2,2 Juta Anak RI Alami Tekanan Darah Tinggi, Apa Penyebabnya?

9 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan sebanyak 2,21 juta anak usia sekolah dan remaja mengalami tekanan darah di atas normal berdasarkan hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga 31 Juli 2026. Temuan tersebut menjadi masalah kesehatan terbanyak kedua setelah gigi karies pada kelompok usia tersebut.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi mengatakan, tingginya kasus tekanan darah di atas normal pada anak tidak terlepas dari pola konsumsi yang masih didominasi makanan dan minuman manis serta makanan tinggi garam. Di sisi lain, konsumsi sayur dan buah masih sangat rendah, sementara aktivitas fisik anak juga belum optimal.

"Jadi kebugaran kita masih kurang pada anak-anak, kemudian juga pola makan," kata Maria dalam media briefing Cek Kesehatan Gratis di Jakarta, Selasa (4/8/2026).

Ia mengutip hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) yang menunjukkan sekitar 50% anak Indonesia gemar mengonsumsi makanan atau minuman manis. Selain itu, sekitar 40% anak menyukai makanan gurih atau asin, sedangkan sekitar 95% anak masih kurang mengonsumsi sayuran.

Maria bilang, kebiasaan tersebut perlu segera diperbaiki agar tidak meningkatkan risiko penyakit tidak menular sejak usia dini.

"Jadi dari sisi pola makan memang harus diperbaiki, dari sisi kebugaran, aktivitas fisik juga harus diperbaiki," ujarnya.

Berdasarkan paparan Kemenkes, hingga 31 Juli 2026 sebanyak 14,64 juta anak usia sekolah dan remaja telah mengikuti Program Cek Kesehatan Gratis. Dari jumlah tersebut, masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah gigi karies sebanyak 3.862.807 kasus, disusul peningkatan tekanan darah sebanyak 2.213.028 kasus, gizi kurang 441.017 kasus, gangguan penglihatan 243.412 kasus, dan anemia 166.858 kasus.

Secara keseluruhan, Program Cek Kesehatan Gratis telah menjangkau sekitar 73,8 juta peserta dari berbagai kelompok usia sepanjang 1 Januari hingga 31 Juli 2026. Rinciannya meliputi 1,5 juta bayi baru lahir, 4,56 juta balita dan anak prasekolah, 14,64 juta anak usia sekolah dan remaja, 43,77 juta orang dewasa, serta 9,72 juta lansia.

Dalam kelompok balita dan prasekolah, masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah gigi karies sebanyak 796.314 kasus, diikuti riwayat imunisasi yang belum lengkap sebanyak 191.904 kasus, gizi kurang 146.233 kasus, dugaan tuberkulosis (TB) 13.344 kasus, dan anemia 7.156 kasus. Sementara pada bayi baru lahir, temuan terbanyak adalah berat badan lahir sangat rendah sebanyak 43.724 kasus serta risiko penyakit jantung bawaan kritis sebanyak 27.236 kasus.

Adapun pada kelompok dewasa dan lansia, Kemenkes menemukan aktivitas fisik yang kurang masih menjadi masalah kesehatan paling dominan. Pada kelompok dewasa, kondisi ini ditemukan pada lebih dari 16 juta orang, sedangkan pada lansia mencapai hampir 3,94 juta orang. Selain itu, obesitas sentral, prehipertensi, hingga pradiabetes juga menjadi temuan utama dalam skrining kesehatan nasional tersebut.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |