3 Kekuatan Berlawanan Bayangi RI: Review MSCI, Perang dan Dampak BI Rate

15 hours ago 9
  • Pasar keuangan RI ditutup beragam, IHSG dan SBN melemah sementara Rupiah ditutup di zona penguatan tipis.
  • Wall Street kompak terbang setelah ditutup melemah karena sikap hawkish The Fed.
  • Hasil MSCI Accessibility Review dan reaksi penetapan direksi baru BEI menjadi penggerak utama pasar hari ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada perdagangan kemarin Kamis (18/6/2026). Bursa saham dan Surat Berharga Negara (SBN) ditutup melemah setelah kenaikan suku bunga BI sebesar 25 bps ke level 5,75%, sementara Rupiah berada di zona penguatan setelah bertubi-tubi mengalami pelemahan pada beberapa bulan terakhir.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan masih menghadapi tantangan pada hari ini di tengah banyaknya pengumuman penting. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini  bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan di zona merah kemarin, Kamis (18/6/2026).

IHSG memangkas koreksi pada akhir perdagangan setelah sebelumnya sempat anjlok 2% pada sesi pertama. IHSG ditutup di level 6.172,34, turun 48,4 poin atau -0,78%.

Sebagai informasi, IHSG sempat turun lebih dari 2% dan menyentuh level terendah harian di 6.073,72. Menjelang akhir sesi 1, IHSG memangkas koreksi dan sempat menyentuh level tertinggi kemarin di 6.197,17.

Sebanyak 445 emiten turun, 271 naik, dan 243 stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 17,95 triliun, melibatkan 23,68 miliar saham dalam 1,78 juta transaksi. Kapitalisasi pasar tergerus menjadi Rp 10.740 triliun.

Menurut data perdagangan, pihak asing (foreign) kemarin mencatatkan penjualan bersih kembali setelah dua hari lalu sempat mengalami net foreign inflow. Net foreign outflow pada perdagangan kemarin tercatat sebesar Rp111,31 miliar di seluruh jenis transaksi pasar.

Mengutip Refinitiv, ada tiga emiten yang menjadi pemberat utama, yakni Bank Rakyat Indonesia (BBRI) -18,82 poin, Telkom Indonesia (TLKM) -18,79 poin, dan Bank Central Asia (BBCA) -18,74 poin.

Selain itu, Mora Telematika (MORA), Capital Financial (CASA), Bank Negara Indonesia (BBNI), hingga Bank Mandiri (BMRI) juga masuk dalam daftar top laggards pada perdagangan kemarin.

Pergerakan markat kemarin menunjukkan masih adanya kekhawatiran dalam penantian pengumuman MSCI Global Market Accessibility Review yang dijadwalkan rilis pada Jumat (19/6/2026) subuh tadi.

Selain Accessibility Review, MSCI juga akan segera merilis MSCI Annual Market Classification Review pada Rabu (24/6/2026) subuh mendatang.

Rilis ini akan menjadi penentu bagi pasar ekuitas di Indonesia terkait akankah Indonesia tetap berada di Emerging Market atau dalam kasus terburuknya bisa turun ke dalam Frontier Market seperti yang ditakuti oleh Investor beberapa bulan terakhir sejak diedarkannya surat pemberitahuan terkait transparansi pasar oleh MSCI pada Rabu (28/1/2026).

Lanjut ke mata uang Rupiah, Mata uang Garuda berhasil membalikkan keadaan dan ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (18/6/2026). Penguatan ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,17% atau terapresiasi ke level Rp17.700/US$. Penguatan ini sekaligus membalikkan posisi rupiah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pada Rabu (17/6/2026), rupiah ditutup melemah 0,23% ke level Rp17.730/US$.

Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah sebetulnya sempat mengawali hari di zona merah. Mata uang Garuda dibuka melemah tajam 0,62% ke level Rp17.840/US$.

Namun, tekanan terhadap rupiah perlahan menyempit menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI. Setelah keputusan BI diumumkan, rupiah mampu membalikkan keadaan dan berakhir menguat pada penutupan perdagangan.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,19% ke level 100,281.

Penguatan rupiah kemarin terjadi setelah RDG Bank Indonesia pada 17-18 Juni 2026 memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%.

Sejalan dengan keputusan tersebut, suku bunga Deposit Facility juga naik 25 basis poin menjadi 4,75%, sementara suku bunga Lending Facility naik 25 basis poin menjadi 6,50%.

"RDG BI pada 17-18 Juni 2026 memutuskan untuk menaikkan BI Rate 25 bps menjadi 5,75%," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Kamis (18/6/2026).

Kenaikan ini menjadi langkah lanjutan BI untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Selain itu, kebijakan tersebut juga menjadi langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah.

Pada RDG Bulanan Mei 2026, BI lebih dulu menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin. Kemudian pada RDG Mingguan pekan lalu, BI kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Kini, BI kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%. Total BI sudah menaikkan BI-Rate sebesar 100 bps dalam sebulan terakhir.

Keputusan BI kali ini sejalan dengan polling CNBC Indonesia. Dari 14 institusi yang dihubungi, delapan memperkirakan BI Rate akan naik 25 basis poin menjadi 5,75%.

Sementara di pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik ke 6,968% kemarin Kamis (18/6/2026), dari hari sebelumnya yang ditutup di 6,91%.


Menguatnya imbal hasil ini mengindikasikan bahwa investor mulai menjual obligasi tersebut sehingga harga turun.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |