulau, 280 juta penduduknya," kata dia.

"Berbagai agama yang diakui, belum lagi aliran kepercayaan dan keyakinan. Belum lagi bicara suku, etnis, ras. Semua itu menjadi keberkahan karena perbedaan adalah sesuatu karunia, tapi sekaligus menyimpan kerentanan," sambungnya.

Untuk itu, dia ingin kader Demokrat tidak lengah karena imbasnya dapat mematikan. Dia pun meminta semua kader agar memerangi politik identitas.

"Oleh karena itu bangsa yang lengah adalah ketika tanpa disadari kita terpecah belah akibat perbedaan identitas itu, dan politik sering kali menjadi senjata yang mematikan. Nah, Demokrat selalu menolak keras dan kita katakan jangan gunakan identitas untuk memecah belah bangsa sendiri. Dua hal itu yang juga terus kita perangi," kata dia.

(tsy/azh)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |