Lucky Leonard Leatemia & Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
16 August 2026 12:00
Jakarta, CNBC Indonesia- Gangguan pasokan minyak dunia mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya pada Maret 2026. Penutupan Selat Hormuz menghilangkan sekitar 10,1 juta barel minyak per hari dari pasar global. Angka tersebut menjadi gangguan pasokan minyak terbesar yang pernah tercatat, menurut data International Energy Agency (IEA) yang dikutip dalam World Bank Commodity Markets Outlook.
Besarnya dampak itu jauh melampaui krisis energi besar yang pernah terjadi dalam lima dekade terakhir. Revolusi Iran pada 1978-1979, yang selama ini menjadi acuan gangguan pasokan terbesar, mengurangi produksi minyak dunia sekitar 5,6 juta barel per hari. Dengan kata lain, gangguan di Selat Hormuz pada Maret 2026 lebih besar sekitar 4,5 juta barel per hari atau hampir 80%.
Selat Hormuz memiliki posisi yang sangat penting dalam sistem energi global. Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dari Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, hingga Iran. Sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut sehingga gangguan pelayaran langsung memukul pasokan global.
Melansir World Bank Commodity Markets Outlook yang mengutip IEA, penurunan pasokan terjadi setelah lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz hampir berhenti akibat meningkatnya konflik di kawasan. Berkurangnya aktivitas pengiriman membuat sejumlah negara produsen Teluk memangkas produksi karena keterbatasan jalur ekspor. Selama hambatan pelayaran masih berlangsung, risiko terhadap pasokan minyak dunia tetap tinggi.
Sebelum peristiwa tersebut, Revolusi Iran merupakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah modern. Produksi minyak Iran turun tajam selama periode November 1978 hingga April 1979 sehingga menghilangkan sekitar 5,6 juta barel per hari dari pasar internasional. Krisis tersebut menjadi salah satu penyebab lonjakan harga minyak global pada akhir dekade 1970-an.
Embargo minyak Arab pada 1973 juga menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah energi dunia. Negara-negara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Arab (OAPEC) membatasi ekspor minyak ke sejumlah negara Barat. Pasokan global berkurang sekitar 4,3 juta barel per hari selama Oktober 1973 hingga Maret 1974. Krisis tersebut mendorong harga minyak melonjak hampir empat kali lipat dan memicu kebijakan penghematan energi di berbagai negara. Peristiwa itu kemudian menjadi salah satu alasan dibentuknya International Energy Agency (IEA).
Gangguan dengan skala yang sama kembali terjadi ketika Irak menginvasi Kuwait pada Agustus 1990. Produksi dari dua negara produsen utama di Teluk Persia terganggu sehingga pasokan minyak dunia menyusut sekitar 4,3 juta barel per hari. Harga minyak internasional melonjak tajam hanya dalam hitungan hari karena pasar mengantisipasi kekurangan pasokan.
Perang Iran-Irak pada awal dekade 1980-an juga memberikan tekanan besar terhadap pasar energi. Konflik tersebut mengurangi pasokan sekitar 4,1 juta barel per hari antara Oktober 1980 hingga Januari 1981.
Memasuki era 2000-an, skala gangguan pasokan cenderung lebih kecil dibandingkan krisis pada dekade sebelumnya. Invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003 memangkas pasokan sekitar 2,3 juta barel per hari. Sementara perang saudara di Libya pada 2011 menghilangkan sekitar 1,5 juta barel per hari dari pasar global.
Data IEA memperlihatkan lima dari tujuh gangguan pasokan terbesar dalam sejarah berasal dari kawasan Timur Tengah. Konsentrasi produksi minyak dunia di wilayah tersebut membuat konflik geopolitik memiliki dampak langsung terhadap keseimbangan pasokan global. Penutupan Selat Hormuz pada 2026 menjadi peristiwa pertama yang mendorong kehilangan pasokan melampaui 10 juta barel per hari sehingga menjadi rekor baru dalam sejarah pasar minyak dunia.
CNBC Indonesia Research
(emb)


















































